Apakah kalian pernah mendapatkan suatu pertanyaan seperti ini: “Kamu sampai sekarang kok masih sendiri? Kamu terlalu pilih-pilih sih. Jadi orang itu biasa saja. Jangan jadi orang yang terlalu bisa apa saja.” Jika pernah, berarti kita tidak sendiri. Dalam hati aku bertanya-tanya, aku ya biasa saja orangnya. Memang untuk sesuatu apalagi soal mimpi, memang juaranya dalam berjuang. Meskipun tidak semua perjuangan berakhir dengan kemenangan, setidaknya diriku pernah berjuang.

Memiliki talenta yang tidak sembarang wanita miliki terkadang bisa bikin bumerang sendiri. Dalam hati berpikir: “Memang kenapa, apa salahnya? Toh ini juga untuk bekal kalau sudah berkeluarga apalagi punya anak nanti.” Lalu kenapa semua ini dikait-kaitkan dengan persoalan mendapatkan pasangan? Rasanya tak adil saja jika hanya dari sudut pandang sempit saja yang diutamakan.

Advertisement

Kenyataan pernah memiliki pasangan namun akhirnya berakhir sendiri sudah pernah ku lalui. Bahkan sampai sekarang justru dia masih mencari gara-gara padahal sudah 2 tahun lebih berpisah. Dia yang meninggalkanku tapi aku yang dijadikan penyebab masalahnya. Dan yang tak habis pikir, dia cerita ke teman-temanku dengan format yang berbeda-beda pula, seakan-akan akulah yang paling bersalah. Padahal sebenarnya tidak seperti itu.

Justru mendengar aku putus dengannya, teman-temanku sangat bahagia dan bersyukur aku tidak jatuh ke lubang yang salah. Entah mungkin dulu karena dibutakan cinta, sampai tidak bisa melihat dari awalnya. Mungkin juga ini penyebab aku masih takut untuk terluka lagi. Dan masih sendiri sampai tahun ini.

Mencoba kembali membuka hati untuk orang lain, namun ternyata dia-nya sukar untuk didekati. Menjadi pengagumnya bertahun-tahun justru akhirnya terdapati sebentar lagi dia akan menikah. Mencoba membuka hati lagi untuk orang baru lagi, tapi tak tahu apakah dia sudah tahu akan maksud hati ini, hingga akhirnya dia memilih menghindari diri ini.

Advertisement

Ada yang datang, mencoba mengenal tapi akhirnya tak ada kabar. Hilang. Ada lagi beberapa yang hanya sampai pada batas chatting singkat karena dariku sendiri tak ada maksud untuk tetap meneruskan perkenalan. Ada pula yang memang benar-benar dari dulu masih berjuang, tapi diriku sendiri belum bisa menerimanya.

Jadi siapakah disini yang benar-benar disalahkan? Sedangkan sebenarnya sudah ada yang datang dan memberikan segala perhatian, tapi kenapa hati ini tidak bisa?

Pernah suatu kali ada teman berkata padaku: “Lebih baik mencintai orang yang mencintaimu kak. Daripada sampai sekarang kakak berjuang sendiri untuk seseorang yang hatinya tidak untuk kakak.” Entahlah, kenyataannya sampai sekarang hati ini masih berharap pada seseorang yang hatinya entah untuk siapa.

Dalam doa-doaku aku selalu bertanya kepada Tuhan, jika memang salah satu dari mereka atau ada seseorang yang entah siapa, biarlah itu memang dari kehendak-Mu. Bukan karena ketidaksabaranku. Karena sampai sekarang ini jika aku yang memilih justru aku yang kecewa berulang-ulang kali.

Sebenarnya target untuk menikah sih ada, entah 2 atau 3 tahun lagi, intinya dibawah usia 30 tahun lah. Tapi balik lagi apakah menikah karena terburu usia yang semakin bertambah? Sedangkan menikah adalah perjalanan seumur hidup berdua. Bukan untuk setahun atau 5 tahun saja. Ada banyak hal yang harus dipikirkan berdua nantinya. Jadinya untuk partner seumur hidup ini bukanlah soal main-main.

Jika saat ini aku juga kamu masih merasakan patah hati berkali-kali, percaya saja ini untuk kebaikan kita nanti. Kita ini adalah ciptaan Tuhan paling sempurna dibumi ini, dengan keahlian sendiri-sendiri. Masakan Tuhan tega membiarkan kita terluka kalau tidak untuk dipertemukan dengan yang lebih baik?

Ayah serta ibu kita juga akhirnya berjodoh satu sama lain kan? Pastinya mereka dulu seperti kita. Memiliki kekhawatiran yang berlebih soal pasang hidup, meskipun tidak dengan drama yang berkepanjangan seperti halnya kita. Bagiku sendiri kualitas diri seseorang adalah pencapaian dari perjuangannya sampai sekarang ini. Yang tak ternilai harganya. Untuk yang diimpikan bahkan dicita-citakan saja sampai seperti ini perjuangannya. Apalagi untuk pasangan hidup nanti?

Jadi bagi diriku sendiri, aku tidak akan berhenti mengejar satu per satu impianku. Apa yang aku miliki saat ini adalah talenta dari Tuhan yang memang selayaknya harus dikembangkan.

Untukmu seseorang nanti yang akan jadi pendamping hidupku, aku akan tetap mengusahakan segala cita dan impian ini untuk keluarga kita nanti. Aku percaya, kaupun seseorang itu, entah siapa, akan mendukungku. Dan kita memulai semuanya karena kita percaya kita berjodoh karena Tuhanlah yang menentukan. Bukan karena cinta sesaat.

Terima kasih untuk kalian yang pernah hadir dan mematahkan. Karena nantinya dari patah ini, aku tidak akan hidup dalam penyesalan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya