​Pada tanggal 31 Desember 2015, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) resmi diberlakukan. Dengan adanya MEA, saingan kita tidak hanya dari dalam negeri, tetapi dari negara tetangga juga. Untuk itu, kita pun harus berkaca pada diri sendiri, apakah generasi muda seperti kita sudah mempersiapkannya dengan baik? Nah, penasaran dengan persiapannya? Yuk kita simak!

Mempelajari bahasa asing

Mempelajari bahasa asing merupakan salah satu bekal yang sangat penting di era globalisasi saat ini. Dengan mempelajari bahasa asing, akan membantu kita dalam hal berkomunikasi, mengasah keterampilan dan kognitifitas, meningkatkan nilai jual kita dan sebagainya.

“Belajar bahasa inggris, mengasah kemampuan yang dimiliki, serta banyak belajar agar dapat bersaing dengan negara negara asean. Karena setelah lulus untuk mencari kerja kita sudah bersaing dengan MEA maka yang harus dilakukan meningkatkan kemampuan, mempelajari beberapa bahasa asing, banyak membaca, memperbanyak link, berdoa dan berusaha” – Dea, Mahasiswi

Mengasah kemampuan lebih dalam di jurusan yang ditekuni

Dengan mengasah skill yang kita miliki, akan membantu kita menjadi lebih terampil di dunia kerja nanti. Jika semua generasi muda meningkatkan skill di bidang yang mereka tekuni, tentu saja SDM yang berkualitas di negeri ini akan bermunculan dan siap bersaing.

Advertisement

“masyarakat ekonomi asean merupakan pasar bebas antara negara-negara ASEAN. Jadi, semua warna negara yang masuk dalam kawasan ASEAN dapat bekerja di negara ASEAN tanpa visa. Misalnya, dengan mudahnya warna negara Indonesia bekerja di negara Singapura. Otomatis ini juga meningkatkan daya saing dalam mencari pekerjaan. Dan juga memacu diri kita sendiri untuk bersaing dengan tenaga kerja asing. Kualitas dan kapasitas sangat diperlukan untuk menghadapi ini. Bukan hanya keterampilan dalam keahlian yang kita tekuni tapi juga keahlian dalam bahasa. Saya sendiri sebagai bagian dari MEA itu tentunya harus siap bersaing. Karena sekarang saya mahasiswa teknik sipil, tentunya kemampuan keteknik sipilan akan saya asah terus. Mencari dan mengembangkan apa yang saya sukai di teknik sipil, agar ilmu yang saya dapatkan dapat saya manfaatkan dan tidak terbuang sia-sia. Untuk komunikasi sendiri saya lebih memperbanyak menghafal vocab dengan cara menulis di blog atau di sosial media yang lain dengan menggunakan bahasa inggris dan juga membaca novel atau artikel yang berbahasa inggris.” – Ade, Mahasiswi

Berpikir Out of The Box

Terkadang normal itu membosankan. Demi bersaing dengan negara tetangga, tentu saja akademik, softskill dan skill yang kita miliki memang patut diperhitungkan. Tetapi dengan berpikir Out of the box akan menambah value dari diri kita dan akan menjadi pembeda diantara ribuan saingan lain.

“Karena MEA itu persaingan dari semua negara. Aku ngerasa pendidikan dan keterampilan aja gak cukup buat kita bersaing dengan negara lain. Gak bisa dipungkiri kalo masalah pendidikan, keterampilan dan etos kerja negara kita belum masuk di jajaran terdepan. Maka dari itu buat menghadapinya, aku nyari celah lain. Bisa dibilang aku nyari sesuatu yang bikin aku beda sama orang lain. Dan bikin aku istimewa ga sama yang lain. Aku belajar sipil sekarang, lulusan sipil pun bertebaran di indonesia, apalagi dipersaingan MEA. Jadi aku nyari cara lain yg bisa bikin aku beda sama lulusan lain. Salah satu nya aku ingin ngembangin bakat aku tentang kesipilan tapi dibidang yang lain. Misalnya aku suka banget presentasi didepan umum, jadi aku berlatih buat jadi publik speaking dan belajar bahasa asing sebanyak mungkin. Biar bisa jadi spesialis nanti di bidang presentasi didepan owner menjelaskan tentang konstruksi terbaru atau lainnya. Nah aku juga suka desain, dan kedepannya aku pengen jadi spesialis bikin animasi atau spesialis video untuk memasarkan produk-produk ketekniksipilan atau semacam video animasi metode pelaksaan terbaru dll..” – Salma, Mahasiswi

Memperluas Jaringan kerja

Salah satu upaya kita memperluas jaringan kerja adalah memperbanyak kenalan, mengikuti komunitas dan membangun hubungan yang baik dengan semua relasi. Karena semakin luas jaringan kerja, semakin besar pula peluang kita untuk mengembangkan usaha dan karir yang kita bangun.

“Pertama saya akan perbanyak jaringan di dunia kerja/bidang lainnya, kedua Saya harus mendalami bidang saya untuk menjadi pengalaman supaya dapat sertifikasi yg bisa dipake dalam AEC ini, ketiga Saya harus menguasai bahasa inggris baik toefl atau ielts” – Bagus, Lulusan 2013

Lebih giat belajar demi meningkatkan nilai akademik

Tak dapat dipungkiri lagi, nilai akademik yaitu IPK menjadi modal awal dan kunci utama yang kita miliki demi bersaing dengan negara tetangga. Memang banyak yang beranggapan IPK tinggi belum tentu akan menjadi orang yang sukses di masa depan. Tetapi IPK adalah bentuk tanggung jawab mahasiswa/mahasiswi dalam menuntut ilmu.

"Kita kan belum menjadi pekerja jadi beberapa hal yang masih bisa kita siap kan untuk menghadapi MEA diantara nya memantau terus perkembangan MEA, disamping itu kita juga harus meningkatkan akademik kita karena tidak dipungkiri juga bahwa akademik merupakan salah satu syarat untuk bisa bersaing dengan pekerja lain nanti di dunia pekerjaan apalagi setelah adanya MEA saingannya menjadi banyak. Kemudian jangan lupa juga untuk belajar bahasa asing, karena bisa saja nanti kita bekerja di luar negeri, lalu manfaat kan media sosial untuk berteman dengan orang asing dari berbagai negara, disamping mengimprove bahasa kita dalam berkomunikasi hal ini juga bisa sebagai penambahan link atau relasi supaya kita mudah apabila bekerja di luar negeri" –Risman, Mahasiswa

“Kalau persiapan yang pasti, mungkin belum terlalu, tetapi jadi lebih sering mencari tau dan belajar untuk persiapan di dunia kerja nanti. Jadi disiapin itu untuk menghadapi MEA nya pada saat dunia kerjanya kalau sebagai mahasiswa masih belum dan masih bingung apa yang harus dilakukan.” –Maulida, Mahasiswi

“Persiapan menghadapi MEA, karena masih kuliah pasinya belajar lebih giat lagi agar kita tidak kalah dengan bangsa lain, tapi selain belajar yang harus dimiliki yaitu attitude (Rendah hati) lahir dari kesadaran bahwa “masih ada langit, di atas langit”. Kita masih terus harus belajar. Banyak orang hebat, di atas kita.” –Wiwit, Mahasiswi

Belum mempersiapkan apapun. Tapi….

“Sejujurnya sih belum punya bnyak bekal apa-apa rasanya, masih merasa hidup dan beraktivitas sperti biasanya. Cuman rasanya saya terpacu untuk lebih giat belajar bahasa asing terutama bahasa inggris, karena modal awal bersaing dengan negara lain adalah lewat komunikasi dan mengerti bahasanya. Warga negara orang lain juga akan lebih menghargai kita, karena kita mau untuk mempelajari bahasa mereka walaupun sedikit” –Nova, Mahasiswi

“Unfortunately enggak siapin apa-apa, cari pekerjaan jadi banyak saingan se-Asean, its no big deal, tinggal salurin minat bakat kamu dipekerjaan yg sesuai, mantapkan diri jadi diri sendiri udah cukup, kalo misalnya like bahasa dll itu nilai plus aja, tp kalo misalnya pas-pasan, tinggal nilai lebih kamu aja dilebih-lebihkan” –Salim, Alumni tahun 2013.

“Belum siap. Langkah selanjutnya? Matengin ilmu yg sekarang lg dipelajarin. Sama matengin lagi kemampuan berbahasa sama komputer” –Regyna, Mahasiswi

Nah, itulah salah satu dari sekian hal yang dipersiapkan oleh generasi muda kita. Bagaimana denganmu? Apa yang sudah kamu persiapkan? Di awal tahun 2016 ini masih banyak waktu yang dapat kita lakukan. Hal yang terpenting adalah jangan menganggap hal ini sebuah ancaman, tetapi jadikan acuan untuk memantaskan diri dan menjadi SDM yang mampu bersaing. Serta tidak lupa juga sosialisasikan hal ini kepada masyarakat sekitar, beri informasi tentang pengertian, dampak dan solusi kedepannya tentang MEA. Agar kita semua lebih siap dan berjalan beriringan dengan penuh percaya diri menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean.