Liburan di tengah kesibukan. Sebagai mahasiswa cukup memiliki banyak kesibukan kali ini aku berniat untuk merealisasikan keinginanku. Sejak duduk di bangku SMA aku mempunyai keinginan untuk mendaki. Namun, baru kali ini aku mendapat kesempatan untuk mewujudkannya. Pada 3 Desember 2017 tepat tengah malam kurang lebih pukul 00.00 kami berangkat menggunakan 2 sepeda motor menuju ke Gunung Ijen.

Tujuan utamaku ke Gunung Ijen adalah untuk menyaksikan tarian indah dari blue fire, api abadi yang hanya terdapat 2 di dunia. Dibutuhkan waktu kurang lebih 1,5 jam dari rumah menuju ke tempat pendakian. Namun perjalanan tak selalu tentang menyenangkan. Di pertengahan perjalanan aku terpisah dengan Ofi dan mas Dika, teman mendaki ke Gunung Ijen.

Advertisement

Tempat menuju Gunung Ijen tidaklah mudah, jalan berkelok-kelok, menanjak, dan melewati hutan yang sangat gelap dan cukup mencekam pada malam hari. Dengan sangat terpaksa aku harus melewati sepanjang jalan itu dengan hanya ditemani oleh sorotan cahaya dari lampu motor. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan selain berdoa agar cepat sampai di tempat tujuan dengan cepat.

Setelah sampai di tempat pendakian, aku berdoa agar Ofi dan mas Dika bisa menemukanku di tengah keramaian dan pada waktu itu kebetulan handphone dan dompetku berada di dalam tas Ofi. Pertolongan memang datang secara tak terduga.

Di sana aku dipertemukan oleh malaikat berwujud manusia. Namanya Naura dan Ujan. Mereka menolongku dengan membelikan tiket dan mengajakku mendaki bersama apabila aku tidak menemukan Ofi dan mas Dika. Setelah menunggu beberapa jam dan tidak juga bertemu aku memutuskan untuk ikut bersama mereka. Namun setelah aku beranjak dari loket tiket tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku.

Advertisement

Betapa leganya ternyata mas Dika berhasil menemukanku. Akhirnya mas Dika menceritakan apa yang terjadi tadi, ternyata tadi mereka berhenti di tengah perjalanan dikarenakan Ofi sesak nafas. Udara dingin yang cukup menusuk membuat Ofi berubah pikiran dan kemudian memutuskan untuk turun di pos pertama.

Pukul 02.00 dini hari aku dan mas Dika memulai pendakian kami. Pendakian ini juga merupakan pengalaman baruku karena sebelumnya aku belum pernah mendaki. Pengalaman pertama ini aku berhasil menaklukkan Gunung Ijen berketinggian 2.443 m dengan waktu 2 jam pendakian dengan berkali-kali jatuh bangun, lumayan lah namanya juga pemula hehehe.

Hawa dingin dan aroma gas belerang yang menyengat tidak mematahkan semangatku untuk melihat blue fire. Tapi ternyata aku kurang beruntung, blue fire disembunyikan oleh tebalnya kabut pagi itu. Sedikit kecewa, namun keindahan datang pada sisi lain, yaitu kawah Ijen.

Indahnya kawah berwarna hijau tosca menyapa dengan cantiknya. Perlu diketahui bahwa danau kawah ijen merupakan danau air sangat asam yang terbesar di dunia. Seolah tidak percaya akan keindahan yang diberikan, membuatku sangat takjub melihat salah satu dari keajaibannya.

Setelah cukup puas menikmati kesejukan dan ketenangan suasana alam, kami pun turun melewati jalan yang sama. Saat perjalanan turun saya mengamati para penambang belerang. Penambang belerang kawah ijen, merupakan pekerjaan paling berbahaya di dunia. Setiap hari tanpa perlindungan, mereka menghirup asap beracun dengan memanggul keranjang bambu.

"Cuma 30 kg kok mbak, biasanya lebih" kata salah satu penambang belerang itu. Pundak tebal adalah sebutan yang cocok untuk mereka. Selain memangkul beban yang sangat berat, mereka juga harus meniti jalur berbatu yang cukup licin dan berbahaya. Perjalananku kali ini, bukan sekedar perjalanan biasa. Memang benar pengalaman itu penting. Karena tempat baru, orang-orang baru, selalu memberikan perspektif berbeda dalam hidup.

Adapun tips mendaki ke Gunung Ijen berdasarkan pengalamanku. Pertama, persiapkan fisik sebaik mungkin. Sudut kemiringan yang tajam di Gunung Ijen dapat membuat tubuh mudah lelah. Kedua, disarankan untuk membawa bekal secukupnya. Bagi pemula, pendakian ke Gunung iIen dapat membuat energi cukup terkuras.

Ketiga, gunakan jaket dan baju yang tebal. Di tempat ini udara terbilang cukup dingin, sehingga untuk menjaga tubuh agar tetap hangat diperlukan pakaian yang sesuai. Keempat, cari sepatu yang nyaman. Jalur pendakian cukup curam dan berkerikil, maka gunakan sepatu yang nyaman agar tidak tergelincir. Dan yang terakhir, nikmati perjalanan dan jangan lupa berdoa. Semoga bermanfaat!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya