Halo, saya akan membagikan sedikit pengalaman seru selama menginjakkan kaki di UK. Saat itu, saya berangkat dengan tim paduan suara di tempat saya berkuliah, yaitu Jinggaswara Itenas Choir. Tentunya perjalanan ini bukan dengan tujuan yang biasa. Saya dan Tim membawa misi dan mimpi yang akan kami berikan untuk Indonesia di UK.

Persiapan dan perjuangan yang tak mudah telah kami lakukan, mulai dari latihan bernyanyi yang super padat dan keras, menabung dan mencari dana kesana-kemari dengan berjualan setiap hari agar bisa berangkat, tak lupa dengan visa UK yang sudah kami miliki dengan segala upaya yang tidak mudah ( mungkin buat kalian yang pernah ke UK tahu bagaimana sulitnya ) serta semua itu kami persiapkan selama kurang lebih satu tahun.

Advertisement

Bulan Juli 2013, merupakan momen yang bersejarah karena akhirnya kami berhasil berangkat dan ikut serta dalam salah satu kompetisi musik tertua di dunia yaitu The 67th Llangollen International Musical Eisteddfod 2013 di kota Llangollen pada 9 – 14 Juli 2013, yang terletak di sebelah utara Wales, United Kingdom. Ajang internasional ini merupakan event musikal tahunan musim panas yang diselenggarakan pada bulan Juli setiap tahunnya.

Llangollen International Musical Eisteddfod 2013 diikuti 65 grup choir yang terdiri dari sekitar 3000 orang kompetitor dari 25 negara dan berkompetisi dalam lebih dari 20 kategori perlombaan choir, tari dan budaya. Tentu saja tidak mudah bagi kami untuk bisa mengikuti ajang tersebut karena harus mengikuti audisi terlebih dahulu. Tujuan kami ke UK tidak hanya berkompetisi untuk meraih mimpi kami meraih gelar juara, tetapi kami mempunyai misi, yaitu memperkenalkan budaya Indonesia melalui lagu dan tarian. Yuk, simak kisah perjalanan saya dan tim selama di UK.


Tidak pernah muncul di pikiran saya sebelumnya bahwa bisa menginjakkan kaki di United Kingdom.


Advertisement

Saya dan tim yang seluruhnya berjumlah 36 orang berangkat dari bandung pagi hari menuju bandar udara international Soekarno-Hatta dengan menggunakan bis. Kami berangkat menuju London Heathrow Airport dari Cengkareng sekitar jam 2 siang menuju kota Colombo, Srilanka untuk transit terlebih dahulu.

Kami sampai di Colombo sore dan menginap satu malam di Hotel. Keesokan harinya, kami berangkat kembali dari Bandar Udara International Bandaranaike, Colombo menuju London Heathrow Airport. Setelah mengudara kurang lebih 1 hari, akhirnya kami sampai di London.

Suasana siang di musim panas menyambut kedatangan kami di London, dengan segala barang yang kami bawa, kami segera keluar bandara menuju halte bis yang akan menjemput kami menuju kota Llangollen. Perjalanan dari London menuju kota Llangollen menghabiskan waktu kurang lebih 6 jam dengan kondisi jalanan yang lancar.

Selama di perjalanan saya ditemani pemandangan bukit, perkebunan, serta pemukiman dengan rumah-rumah khas Inggris. Rasanya ingin memejamkan mata saat itu karena fisik yang lelah setelah perjalanan namun melihat pemandangan selama di perjalanan membuat saya segar dan enggan untuk tidur di dalam Bis.


Pesona alam yang indah di kota Llangollen kami nikmati dengan cara yang berbeda.


Tak terasa 6 jam pun berlalu dan kami sampai di Kota Llangollen. Saya cukup kagum dengan kota kecil di utara UK ini karena bersih, tertata, rumah-rumah bertaman depan kecil dengan bunga-bunga yang beragam dan berwarna-warni,serta udara sejuk perbukitan menyambut kami. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Royal International Pavilion tempat dimana kami akan berjuang untuk berkompetisi, di sana kami tidak lama, kami hanya bertemu dengan pihak panitia yang akan membantu kegiatan kami selama di sana.

Selama di Llangollen kami tinggal di asrama mahasiswa Prifysgol Glyndwr Univeristy di Wrexham yang berjarak tidak jauh dari tempat kami berkompetisi. Fasilitas asrama tempat kami beristirahat terdapat 6 kamar dan 1 dapur di setiap lantainya dan hanya dapat diisi satu orang, di dalamnya terdapat satu tempat tidur berukuran single dengan nuansa putih, lemari, meja belajar lengkap dengan kursi yang nyaman serta 1 kamar mandi. Suasana di kampus ini sangat nyaman, arsitektur bangunannya di balut dengan dinding bata merah dengan dilengkapi fasilitas kampus yang komplit dan taman-taman cantik.

Saat kami di sana, bertepatan juga dengan bulan Ramadhan sekaligus menjadi momen yang berat untuk kami yang sebagian besar muslim karena biasanya di awal puasa kami selalu berkumpul dengan keluarga. Waktu solat dan buka puasa menyesuaikan dengan kondisi di sana. Karena musim panas, siang hari lebih lama, jadi jika kita mau puasa kita harus kuat menahan nafsu dan lapar selama kurang lebih 17 jam.

Saat pertama kali di sana, saya merasa aneh di waktu jam makan malam, karena makan dengan kondisi langit yang masih cerah, rasanya seperti makan malam di waktu jam makan siang. Untuk makanan dan minuman, tempat tinggal serta akomodasi selama di sana sudah diatur oleh pihak panitia.


Teriknya matahari di bulan Juli tidak menyurutkan semangat kami untuk memamerkan indahnya keanekaragaman pakaian adat Indonesia.


Kisah kami selama di Llangollen diawali dengan pawai sebagai acara pembuka Llangollen International Musical Eisteddfod 2013, kami semua berkeliling kota Llangollen ditemani dengan peserta-peserta lain dari berbagai penjuru dunia. Kostum yang kami pakai adalah kostum adat daerah Indonesia dari Sabang sampai Merauke dengan payet – payet yang berkilauan karena teriknya sinar matahari.

Kami juga membawa hiasan kipas Bali dan bendera Indonesia. Hal ini membuat kami menjadi peserta yang banyak menarik perhatian warga sekitar yang menonton karena rasa kagum. Saya merasa senang dengan antusias dan keramahan warga disana yang sebagian besar adalah orang tua. Tak lupa kami memberi lambaian tangan dengan sapaan sebagai rasa terima kasih.


Panggung kompetisi yang megah sekaligus menyeramkan harus kami naiki dengan semangat, doa dan usaha yang telah kami siapkan.


Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, hari dimana kami akan berkompetisi untuk ketiga kategori yang akan kami ikuti. Kami merupakan satu-satunya peserta dari Indonesia yang sekaligus menjadi beban berat untuk kami karena membawa nama Indonesia. Pesaing dari negara lain membuat kami sedikit cemas, karena rasanya pengalaman yang mereka miliki lebih baik dibanding kami, namun kami tetap harus semangat untuk tampil baik di depan penonton dan juri. Beberapa hari sebelum tampil, kami tidak lupa untuk berlatih pagi, siang dan malam ditemani pelatih kami yang tegas dan di siplin.

Panggung tempat kami berkompetisi bernuansa warna biru langit dengan dekorasi bunga-bunga cantik dan warna-warni sebagai latarnya dan juga lampu sorot yang akan menerangi penampilan kami. Hal ini membuat kami merasa lebih tenang dan siap untuk bernyanyi di panggung megah ini untuk mewakili Indonesia.

Tiga lagu telah kami bawakan untuk kategori Youth Choirs dan Mix Choirs dan dua lagu untuk kategori Folk song Choirs yang diselenggarakan selama tiga hari berturut-turut. Akhirnya pada setiap kategori, kami meraih gelar juara kedua dengan nilai rata-rata 90. Hal yang cukup menyesakan dada adalah kami memiliki perbedaan nilai yang sangat tipis untuk bisa meraih gelar juara pertama, namun kami tetap bersyukur atas kerja keras yang telah kami lakukan serta bisa membanggakan keluarga, almamater dan Indonesia.

Kalian juga bisa lihat penampilan kami saat berkompetisi, klik link dibawah ini ya !

Youth Choirs Catergory

Mixed Choirs Category

Folk song Choirs Category


Lagu dan tarian adat Indonesia adalah potensi yang kami bawa untuk menunjukan rasa cinta terhadap tanah air.


Selain berkompetisi kami juga mengadakan konser kecil untuk memperkenalkan budaya kami melalui lagu, tentunya dalam konser tersebut lagu yang kami bawakan sebagian besar adalah lagu adat Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang dibalut dengan tarian khas daerah sesuai lagunya masing-masing, tak lupa kami mengenakan kostum adat daerah Indonesia yang kami bawa.

Konser yang kami selenggarakan berada di Town Hall yang berada di pusat kota. Hal yang paling tidak bisa terlupakan adalah saat kami menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia, yaitu Indonesia Raya di awal acara, saya dan seluruh anggota tim yang bernyanyi saat itu merinding dan menangis haru karena bangga bisa menginjakkan kaki di kota ini dengan misi kami untuk mengenalkan budaya Indonesia.

Saya merasa jiwa nasionalisme memuncak dan sadar bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya. Untuk menambah keseruan konser, kami juga mengajak tamu yang hadir untuk menari dengan lagu Alusi Au, lagu khas suku batak dan juga kami memberi mereka cendera mata khas Indonesia.

Di waktu senggang, saya dan tim tak lupa untuk menikmati pesona alam yang ada di Llangollen dengan mengunjungi beberapa destinasi wisata, tentunya sangat menyesal jika tidak mengunjungi beberapa tempat ini. Kalau penasaran dengan tempat-tempat cantik di kota ini, kalian bisa lihat di artikel saya yang berjudul "Kota Kecil di Utara Wales, United Kingdom".


Seminggu penuh kami berada di kota kecil ini, segala misi dan mimpi sudah kami lakukan dengan baik.


Hari terakhir sebelum kami harus meninggalkan Llangollen dan pulang ke tanah air, kami mengunjungi rumah kerabat yang sudah membantu kami selama di sana. Mereka merupakan kaka beradik, Natalie dan Amie. Di sana kami di jamu dengan baik oleh keluarga dengan minuman dan cemilan yang mereka siapkan. Selain itu, kami juga memberikan sebuah penampilan dengan bernyanyi dan menari ( Kalian bisa lihat di sini ), serta memberi kenang-kenangan berupa kain Ulos sebagai rasa terima kasih kami.

Begitulah cerita singkat pengalaman saya selama seminggu di sana. Semoga suatu saat bisa berkunjung kembali dan akan saya bagikan kisahnya. Pengalaman dan kesempatan ini sangat berkesan bagi saya karena banyak sekali hal yang mungkin tidak semua orang bisa lakukan. Pengalaman bagaimana cara kita berjuang untuk mengharumkan nama Indonesia di dunia. Kebudayaan Indonesia itu sangat beragam, tugas kita sebagai pribumi adalah melestarikannya dengan cara apapun, tentunya dengan cara positif. Semoga berkenan dan menginspirasi. Terima Kasih.

#AyoKeUK #WTGB #OMGB

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya