Pilih-Pilih Teman atau Pasangan Memang Dianjurkan, tapi Sekalinya Dapat yang Cocok Kok Malah Ditinggalkan?

Sebenarnya tidak apa-apa berharap pada sesuatu. Tapi, berharap butuh logika

Sebagian besar aktivitas harianku dihabiskan untuk, kerja-nongkrong-rebahan.  Jadi perihal sendirian, mengurung diri dikamar, seperti saat menulis curhatan ini. Sudah jadi bumbu kehidupan. Bumbu-bumbu yang terkadang terasa pahit, kadang pula di butuhkan.

Sebenarnya seorang jomblo, mereka punya target, target kapan untuk punya pasangan. Senyaman-nyamannya mereka dalam ketengangan dan sendirian, seperti di lirik lagunya kunto aji sudah terlalu lama sendiri, sudah terlalu lama aku asik sendiri tetaplah membutuhkan kehadiran seorang sosok.

Advertisement

Seorang yang tak hanya jadi pasangan, melainkan teman, patner yang juga bisa di ajak kerjasama. Seperti kata bung fiersa “menjalin hubungan itu ibarat menjalin sebuah kerjasama. Kalau dia tidak bisa lagi diajak kerjasama, untuk apa di lanjutkan?”. Perihal prinsip mencari  pasangan, saya sepakat dengan pernyataan bung fiersa tersebut.

Meski aku sebelumnya aku pernah terjebak pada zona nyaman yang sebelumnya menggangapnya teman kemudian terbunuh oleh perasaan yang tak di ungkapkan. Tapi aku rasa, yang alah bukanlah sikap atau menggangpanya seperti apa, melainkan keputusan menjalaninya seperti apa dan tak terlalu terbawa perasaan kepada dia yang juga belu jelas apa yang di rasa. Jadi sekarang lebih memilih bertahan pada teman yang benar-benar di rasa cocok dan bukan hanya karena tuntutan kebutuhan atau merasa kesepian. Karena buang-buang waktu saja punya teman, tapi tidak cocok. Ujung-ujungnya hanya jadi teman sebatas kenal dan kemudian datang saat membutuhkan. Menyebalkan!.

Ada masa dimana pernah menjalin pertemanan dengan seorang wanita, kebanykan kepo dan sok-sok’an perhatian. Namun hal itu sekarang sudah basi, tak perlu lagi kepura-puraan, yang perlu hanyalah keterbukaan. Memang salah juga sih, dulu yang sok-sok’an jadi seorang yang diinginkan. Menjadikan dia wanita idaman dan meuwujudkan apa yang dia inginkan. Hingga pada akhirnya kedewasaan ini membuatku sadar, tak ada lagi istilah raja dan ratu. Aku suka kamu, maka akan kuberikan yang kau mau. Aku denganmu maka kau harus bahagia karenaku.

Advertisement

Sepertinya memang demikian, siapa kita sebenarnya, orang terdekatlah yang cepat memahaminya. Perubahan yang baik juga didukung oleh orang-orang sekitar yang memberi energi positif. “eh, tulisanku sudah benarkah? Tanda bacanya dan kalimatnya?. Aku senang kamu mau segera belajar, aku yakin, suatu saat entah kapan. Apa yang aku sampaikan akan berguna nantinya”. Sudah tak ada lagi tanda tanya (?) yang di ikuti spasi sebelumnya, efek dari ilmu bahasa yang dia punya dan itu ditularkan padaku. Terimakasih atas koreksi dan perhatiannya.

Sudah merasa cocok, nyambung, dan siap berteman. Namun kemudian aku di kejutkan bahwa dia akan pergi jauh untuk urusan pekerjaan. “Bulan depan aku akan berangkat lagi ke Bali. Aku sudah mempertimbangkan hal itu”.  Hahaha, lucu sekali sekenario Tuhan ini. Memberikan apa yang di inginkan hambaNya, kemudian menguji seberapa mampu untuk menjaga apa yang sudah di berikannya.

Pertemanan tanpa adanya kehadiran, hanyalah ilusi yang dapat memberikan hiburan sesaat. Sesingkat pesan whatsapp yang kemudian lupa dan tak terbalaskan. Hubungan terutama LDR seringkali berakhir karena salah persepsi, “seorang itu bukan butuh untuk di lengkapi, tapi di temani”. Maka dari itu LDR adlah sebuah ujian berat dan rawan akan perpisahan.

Aku pribadi selama menjalin suatu hubungan aku tak mengenal istilah ‘LDR’, yang ada hanyalah menjaga jarak. Meski memang LDR akan membuat orang lebih kuat menahan rindu, lebih dewasa untuk tetap setia, dan percaya pada pasangan yang jauh disana. Namun aku yang selalu butuh teman dan hidup yang terkadang membosankan. Kehadiranmu lebih penting dari pada saling percaya untuk tetap setia. Bukan berarti untuk memutuskan mengakhiri karena jarak ini nanti. Hanya saja mulai mengabaikan harapan yang sempat hadir.

Pada akhirnya aku serahkan semuanya pada Tuhan, agar Dia yang menjagamu, dan menguatkanku. Menjagamu untuk tetap sehat dan lekas kembali untuk kita bertemu. Menguatkanku untuk tetap tenang, menjalani hari-hari, meski diserang rindu. Aku saat ini tak berharap menemukan seseorang sepertimu. Aku berdoa saja, semoga kita tetap pada kemungkinan-kemungkinan baik yang di rencanakan Tuhan.

Dengan begini terbukti pula dan benar atas keputusanku untuk tidak cepat terbawa perasaan(BaPer) dan berekspektasi tinggi. Kembali lagi mengutip pernyataan bung fiersa besari “Ada dua macam manusia, yang dari awal sudah ngincer gue bakal suka sama dia. Tapi, saya tidak sepede itu, tapi saya lebih yakin sama orang ini ketika saya sudah akrab dengan dia”. Jadi, awali tanpa ekspektasi.

“Sebenarnya tidak apa-apa berharap pada sesuatu. Tapi, berharap butuh logika” kata bung Fiersa lagi. Finally, i will say to my self “we are is friend and im still want to see you. Entah kapan itu, let it flow.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Sebuah Karya Akan Membuatku Lebih Berharga.

CLOSE