Mendengar orang terdekat tersedu-sedu setelah putus cinta pasti kita semua pernah mengalaminya, bahkan tak sedikit dari kita yang menganggap mereka over acting, macam sudah berakhir saja hidupnya, apa kata dunia bos? namun stereotype terhadap kaum ‘hampa percintaan’ itu seakan menjadi sebuah ironi untuk kita sendiri setelah kita berada di posisi, keretakan hati, dan sedu-sedu yang sama.

Dan mungkin orang-orang diluar sana juga berempati sungguhan, pura-pura berempati dengan maksud kepo atau malah menganggap kita berlebihan macam tak ada makhluk lain di dunia ini yang berspesies manusia yang dinamakan pria, apalagi setelah flashback, mungkin banyak kenangan indah dari percintaan yang sudah berlalu itu, berubah menjadi manusia penjauh dan penakut, ya penjauh, penjauh tempat-tempat yang pernah kita datangi dahulu.

Advertisement

Entah itu tempat makan, tempat nongkrong, atau jangan-jangan lampu lalu lintas yang pernah kita jadikan pemberhentian saat berkendara bersama dengan si dia pun harus kita terobos saja menjauhi lagu yang pernah jadi lagu kebangsaan berdua, bahkan sampai hafal di durasi ke berapa lagu itu harus di skip, lantaran kita dituntut hati untuk menjadi manusia penjauh yang kemudian membentuk pribadi penakut, takut ingat lagi tentang dia,takut nangis lagi, takut galau lagi, takut nggak bisa move on secepatnya.

Setelah menjadi seorang penakut tadi, kita pun menjadi penanya kelas atas, kenapa sih kok aku sama dia nggak bareng lagi? Kenapa sih kok bisa gitu? Padahal aku udah kenal banget sama keluarga, teman-temannya juga? Padahal kami udah pacaran lima tahun? Macam kredit kendaraan atau rumah aja kan?

Eits, yang terakhir bukan pertanyaan tapi pernyataan. Setelah melewati tahap menjadi seorang penanya, kita menjadi seorang stalker ajaib. Memantau segala kegiatan seseorang yang kebanyakan orang Indonesia menyebutnya sang mantan, facebook, instagram, twitter menjadi sasaran empuk, bahkan saking keasikan stalking, tanda ‘love’ merah terbubuhkan mengalahkan kecepatan cahaya di instagram sang mantan, lalu mulai muncul harapan-harapan yang ‘dipaksa’ seperti sang mantan belum mendapat pengganti atau pahit-pahitnya kenyataan, kalaupun dia sudah punya pasangan, doanya semoga miliknya yang baru tak lebih rupawan dari saya ya Tuhan, Amin!

Advertisement

Oh no, jangan dengarkan doa yang seperti ini Tuhan, sekalipun pemohonnya adalah kaum yang pantas dikasihani. Lirih si cupid sambil menangkap doa dan lekas membuangnya.

Setelah semua yang telah terjadi mulai tak terasa asing lagi, kaum hampa percintaan masih belum selesai dengan segala kerumitan yang sebenarnya menjadi satu dari dua pilihan yang dihadapkan padanya, selayaknya kisah di pertelevisian tanah air tercinta kita, yang sebenarnya bisa lebih mudah kita mengerti namun sengaja diperpanjang, agar muncul season I, season II, dan banyak season lainnya, yang kita sendiri mungkin sudah lelah dan berletih ria bukan hanya untuk menontonnya tapi hanya sekedar mendengar soundtracknya. Itulah pilihan yang kita miliki setelah mencapai titik 70 persen move on, kok 70 persen? Kenapa nggak 99,9 persen, seperti iklan-iklan anti bakteri?

Hei, hati nggak bisa pake hitungan loh, loh terus kenapa bisa menyebut nominal 70 persen? Kita pukul rata aja ya, karena yang tadinya nangis sehari bisa tiga kali seperti jatah catering anak kostan, sekarang sudah satu kali sehari bahkan lupa nangis dalam sehari. Ok balik ke jalur yang sebenarnya, ada dua kaum yang bisa menjadi pilihan sang 70 persen mantan pasien hampa percintaan, first, kaum flashback, kaum yang belum bisa beranjak dari tempatnya dan berharap dia akan kembali ke masa, ke suasana, dan ke orang yang sama. Iya, masih disini bersama mantan yang pernah membuat matamu bengkak karena tersedu-sedu, ini tipikal orang yang gemar gerak jalan, gerakan jalan di tempat menjadi bagian favoritnya.

Second, ditempati oleh kaum visioner, kaum yang menganggap patah hati adalah hal yang biasa bagi manusia yang dengan rela dan tulus menjatuhkan hatinya pada seseorang yang membuatnya luluh lantak. Karena seperti kata kebanyakan orang yang mungkin telah mengalami fase ini lebih dulu, tiap orang yang siap jatuh hati harus berani patah hati, namun tidak boleh mengakhiri hidupnya.

Pembahasan berikutnya adalah kaum visioner, kaum yang mengupayakan bentuk 70 persen tadi menjadi utuh 100 persen seperti nyawa atau energi di sebuah game di dalam gadget seorang anak, jika nyawa itu complete bukan hanya bisa bermain dengan tenang, namun bisa meraih banyak kemenangan dan mencetak rekor terbaik dari rekor sebelumnya, begitupun dengan kehidupan para pejuang pengentas hampa percintaan ini, jika hati dan pikirannya sudah tenang, kehidupan normalnya berjalan baik, banyak hal baik yang bisa dia lakukan juga yang kemarin sempat tertunda dia lakukan, bahkan yang menjadi rewardnya adalah dia mendapat pasangan baru yang jauh lebih baik dan mungkin tak pernah dia bayangkan akan hadir di hidupnya yang kemungkinan besar bisa menjadi jodohnya, karena jodoh bukan karena lamanya pacaran, bukan karena dekatnya kita dengan keluarga dan orangtuanya, bukan karena "yaudahlah ini aja jodohku, malu sama orang-orang kalo putus", jodoh itu unik adanya.

Untuk mencapai semua yang kelihatan indah dan bagaikan mimpi manis untuk mereka yang memilih menjadi kaum visioner, ternyata masih banyak alur yang harus dilalui. Ini bukan sulap ataupun sihir yang langsung terjadi dalam sekejap mata, ini membutuhkan banyak keahlian, ahli kesabaran, ahli kerendahan hati, ahli pemaaf dan banyak keahlian lainnya. Karena bukan hanya sekedar ungkapan pria yang baik untuk wanita yang baik, ataupun sebaliknya, namun Tuhan pun berkata bahwa Dia telah menyiapkan pasangan, sebagai penolong bagi kita yang sepadan bagi kita, yang berarti akan menjadi pelengkap bagi segala kelemahan, kekurangan dan hal-hal yang konyol, dan aneh dari kita.

Lalu bagaimana supaya bisa merengkuh indanya itu semua? Yuk mari kita ubah sikap kita ke arah yang benar, segala playlist lagu galau dan percintaan di handphone yang kalian anggap untuk sementara waktu akan membuat cengeng lebih baik dihapus saja, mari berteman dengan kumpulan lagu yang memberi makna positif dan penuh semangat, lepaskan semua foto-foto dan pemberian keramat dari mantanmu, ganti kebiasaan stalking ‘ajaibmu’ dengan stalking berita politik, ekonomi dan teknologi terbaru yang dijamin ampuh membuatmu lebih pintar loh, tekuni hobi atau gabung dengan komunitas baru yang tak hanya memberi kesenangan untukmu namun juga bermanfaat bagi orang lain.

Memantaskan atau aku lebih suka bilang melayakkan diri adalah kata yang mudah diucapkan tanpa beribet atau terasa asing di lidah saat mengatakannya, namun sulit dalam melakukannya, apalagi jika terbentur dengan faktor “U” alias usia, terutama untuk kaum wanita. Banyak anggota keluarga dan orang diluaran sana, seperti sutradara yang mengatur lakon dan alur hidup kita, sudahlah nduk, kak, atau mbak, apalagi yang ditunggu? Kamu kan pernah gagal kemarin, jangan sampe ini gagal lagi, terima aja pria ini, masalah cinta urusan kesekian, toh keliatannya dia pria baik.” Wahai inang, mbok bapak, amang, namboru, bulek, bude, paman, amanguda, pakde bahkan oma-opa, mbah dan opung kami tercinta, yang mau menikahnya aku pun, yang menjalani kehidupan aku pun.

Aku sudah mendengar banyak bagaimana orang yang sudah lelah dan merasa pemberhentiannya telah tiba hingga memutuskan ke jenjang pernikahan, dengan orang yang bukan hanya dia belum kenal dengan baik namun dia sebenarnya nggak sreg, lalu muncullah cerita berikutnya yang mengakibatkan mereka berdua bercerai. Agoyamang, aku nggak mau seperti itu. Taupun aku usiaku sudah bertambah dan kalau mamakku selalu mengatakan waktu berjalan terus, akupun menjawab kalau nggak jalan berarti batterai jam nya mungkin mati mak (menjawab dalam hati saja karena takut dilempar batterai sama mamak).

Aku dan kalian harus tetap semangat dan berbuat yang baik, sehingga pencapaian kita yang ingin menjadi pribadi yang layak sehingga menjadi layak bagi orang yang sudah disiapkan untuk kita bisa terwujud, jangan terpengaruh dengan kata-kata mereka yang seolah tau segalanya tentang kalian, dan menjebak untuk secepatnya mengakhiri perjuangan kalian dan menurunkan standar kalian dari sedikit yang kemudian bisa saja jadi banyak karena kepentok si faktor “U” atau karena sekedar penyampaian kepada alam bawah sadar, udahlah Tuhan, aku capek nunggu, yang ini ajalah Tuhan walaupun kayaknya aku kurang cocok-cocok banget” si cupid berpura-pura tak mendengar doa sang finalis pejuang pengentas hampa percintaan. layakkan dirimu selayak-layaknya, cintai dirimu sebaik-baiknya, karena kamulah yang paling mengerti dirimu sendiri, jika dirimu saja kamu pahami, perlakukan dan cintai dengan baik, maka kamu pun bisa mempraktikkannya pada orang lain.

Selanjutnya kapan waktu itu akan tiba padamu itu menjadi rahasiaNYA saja, tapi yakinlah waktu dariNya tak pernah terlalu cepat, tak terlalu lama, Dia tak akan berlama lama, dan tak akan pernah sekalipun sengaja membuatmu sakit lebih dalam dengan orang yang salah. Dia akan mendengarkan detil pasangan sepadan yang kau ucap dalam doamu, yang kadang kau untai dengan airmata.

Gunakan kesendirianmu sebagai saat yang baik, untuk merefleksikan diri dan untuk melayakkan diri sebaik-baiknya, sampai penolongmu yang sepadan akan tiba, menjemputmu dan mengatakan bahwa perjuanganmu selama ini tak sia-sia, karena siapapun yang menabur dengan bercucuran airmata akan menuai hasil panennya dengan sukacita.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya