Dalam Stoasisme, dikenal dikotomi kendali, antara hal-hal yang bisa kita kendalikan dan hal-hal yang di luar kendali kita. Sayangnya, pacar kita termasuk yang berada di luar kendali. Kita tentunya tidak bisa mengontrol seseorang. Satu-satunya yang bisa kita kendalikan hanyalah reaksi kita terhadap sesuatu yang dilakukan orang tersebut. 

 

Advertisement

Ketika pacar tidak berkabar seharian biasanya pikiran kita dipenuhi prasangka dan berujung pada emosi negatif. Kita mungkin berpikir bahwa pacar kita sudah tidak cinta atau mungkin dia selingkuh sehingga tidak mengabari seharian. Padahal bisa jadi pacar kita sedang terdampar di pulau terpencil yang tidak ada jaringan seluler, bisa jadi. Atau mungkin hpnya jatuh kecebur sayur asem. Hehehe apa salahnya berpikiran positif. 

 

Padahal sebenarnya yang terjadi hanyalah pacar kita tidak berkabar seharian, sedangkan dia selingkuh dan tidak cinta lagi adalah interpretasi atau presepsi kita terhadap kejadian tidak berkabar tersebut. Kita menambahkan value judgment terhadap peristiwa tidak berkabarnya pacar. Setiap peristiwa selalu netral, tetapi kemudian menjadi “positif” dan “negatif” karena makna dan interpretasi yang kita berikan. 

Advertisement

 

Dalam Stoasisme, emosi negatif adalah hasil dari penggunaan nalar atau rasio yang keliru. Pada dasarnya semua emosi dipicu oleh penilaian, opini dan persepsi kita. Keduanya saling terkait, jika ada emosi negatif, sumbernya ya nalar atau rasio kita sendiri. 

 

Setelah tidak dikabari seharian, kita tentu akan marah-marah ke pacar. Marahnya kita ke pacar menurut ajaran Stoa dikarenakan oleh tersesatnya nalar. Emosi negatif adalah nalar yang tersesat. Menginterpretasikan bahwa pacar tidak berkabar seharian karena hpnya kecebur sayur asem adalah upaya memberikan value judgement positif terhadap peristiwa tersebut. 

 

Interpretasi ulang yang kita lakukan bukan sekedar menghindar/ngeles melainkan sama valid-nya dengan semua interpretasi negatif sebelumnya. Peristiwa pacar tidak berkabar seharian tetap tidak berubah, akan tetapi kita memiliki kendali atas “makna” atau value judgement apa yang hendak kita kenakan ke peristiwa tersebut. 

 

Dalam pacaran, kita sering mempermasalahkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan. Cenderung lebay hingga berujung pada baper, misalnya biasanya setiap malam telponan sama pacar, maklum LDR, namun suatu malam nggak sempat teleponan. Kita lebay, marah-marah, mewek, hingga berujung pada baper.

 

Filsafat Stoa memberikan beberapa pengamatan mengenai hidup untuk melawan fenomena lebay, di antaranya: 

 

Pertama, dengan mengingat betapa remehnya masalah kita jika dilihat dari jauh. Tanyakan kembali ke diri kita, apakah masalah pribadi kita sungguh-sungguh sebuah masalah besar bila dibandingkan dengan dunia dan seluruh kehidupannya?

 

Kedua, bahwa tidak ada yang sungguh-sungguh baru di kehidupan manusia. Semua kejadian yang kita alami dan amati dalam hidup pada dasarnya sudah pernah terjadi, sedang terjadi lagi dan masih akan terjadi. Hal-hal yang berkenaan dengan perasaan manusia seperti kecewa, patah hati, sedih dan lain-lain, telah dialami umat manusia selama ribuan tahun dan masih akan terus terjadi. Oleh karenanya dalam perspektif waktu, apakah hal-hal sepele dalam hidup perlu mendapatkan respon yang berlebihan? 

 

Ketiga, pada akhirnya semua akan terlupakan oleh waktu. Kita sendiri mungkin akan melupakan apa yang baru saja teradi, orang-orang lain juga akan melupakannya, dan mungkin dalam beberapa tahun kedepan semua akan terasa remeh dan biasa. 

 

Dengan menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar istimewa dengan peristiwa dalam kehidupan kita, baik dalam perspektif waktu dan juga seberapa pentingnya apa yang kita alami dibandingkan keseluruhan umat manusia dan hidup, maka jika kita rasional kita tidak perlu lebay di semua situasi. Termasuk nanti jika ditinggal pacar nikah sama yang lain. Huhuhu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya