[CERPEN] Menanti Cinta Bintang Bersama Para Bintang

Tentang sepucuk suratku yang kau buang...

Tentang sepucuk suratku yang kaubuang. Kau keliru Bintang. Asal kau tahu saja! Surat itu tetap ada di laci kamarmu.

Advertisement

Kau ibaratkan aku seperti sebuah debu, kau bilang aku hanya menghalangi pandangan matamu saja.

Meski setiap hari hanya kalimat-kalimat buruk yang kudengar dari mulutmu. Tapi aku tidak peduli, yang penting semesta sudah tahu bahwa aku mencintai dirimu. Dan akan tetap begitu. Selamanya.

Namaku Nadia Triani, sepanjang ingatanku, aku sudah menjadi gadis cuek yang suka menyendiri. Alasan itu yang membuatku butuh teman bisu untuk dijadikan pendengar yang baik. Jadi setiap kali malam datang, aku teramat senang memandangi bintang-bintang dan bercerita banyak hal kepada mereka. Orang gila. Begitu orang-orang menyebutku.

Advertisement

Kebetulan sekali, pria yang kusukai juga bernama Bintang. Dia pria yang memiliki senyuman semanis susu hangat di pagi hari. Bola matanya berwarna cokelat berhiaskan alis tebal yang membuatku semakin terpesona. Tetapi ketampanannya itu bukanlah alasan kenapa aku menyukai dia. Yang kutahu, aku hanya merasakan sesuatu yang tak dapat kujelaskan tatkala ia sedang berada dekat.

Aku sepenuhnya menyadari bahwa dia telah menjadi milik gadis bernama Mika. Dan aku akui dia itu memang gadis yang cantik. Ia punya bibir merah merona serta kaki jenjang mulus yang terlihat setiap kali ia mengenakan rok mini. Aku telah kalah olehnya bahkan sebelum aku menyadari tentang perasaanku ini.

Advertisement

Semua bermula ketika aku terjungkal ke dalam selokan bersama sepeda keranjang milikku di dekat gedung sekolah. Kala itu hanya ada Bintang, dan dia tertawa terpingkal-pingkal melihatku berselimut lumpur. Tak lama kemudian dia tersenyum seraya menyodorkan tangannya untuk membantuku. Aku suka caranya tertawa dan tersenyum. Duniaku seakan teralihkan. Sejak saat itu, apa pun yang dia lakukan tidak pernah lolos dari perhatianku.

Menurut hitunganku, setahun sudah aku memendam perasaanku dalam-dalam. Hingga pada suatu ketika, aku tak sengaja melihat Mika bersama seorang lelaki. Kuperhatikan, dia itu bukanlah Bintang. Tetapi aku betanya-tanya, kenapa gadis itu bercumbu rayu bersama orang lain? Ah rupanya dia telah selingkuh. Dari sanalah perjuanganku pun dimulai.

Dilema sempat mampir ke dalam batinku. Aku tak ingin menciptakan awan mendung di wajahnya. Akan tetapi, aku harus melakukan apa pun yang sekiranya baik untuk Bintang. Jadi kuadukan saja perselingkuhan Mika kepadanya. Sayang sekali, ia tak pernah mempercayai satu kata pun yang kuucapkan. Dari sana, dia mulai membenciku.

Hasratku akhirnya terlena untuk dapat memiliki dia. Jadi aku selalu meyakinkannya bahwa aku teramat menyayanginya serta menyuruh ia untuk segera meninggalkan Mika. Bahkan demi hal itu, aku rela menjelma menjadi wanita bodoh yang selalu memburu perhatiannya. Sudah kunyatakan aku cinta dia. Semua orang di sekolah pun mungkin sudah tahu. Aku tidak pernah merasa malu karena aku tidak pernah peduli pada bualan orang-orang. Bagiku yang terpenting adalah dia, dia, dan hanya dia. Bintang.

Setiap pagi aku datang ke rumahnya, mengajaknya berangkat ke sekolah bersama. Tentu saja dia menolak. Di depan mataku sendiri dia memboncengi Mika, lalu melesat meninggalkanku.

Setiap jam istirahat, aku mendatangi ruang kelasnya. Kuajak ia ke kantin bersama. Dia juga menolak, kemudian bergandengan tangan dengan gadisnya dan pergi.

Setiap sore, aku juga kerap mampir ke rumahnya. Tetapi ia selalu melakukan hal yang serupa. Yakni menolak dan meninggalkanku sendirian. Dan di setiap malam datang, aku sering kali mengendap-endap ke dalam rumahnya, memasuki kamarnya dan menunggu ia datang sembari memandangi langit ke luar jendela.

Saat ia membuka pintu, aku tersenyum menyambutnya. Sontak dia pun selalu terkejut. Ribuan bahkan jutaan kali, malam hariku selalu berakhir dengan terusir.

Hamparan rumput di taman kota selalu menjadi pelabuhan terakhirku untuk meredam rasa kecewa. Di sana aku bisa berpuas diri bercerita kepada bintang-bintang yang menghiasi angkasa. Kadang aku menari-nari bersama mereka.

Menggila, menanti Bintang bersama para bintang itu menyenangkan.

Saat-saat seperti itu selalu membuatku merasa damai, tidak pernah mengecewakan atau membuatku sedih. Sebab bintang yang ini memang bisu, mereka adalah pendengar-pendengarku yang baik, yang tidak pernah memprotes mengenai apa pun yang kulakukan.

Suatu hari, aku pernah mengungkapkan seluruh perasaanku lewat sepucuk surat, lalu kuletakan di dalam buku milik Bintang. Kemudian aku bersembunyi di balik pintu kelasnya untuk menunggu ia datang.

Kuintip ia. Tak berapa lama saat dia datang, dia langsung dapat menemukan surat itu. Ada seorang teman yang memberi tahunya. "Sepertinya itu surat dari Nadia.

Tadi aku melihatnya masuk." Katanya

Jangkankan dibalas, dibaca pun tidak. Bintang meremas secarik kertas putih itu dan membuangnya ke tempat sampah. Melihat hal tersebut membuat hatiku sangat hancur.

Sepulang sekolah, kupungut surat kusut itu dengan penuh kesedihan. Tetapi aku tidak kehabisan akal. Malam hari setelah itu, aku menerobos masuk ke dalam kamarnya dan memasukkan surat yang sama ke dalam laci putih yang terdapat di sana.

Kamu memang keliru Bintang. Secarik kertas manis itu akan tetap ada di dalam sana. Andai kaubuang lagi pun, akan kumasukan lagi sampai kau bersedia untuk membacanya.

Untung saja aku ini pintar bersembunyi. Keluarga Bintang tidak pernah menemukanku berada di rumah mereka, padahal hampir setiap malam aku berkunjung dan mengendap-endap seperti maling.

Saat aku melakukan itu, Bintang selalu menyemburkan badai. Dia menyeretku ke luar rumahnya melewati pintu belakang. Ia takut sekali jika keluarganya akan salah paham.

"Pergi dari sini. Dasar jalang." Bentaknya seraya menghempas tubuhku.

Tetapi sekali pun, aku tidak pernah tertarik untuk menyerah. Bukan hanya dia, bahkan mungkin seluruh alam pun sudah muak terhadap tingkahku ini.

Kadang-kadang aku pun merasa letih. Sama seperti saat ini, sudah dua malam kuputusan pergi ke taman kota untuk memandangi bintang-bintang tanpa mampir menengok pria yang kusukai itu. Selain para bintang, rembulan, langit malam, kegelapan, kesunyian, sepi, dan suara hewan-hewan malam adalah sahabat karibku. Mereka selalu setia menemani malamku dalam kepiluan.

Sering kali aku merenung di sana, meniti kesedihan seorang diri di tengah-tengah larutnya malam. Berharap di atas ketidakmungkinan itu rasanya menyakitkan.

Malam ini pun sama. Aku terlalu tenggelam menatap kilauan para bintang sampai-sampai tak terasa air mata telah membasahi pipiku. Aku sendiri sebenarnya sudah teramat lelah. Tapi guru bijak selalu berkata: tidak akan ada kekalahan sampai kita menyerah. Aku berniat mencobanya lagi esok hari.

Yang bisa kulakukan malam ini hanya menunggu ia datang di atas ketidakmungkinan yang nyata.

"Nadia…" panggil seseorang dari belakang.

Aku terkejut mendengar suara yang tak asing itu. Segera kuusap air mataku sampai benar-benar kering. Dan benar saja seperti dugaanku, ketika aku menoleh, Bintang berdiri tegak di ujung jalan. Bola matanya berbinar tajam. Aku mencoba memejamkan mata. Kupikir itu hanya bayangan semata, namun saat aku membuka mata dia masih saja ada disana.

Dia melangkah dan mendekat. Dia menatap mataku dan aku pun melakukan hal yang sama. Dan sekarang wajah kami pun berjarak sangat dekat. Seketika jatungku berdegup lebih cepat dari biasanya.

"Kamu benar Nad. Aku memang bodoh."

"Maksudnya?" Tanyaku tebatah karena gugup.

"Mika selingkuh. Bodoh sekali aku tidak mempercayaimu." Kata Bintang. "Omong-omong, sudah dua malam aku tidak menemukanmu di kamar saat aku pulang. Malam ini juga sama. Kenapa?"

"Kau mencariku?"

"Jujur saja, aku merasa hampa saat kamu tidak ada."

Perkataannya membuatku hampir berhenti bernafas seolah yang bicara denganku saat ini adalah seorang pangeran dari langit. Aku hanya terdiam menatap mata cokelatnya. Aku tak tahu apa yang mesti kuucapkan.

"Nad?" Panggilnya yang membuat lamunanku buyar seketika.

"Aku di sini Bi." kataku.

Dia tersenyum. Entah apa artinya itu, yang pasti dia benar-benar terlihat manis. Bau harum tubuhnya menyengat hidungku.

Dalam remang-remangnya kegelapan malam, Bintang perlahan terus mendekatkan wajahnya. Dia memegangi kepalaku dengan kedua tangan. Ya Tuhan, dia akan mencium bibirku. Apa yang harus aku lakukan? Aku sungguh gugup.

Saat kupejamkan mata, tiba-tiba seseorang berteriak dari kejauhan. Aku dan Bintang terkejut bukan main. Suasana romatis pun ambyar.

Seorang gadis mengoceh bahkan sebelum ia sampai menghampiri kami. Rupanya itu Mika.

"Keterlaluan. Jadi kau yang sudah mengadukanku pada Bintang." Ujarnya dalam nada tinggi.

"Apa yang mau kau lakukan?" Ujar Bintang menyahuti.

"Akan kubunuh kau." Teriak Mika kepadaku. Matanya melotot dan hampir keluar.

Aku merasa bingung. Aku tak tahu apa yang telah terjadi di antara mereka.

Mika menarik pergelangan tanganku seperti memperlakukan seekor kucing. Bintang sudah mencoba membantuku tapi dia tak punya cukup kuasa menahan amarah dari gadis itu. Berkali kali hingga Mika berhasil menyeretku ke jalan raya yang ramai dipadati kendaran.

"Apa yang ingin kamu lakukan kepadaku?" Lirihku sembari meronta supaya bisa lolos.

"Mika. Lepaskan dia." Kata Bintang untuk kesekian kalinya.

"Aku tidak pernah bergurau soal perkataanku. Akan kubunuh kau."

Dia terus mengancam akan membunuhku seraya menahanku erat. Sepertinya dia sedang menunggu mobil lewat dan akan mendorongku ke tengah jalan.

Bintang menarik gadis itu dariku. Tetapi berkali-kali terjatuh pun, dia bangkit dan kembali menerkam tubuhku. Jujur, aku ketakutan. Dia hampir menyerupai orang kesurupan.

Malang, Mika yang tengah ditahan Bintang mengangkat kakinya dan berhasil menendangku sampai aku tersungkur jauh dari sisi jalan. Di saat yang bersamaan, mobil hitam datang dan melaju cukup kencang.

"Aaaaaaa…." Teriakku.

Dapat kurasakan mobil itu menghantam tubuhku. Aku serasa melayang di atas udara dan bintang-bintang di langit terlihat sangat dekat. Tak lama kemudian, kepalaku terasa pecah membentur batas pinggir jalan.

Sekarang aku tak dapat merasakan tubuhku. Tetapi aku masih bisa mendengar gerombolan orang datang mendekat serta pria yang kucintai, Bintang. Wajahnya tampak cukup dekat.

"Nad, Nadia…" suara Bintang terdengar lirih.

"Nadia, aku minta maaf…" katanya lagi.

Itu adalah suara terakhir yang kudengar dari Bintang. Setelah itu aku sudah tak ingat apa-apa lagi.

Mataku yang sayup-sayup terbuka perlahan. Yang kudapati pertama kali adalah Mom, kemudian Dad, dan seorang dokter laki-laki.

"Bintang." Ucapku.

Kata itu adalah kata pertama yang terucap dari mulutku.

"Di mana Bintang?" Kataku lagi.

"Dia ada di luar sayang." Jawab Mom lembut.

"Aku ingin bertemu dengan Bintang, Mom."

Dad membopong tubuhku ke kursi roda dan mengajakku ke luar kamar. Mom juga ikut menemani.

Langkah kaki Dad dan Mom terhenti di koridor rumah sakit. Ada dua kaca besar di sana yang membuat mataku dapat melihat langit malam yang begitu mempesona. Ada pula kursi panjang yang tengah diduduki seorang pria.

"Kenapa berhenti?" Tanyaku.

Dad mengangkatku dari kursi roda dan membawaku duduk di atas kursi panjang itu tanpa mengatakan sepatah kata pun. Lalu Mom dan Dad pergi meninggalkanku. Aku pun kebingungan. Tubuhku juga terasa lemas sekali.

Pria di sampingku menoleh lalu menyapa. "Hi…" katanya.

"Bintang." Sahutku terkejut.

"Malam ini kamu cantik." Katanya lagi.

Aku menyeringai senang mendapati ia ada di depan mataku. Kupeluk ia erat meski untuk melakukan itu saja rasanya aku tak sanggup menggerakan tubuhku.

Hangat terasa membalut lukaku. Entah kenapa aku merasa benar-benar merindukannya. Kucium bau tubuhnya tidak pernah berubah. Wangi khas yang begitu aku suka.

Aku melepas pelukan dan kemudian kutatap kedua bola matanya. Senyumnya sedari tadi tak kunjung pudar. Dia tak lagi masam seperti dulu, yang dapat kulihat hanya rona bahagia yang terpancar jelas.

Namun tatapannya kosong. Dia tak membalas tatapanku. Aku pun mulai menyadari ada yang aneh padanya.

"Bintang?"

"Iya…" jawabnya, tetapi matanya menyorot ke arah jauh.

Aku melambai-lambai tangan di depan matanya. Tetapi ia seperti orang bodoh yang tetap diam sambil tersenyum tanpa merespon.

"Bintang, kamu kenapa?" Tanyaku heran.

"Aku bahagia." Jawabnya.

"Bintang, aku di sini." Kataku sembari terus melambaikan tangan.

Aku hampir menangis ketika ia sama sekali tak menggubrisku.

"Apa kau buta?"

Aku sudah menangis sebelum ia menjawab.

"Itu dulu. Sekarang tidak."

"Maksud kau?"

Derai air mataku semakin tak terkendali. Matanya memang sama sekali tak dapat melihatku.

"Dulu aku sungguh buta, Nad. Bagaimana bisa, aku tidak dapat melihatmu yang begitu dekat. Bahkan kau sedekat kulit dengan peluh. Tetapi aku memang buta." Ujarnya. "Sekarang tidak lagi. Sudah dapat kulihat dirimu. Gadis manis yang setiap malam membobol pintu kamarku." Tambahnya.

Aku sungguh terharu mendengar setiap kalimat yang diucapkannya. Sungguh berbanding jauh dari kalimat-kalimat Bintang yang terdahulu. Tapi dari mana kutipan itu ia dapat? Kutipan itu adalah milikku.

Aku memeluk ia kembali. Ia pun begitu.

"Kenapa mata kamu bisa buta?" Lirihku.

"Memangnya kenapa jika aku buta? Apa kau akan berhenti mencintaiku? Atau kau akan pergi meninggalkanku?"

Aku pun melepas pelukan untuk kedua kalinya.

"Aku telah menantikanmu begitu lama. Rasanya sudah seperti seratus tahun. Lalu kau pikir sekarang aku akan pergi?"

"Oh ya. Aku sudah menemukan sepucuk suratmu di laciku. Setiap kalimatnya sungguh indah. Aku sampai tak ingin berhenti membacanya."

Entah kenapa Tuhan baru menunjukan suratku itu sekarang. Tapi itu tak penting, karena dari dulu Bintang sudah biasa menebak perhial apa yang kutulis.


"Para bintang di langit. Sejak aku kecil, mereka adalah hal yang paling kusukai. Tapi sekarang mereka telah memiliki pesaing, yakni kamu. Aku jatuh cinta kepada setiap hal yang kau punya. Kepada pancaran matamu, kepada bibirmu yang merah muda itu, kepada wajahmu yang sulit kudefinisikan. Aku suka caramu menekan kata, aku juga suka bagaimana kau tertawa.

Semua itu indah. Tak peduli seberapa besar pun kau membenciku, dan bahkan aku tak peduli hingga jutaan kali engkau menolak. Aku akan tetap di sini. Dunia mungkin tidak suka. Bahkan semesta pun mungkin menolak. Tetapi sedekat kulit dengan peluhnya, sekali lagi, aku akan tetap di sini." Seperti itulah isi suratku.




"Seperti yang telah kutulis dalam secarik kertas itu. Meskipun cahaya matamu telah redup. Bintang adalah hal yang tetap menjadi kesukaanku. Aku akan tetap di sini." Kataku padanya.

Dia pun semakin memperlebar senyum dari bibirnya.

Dia mendekapku erat. Suasana nyaman dan rasa hangat menyelimuti tubuh dan jiwaku. Elusan tangannya terasa lembut membelai rambutku. Para bintang di luar pun ikut tersenyum menyaksikan cinta kami.

Keesokan harinya, Mom bercerita bahwa aku telah koma tiga bulan lamanya. Saat aku bangun, mataku buta akibat kepalaku terbentur sangat keras ketika aku tertabrak mobil malam itu. Dan orang yang pertama maju adalah Bintang. Dia langsung menawarkan matanya untuk ditukar dengan mata buta milikku.

Setelah berbagai pertibangan para dokter. Akhirnya, retina mata Bintang dipindahkan ke dalam bola mataku. Tapi setelah itu aku kembali mengalami koma selama dua minggu.

Kala itu aku juga sempat kehilangan sebagian ingatanku. Jadi aku tidak pernah ingat tentang kapan aku pernah buta. Yang kuingat saat aku bangun, Bintang telah buta. Tetapi hatinya telah terbuka lebar. Bahkan dia berkata bahwa dia akan memberikan seluruh hidupnya untukku.

Oh iya, tentang surat itu. Bintang bilang dia menemukannya sebelum kejadian malam itu terjadi. Itu sebabnya saat aku tak ada di dalam kamarnya, dia mencariku, dan kala itu dia menemukanku di taman kota.

Tuhan memang adil. Setiap malam aku mendatanginya. Dan ketika aku telah benar-benar letih menunggu ia menerimaku, dia justru datang sendiri kepadaku. Sejak malam hari itu cinta bersemayam di dalam lubuk hatinya.

Aku suka senja karena dia adalah isyarat bahwa bintang-bintang akan segera muncul. Dan dari dulu aku sangat membenci fajar. Sebab, jika dia sudah datang, dia selalu menelan sahabat-sahabatku. Para bintang tenggelam olehnya.

Namun semenjak pria manis itu hadir, kebencianku kepada fajar lenyap. Itu karena aku tetap bisa melihat bintang kapan pun aku mau. Entah itu siang ataupun malam. Dan di antara beribu bintang yang ada, bagiku dialah yang paling terang.

Bintang, aku mencintaimu. Detik ini hingga esok dan selamanya akan tetap begitu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Suka menulis cerita fiksi

CLOSE