Langit hari ini cerah, namun mataharinya tidak menyengat. Tidak seperti biasanya.

Udaranya juga cukup bersih dan kaupun datang tepat waktu. Tidak seperti biasanya.

Advertisement

Tempat pertemuan yang kau pilih juga sangat cantik, Tidak seperti biasanya.

Rupanya topik pembicaraan yang kau pilih juga tidak sama seperti biasanya. Tidak ada basa-basi dan opini yang tidak perlu sama sekali. Kali ini kau berbicara tentang bagaimana jika kita memulai untuk mengambil jalan masing-masing dengan arah yang tak lagi sama.

Katamu, itu bukanlah suatu pertanyaan. Namun lebih tepatnya suatu pernyataan yang harus kudengarkan lalu kusetujui. Kau tidak memberiku opsi untuk menolak ataupun mempertimbangkan.

Advertisement

Katamu,aku hanya perlu menyetujuinya agar kita bisa berakhir dengan cepat dan baik-baik.

Baiklah aku akan menerimanya agar segera berakhir cepat dan baik-baik. Agar aku dapat dengan cepat melupakanmu dan segera menemukan pria yang lebih baik.

Kini, sudah beberapa tahun berlalu. Aku berterimakasih kepadamu yang dulu memimta untuk mengakhiri terlebih dahulu. Karenamu, kini aku menemukan pria yang lebih baik. Akupun belajar untuk lebih menghargai perasaan seseorang dengan lebih baik. Seperti permintaanmu dulu yang ingin mengakhirinya dengan cepat, akupun berhasil melupakanmu cukup cepat, lebih cepat daripada dugaanku. Rupanya, luka dihatiku hatiku mampu memulihkan diri dengan lebih cepat berkat ucapanmu waktu itu.

Kuakui, dulu aku memang sempat patah dan menjadi begitu payah untuk bangkit dan berusaha meyakinkan hatiku bahwa aku baik-baik saja tanpamu. Namun, percayalah, kini rasanya sungguh mudah dan lebih membahagiakan hidup tanpamu. Suatu waktu kau perlu melihat langit dengan warna biru yang cerah, disaat itulah mungkin aku sedang merasakan hangat matahari yang panasnya tidak terlalu menyengat, aku akan melihat bunga bunga indah bermekaran, dan saat itu percayalah bahwa aku sudah berhasil melupakanmu.

Ketahuilah aku tidak pernah menaruh dendam dan benci kepadamu, aku telah menganggap tindakanmu hanya sebuah ranting kayu kering yang terbawa oleh aliran sungai yang mengalir dan bermuara di sebuah negeri antah brantah lalu lenyap dan terlupakan. Aku juga sudah memaafkanmu.

Terima kasih, karenamu, aku mampu untuk bangkit dari luka yang dulu teramat sakit.  Terima kasih sudah memberikanku pelajaran dengan perginya kamu dari hidupku. Aku bersyukur untuk itu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya