Pageant atau yang dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan sebutan kontes kecantikan kini semakin menjamur dan dikenal oleh masyarakat. Kontes ini identik dengan perempuan cantik bermahkota dan selempang kebanggaannya. Kontes Kecantikan pertama di dunia di selenggarakan pada tahun 1921, kontes kecantikan ini bernama Miss America yang memiliki tujuan menarik turis di Atlantic City. 

Beragam opini di utarakan oleh masyarakat termasuk opini negatif mengenai kontes ini. Namun nyatanya kontes kecantikan semacam Puteri Indonesia dan Miss Indonesia masih tetap di selenggarakan rutin setiap tahunnya. Tingginya antusiasme peserta menjadi salah satu alas an bertahannya kontes ini. Beragam alasan di kemukakan oleh pemenang maupun peserta kontes kecantikan ini.

Advertisement

Bercita-cita menjadi role model bagi para wanita

Sistem penilaian yang tidak hanya didasarkan pada penilaian fisik membuat para peserta kontes kecantikan memiliki motivasi untuk memperbaiki kualitas diri. Dilansir dalam rappler.com, Kezia Warrow Puteri Indonesia 2016, Dea Rizkita Puteri Indonesia Perdamaian 2017, dan Karina Nadila Puteri Indonesia Lingkungan 2017 juga menyatakan keinginan untuk menjadi beauty queen sudah ada sejak kecil karena melihat sosok Pemenang Kontes Kecantikan yang isnpiratif.

Sarana aktualisasi diri

Advertisement

Miss Indonesia 2017 Achintya Nilsen, perempuan kelahiran Bali, 1 Januari 1999 menjadi bersemangat dan akhirnya mendaftarkan diri di ajang Miss Indonesia 2017 setelah cari tahu lebih dalam mengenai Miss Indonesia dan kegiatan sosialnya. Kontes ini memberikan ruang bagi pesertanya untuk melakukan dan menginisiasi kegiatan sosial yang bermanfaat dan berdampak bagi masyarakat. Sehingga para peserta dapat menerapkan masing-masing keahliannya dengan cara yang positif.  

Alternatif karir

Banyak cara untuk mencapai kesuksesan, dan mengikuti kontes kecantikan merupakan salah satu pencapaian yang dapat menunjang kesuksesan tersebut bagi beberapa orang. Ketika di wawancarai oleh okezone.com, Dikna Faradiba Putri Pariwisata Indonesia 2015 menerangkan bahwa ia memiliki cita-cita menjadi seorang diplomat namun ia memutuskan untuk mengikuti Puteri Indonesia yang semula bukan menjadi minatnya.

Lambat laun Dikna mulai menikmati rasanya menjadi sosok putri yang menjadi pusat perhatian khalayak dan mengungkapkan bahwa tugas diplomasi yang sejak awal di cita-citakan dapat terlaksana ketika ia menjadi Puteri Pariwisata Indonesia yang mempromosikan Pariwisata Indonesia di kancah Internasional.

Dengan beragam alasan yang dikemukakan oleh para pihak yang terlibat langsung dalam kontes kecantikan inilah perlahan masyarakat mulai memandang sisi positif kontes kecantikan yang selama ini menjadi kontroversi. Transparansi poin penilaian dan objektifitas juri dalam melakukan penilaian juga menjadi salah satu poin yang di soroti oleh masyarakat untuk menilai kelayakan pelaksanaan kontes kecantikan

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya