Kenapa ‘caramel macchiato’ itu enak dan menjadi favorit banyak orang? Karena dia punya rasa pahit dan manis yang saling mengisi. Seperti itulah perbedaan. Ada untuk saling melengkapi, bukan mengeksploitasi.

Sebelum memutuskan untuk menjalin hubungan dengannya, terbersit dalam hatiku "Akankah hubungan ini bertahan lama atau hanya sebatas figuran belaka?" Mengingat banyaknya perbedaan di antara kami, "Bisakah aku dan dia menyikapinya dengan bijak?" Seperti hal-hal kecil berikut ini:

Dia yang lebih suka game dan aku yang lebih suka baca novel.

Aku bisa menghabiskan hari libur weekend hanya dengan membaca novel. Sedangkan bagi dia, kegiatan membaca 'buku yang tebal' adalah kegiatan yang paling mengerikan.

Horror versus romance.

“Kenapa sih suka banget nonton horor?” Dia menjawabnya dengan pertanyaan lagi, “Kenapa sih suka banget nonton romance?” Setelah itu, kami menertawakan betapa konyolnya pertanyaan tersebut.

For him, life without music is fine. But for me, of course not.

Advertisement

Pertama kali tahu kalau dia gak suka dengerin musik, yang terpikir dalam benakku adalah “Are you kidding me?” Mungkin dia adalah orang pertama dalam hidupku yang tidak menyukai musik. Ibuku aja suka dengerin lagu-lagu qosidah (itu juga musik kan? Hehe… ) Masa dia enggak ? Pernah suatu waktu dia bilang, “Aku heran deh sama temen kantor yang suka dengerin satu lagu sampe berulang-ulang. Apa enaknya coba?”. Dalam hati, “Kayaknya lebih aneh lagi itu kamu, Sayang.”

Dia itu anti banget sama yang namanya ‘Korea’. Padahal menurutku, selama karya mereka bisa dinikmati, ya why not? Aku suka nonton salah satu variety show mereka yang berjudul "Running Man" apalagi kalau lagi stres. Waktu itu pernah aku ajakin dia nonton acara tersebut di laptop. Dengan muka betenya yang lucu itu, dia bilang, “Ya, udah. Kamu nonton, aku tidur aja.” Aku hanya tergelak dengan aksinya yang kekanakan itu.

Tapi aku bersyukur dengan hal ini. Karena, gak kebayang deh kalau dia ikut-ikutan suka girlband-girlband, apalagi boyband-nya. Ewww…

Hal-hal di atas hanyalah sebagian kecil dari perbedaan-perbedaan yang ada. Lalu mengapa aku dan dia bisa bertahan dengan banyaknya hal yang aku sukai namun tidak disukainya, atau hal-hal yang tidak aku sukai tetapi disukainya?

Pertama. Kita menyadari ketika terdapat perbedaan, maka perdebatan sepaket di dalamnya.

Jika mendengar kata perdebatan, pasti yang terlintas dalam benak adalah sesuatu hal yang menjengkelkan. Tapi percayalah, hal yang akan kalian rindukan dari pasangan adalah berdebat dengannya. Suatu hari aku pernah berkomentar perihal softlense yang sedang populer itu. “Aku heran deh sama orang-orang yang rela merogoh kocek cuma buat softlense. Apa enaknya coba tampil beda kalau menyiksa?”

Mau tahu tanggapan dia seperti apa? Dengan muka nyebelinnya, dia bilang, “Aku juga heran sama orang yang rela merogoh kocek cuma buat beli novel. Apa bagusnya coba? Kelar baca disimpen.” Dan aku hanya bisa manyun mendengar tanggapannya itu." Setiap orang memiliki prioritas, Sayang." tambah dia menutup perdebatan, yang sebenarnya lebih panjang dari itu.

Kedua, karena perbedaan ada untuk saling memberi dan menerima.

Bukankah sudah jelas, pria dan wanita itu memang berbeda? Jadi, buat apa kita menghabiskan energi hanya untuk membuatnya sama seperti yang kita mau. Tapi bukan berarti kita menerima apa adanya ‘perbedaan itu’ tanpa saling mengkoreksi. Jangan karena alasan kita mencintainya lantas membiarkan kebiasaan buruknya terus berjalan. Karena dengan saling memberi dan menerima, tujuan hidup untuk menjadi lebih baik akan tercapai.

Sehingga seberapa besarpun perbedaan yang ada, itu tidak akan menjadi hambatan yang berarti dalam suatu hubungan.

We are so different. That's what I like about us.