Kekerasan dalam rumah tangga atau yang biasa dikenal dengan singkatan KDRT, adalah tindakan yang tidak menyenangkan yang dilakukan oleh anggota keluarga terhadap anggota keluarga lainnya. Besarnya pengaruh KDRT pada korbannya sangat beragam, salah satu contohnya dapat kita lihat pada kisah wanita ini. Hanya berusia tujuh belas tahun, pengalaman pertama kekerasan terjadi pada usia lima tahun. Wanita yang identitasnya akan disembunyikan dan akan diketahui sebagai Ibu Amanda. Dia mengatakan:


“…melihat ayah tiriku, berdiri dan berteriak. Tangannya memegang erat leher ibuku dan mencekik sekeras-kerasnya. Hanya berusia lima tahun dan adikku berusia enam bulan. Berbulan-bulan saya melihatnya memukul ibuku, dan aku hanya bisa berdiri dan menangis. Terjadi lagi ketika saya berusia tiga belas tahun, saya keluar dari kamarku dan melihat air mata yang mengalir dari mata ibuku, dengan matanya yang bengkak ia tidak bisa berdiri atau berjalan.”


Advertisement

Ibu Amanda berbicara dengan pelan. Ekspresi wajahnya kaku dan ia berbicara dengan tenang, tetapi anda bisa merasa kepedihan hatinya ketika ia menceritakan pengalamannya.

KDRT mencakup lebih dari sekedar kekerasan fisik. Kekerasan yang dilakukan tidak hanya mengakibatkan luka fisik tapi juga dapat mengganggu kesehatan mental korbannya. Bentuk-bentuk KDRT dapat mencakup kekerasan fisik yang menyebabkan luka berat maupun ringan yang dapat terlihat, kekerasan seksual, kekerasan ekonomi, pelecehan, penghinaan, dan penyiksaan-penyiksaan lainnya.

Pengeksploitasian, manipulasi, pengendalian ekonomi juga termasuk kekerasan yang dapat merusak kesehatan mental seseorang. Terdapat juga perlakuan yang tidak meninggalkan bekas pada tubuh korban tetapi pastinya meninggalkan trauma pada kesehatan batin orang tersebut, seperti menjambak, meludahi, membentak, mencaci maki, dan mendorong.

Advertisement

Kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya menyebabkan trauma fisik tetapi juga menyebabkan trauma psikis. Depresi, stress, frustrasi, paranoia, bahkan kadang kala dapat menyebabkan kegilaan. Perbuatan ini dapat berakhir dengan perceraian atau kecacatan. Cacat emosional sampai cacat fisik, penyakit kelamin atau penyakit lain yang bersumber dari stress. KDRT biasanya berakhir dengan keadaan korban yang sulit untuk pulih dari trauma penderitaan yang telah dialami. Mengalami trauma, Ibu Amanda pun bercerita pengalamannya:


“… saya selalu keep it to myself. Saya mengalami trust issues dan itu lah yang membuatku selalu defensif jika pertama kali bertemu dengan seseorang, terutama dengan laki-laki. Setelah sekian lama hidup dalam ketakutan dan bersembunyi karena ketakutan dia akan amarah dan memukulku lagi, aku mulai lebih vokal dengan semua permasalahan ini. Walaupun aku masih merasa takut dan aku sangat trauma karenanya, aku sangat lebih defensif dengan diri sendiri dan juga ibuku.”


Kemarahannya sangat terasa, berbicara dengan tegas, air mata mulai terlihat.

Sebagian besar pelaku-pelaku KDRT dibesarkan menyaksikan atau menjadi korban kekerasan. Pelaku KDRT biasanya mengintimidasi dan memanipulasi korbannya sehingga korban merasa bahwa perlakuan tersebut merupakan kesalahan korban. Ada juga pelaku KDRT yang merasa bahwa kekerasan adalah bentuk ekspresi cinta seseorang.

Kasus-kasus KDRT tidak terjadi hanya satu kali, kekerasan yang dialami selalu terjadi berulang kali.


“…sudah beberapa kali mengalami kekerasan fisik dan juga emosional. Ayah tiri aku berselingkuh, tetapi dia mencoba memanipulasikan dan memutar kata-katanya dan menyalahkan ibu saya. Dia berteriak, dia memukul, dia menghina dan menuduh ibuku yang berselingkuh, dan dia tidak pernah sekali pun mengakunya, walaupun pacar dia sering kali mengunjung ke rumahku. Aku trauma dan aku selalu paranoid kalau aku melihat dia. Kadang dia bisa baik, tetapi dalam kurang dari lima menit, dia akan memukul aku atau ibuku.”


Kecacatan emosional dan mental korban, yang apabila dia dewasa menjadi pelaku KDRT, menyebabkan siklus KDRT menjadi sulit diputus. Sebab lain seseorang melakukan KDRT adalah balas dendam atas kemarahannya menjadi seorang korban KDRT. Hal lain yang dapat menyebabkan seseorang menjadi pelaku KDRT adalah didikan orang tua yang mengajarkan bahwa seorang wanita memang sepantasnya diperlakukan buruk karena sudah menjadi kodratnya.


“… saya tidak akan pernah mengerti mengapa seseorang bisa memukul istrinya, atau siapapun yang ia akui mencintai atau manyayangi. Seorang ayah tidak boleh memukul anak, istri atau siapapun. Secara mental dan secara emosional, aku terluka dan walaupun sekarang tidak mengalami kekerasan tersebut, aku tidak akan pernah memahami perlunya KDRT menurut pelaku-pelaku.”


Sangatlah menyedihkan, adanya argumen bahwa kekerasan dalam rumah tangga bukanlah masalah sosial dan dianggap sebagai masalah internal dalam lingkup rumah tangga saja. Pandangan bahwa KDRT merupakan aib yang perlu ditutupi pun menjadi penyebab sedikitnya kasus yang dilaporkan. Perhatian masyarakat pun sangat sedikit terhadap imbas dari KDRT. Angka kasus KDRT bagaikan gunung es yang tampak dipermukaan hanyalah sedikit.

Dalam kehidupan berumah tangga, banyak orang, terutama kaum wanita, yang rentan menjadi korban kekerasan. Menurut catatan tahunan Komnas Perempuan, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan (KTP) di tahun 2016 mencapai angka 259.150 kasus.

Agar masyarakat lebih peka pada nasib korban KDRT, diperlukan adanya penyuluhan-penyuluhan dan perhatian di seluruh jajaran masyarakat. Juga diperlukan penyebaran informasi mengenai hak asasi manusia, kesehatan mental, anti kekerasan, penyetaraan gender, dan penyebaran informasi tentang hukum yang berlaku di Indonesia tentang kekerasan dalam rumah tangga.

Keterlibatan pemerintah terutama aparat kepolisian dan instansi hukum lainnya yang dapat memberikan efek jera dengan hukuman yang seberat-beratnya kepada pelaku kekerasan. Memberikan perlakuan yang adil serta tidak mempermalukan dan menyalahkan korban juga adalah tindakan yang perlu ditanamkan kepada masyarakat Indonesia.

KDRT merupakan masalah yang dapat merusak tatanan hidup seseorang dan juga masyarakat. Memiliki anggota masyarakat yang mempunyai kesehatan mental dan emosional yang tidak baik bukanlah cita cita dari bangsa Indonesia. Seyogyanya Indonesia memiliki manusia yang dapat menghargai sesama dan memperlakukan sesama dengan baik, penuh kasih sayang dan cinta kasih.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya