Bangsa Indonesia semakin lama semakin diuji sejak era globalisasi yang semakin banyaknya tragedy yang merusak harmoni kehidupan masyarakat seolah-olah semakin sulit dihindarinya kondisi ideal yaitu kebhinekaan yang selama ini pahlawan kita berusaha pertahankan. Dengan banyaknya perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan yang perlu dipandang sebagai suatu kesatuan dari NKRI di Indonesia yang bisa dikatakan hal ini dapat menyulitkan membangun pandangan kebangsaan diantara anak bangsa yang berbeda itu.

Setelah beberapa abad yang lalu kita dilanda beberapa konflik horizontal yang memiliki unsur SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) maka kondisi mutakhir kita saat ini kembali mengalami guncangan akibat tindakan terorisme oleh sekelompok orang dengan tujuan menghancurkan suatu pihak sehingga terjadinya sebuah peperangan antar bangsa.

Advertisement

Semakin banyak kejadian seperti meledakan bom dengan mentargetkan rumah ibadah dan membunuh orang karena memiliki perbedaan keyakinan, target anggota kepolisian dan pemerintah yang dianggap sebagai penghalang misi perjuangan kelompok radikal menjadi buktinya. Tantangan merawat kebangsaan tidak semakin mudah tetapi justru semakin menjadi tantangan di era globalisasi ini yang di mana demokrasi terus berkembang dengan kemerdekaan berpendapat yang semakin baik serta aspirasi masyarakat yang tidak mungkin lagi dikumpulkan, didukung dengan kebebasan media sosial dengan adanya bantuan teknologi informasi

Globalisasi yang mempunyai tanda dengan cepat mengalirnya arus informasi tanpa batas antara berbagai belahan dunia dari satu sisi ke sisi lain menguntungkan dalam persaingan global namun pada sisi yang lain menjadi boomerang dengan kemudahan masuknya paham baru yang dapat merusak soliditas dan solidaritas warga khususnya paham-paham radikal.

Dengan mudahnya paham maupun peristiwa yang dapat terjadi di sisi lain atau di belahan bumi lain yang dapat diketahui secara cepat melalui teknologi informasi yang sudah mulai maju dapat menjadi penyebab terjadinya krisis sebuah bangsa menemukan jadi diri kebangsaannya. Bangsa Indonesia sebenarnya sedang menghadapi krisis kebangsaan yang sangat serius karena para petinggi pun belum mampu secara bersama-sama saling mendukung untuk mewujudkan tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945 alinea 4 terutama pada bagian memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Advertisement

Para elit dan elemen anak bangsa saat ini justru memiliki kesibukan lain dengan merebutkan kekuasaan dan bertindak untuk kepentingan golongannya serta kelompoknya sendiri tanpa memperhatikan dampaknya kepada kehidupan masyarakat di sekitarnya bahkan ada terjadinya korban terhadap perwujudan dari ambisi suatu kelompok itu sendiri. Partai politik tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik dalam mengagreasi dan mengartikulasikan kepentingan masyarakat tetapi sebaliknya masyarakat hanya dijadikan obyek bagi kepentingan mereka. Fakta yang mudah kita lihat dalam tayangan media elektronik dewasa ini, para elit sering memberikan pernyataan yang terlihat membela tindakan teror oleh kelompok radikal dengan alasan hak asasi dengan memanfaatkan sentiment keagaam untuk meraih dukungan politik teruatma menjelangnya pemilihan umum.

Hal ini dapat menjadi perhatian kepada kelompok-kelompok radikal untuk terus melakukan tindaknnya karena merasa mendapat dukungan dari sebagian elit negeri ini.bahkan peristiwa tragedy kemanusiaan yang diakibatkan tindakan radikalisme dijadikan sebagai senjata menyerang kepemimpinan pemerintahan yang berkuasa tanpa peduli dengan penderitaan anak bangsa yang menjadi korban kebrutalan tindakan terorisme.

Seharusnya mereka sebagai satu kesatuan unsur pemerintahan Negara bersama-sama membangun sinergitas mewujudkan kewajiban Negara melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah dara Indonesia tanpa pengecualian. Menghadirkan negara untuk memberikan rasa aman bagi warganya dan menjamin kebebasan warganya dalam memeluk agama yang diyakininya dan beribadah menyembah tuhannya.

Sebagai negara bangsa yang plural, Indonesia tengah berada di pusaran arus globailasi yang akan mempengaruhi pola piker anak bangsa dalam memandang kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam era globalisasi di dalamnya melekat proses transformasi system nilai yang tidak akan pernah dapat dibendung dan akan terus belanjut sejalan dengan kemajuan IPTEK.

Dalam konteks ini Pancasila sebagai perekat kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat seharusnya perlu ditingkatkan pemahaman dan implementasinya guna membentuk jati diri bangsa yang ideal. Pancasila beserta nilai yang berada di dalamnya akan terus dipandang sebagai ideologi berbangsa yang perlu diamalkan dalam segi kehidupan agar masyarakat Indonesia dapat terus berbangsa seperti yang diharapkan pahlawan kita.

Globalisasi idelanya terus dimaknai serta dimanfaatkan untuk memperkuat kebangsaan kita walaupun dapat kita sadari juga hal ini dapat menjadi ancaman bagi kita terhadap eksistensi kehidupan berbangsa dan bernegara. Perlu adanya kearifan, keteladan, solidartias, gotong royong, keadilan serta supremasi hukum yang dapat mensejahterakan seluruh anak-anak bangsa Indonesia agar dapat mempunyai rasa memilki dan bertanggung jawab menjaga keutuhan NKRI.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya