Menikah Sama Dengan Adaptasi Seumur Hidup

Bagi kalian yang usianya sedang menginjak kepala dua, pasti sudah memikirkan akan pernikahan. Dengan siapa aku akan menikah nanti, memakai gaun pernikahan yang didambakan, acara pernikahan yang megah, memiliki calon suami yang diidamkan, dan berbagai ekspektasi lainnya seraya apa yang kita harapkan akan terjadi sesuai dengan ekspektasi dan doa kita.

Mungkin sebagian ada yang berpikir bahwa menikah itu untuk hidup bahagia. Pernyataan itu tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar, kenapa?. Karena menikah untuk hidup bahagia itu pasti, sebab suatu hubungan yang sudah dilandasi dengan pernikahan adalah hubungan yang sangat membahagiakan tanpa adaya keraguan. Dibanding hanya dengan pacaran yang banyak sekali kekhawatiran. Dengan menikah, hati dan pikiran menjadi lebih tentram, tidak lagi merasa khawatir akan jodoh.

Namun jika kamu menikah hanya untuk bahagia itu kurang tepat. Sebab jika suatu saat nanti kamu menemukan ketidakbahagiaan dalam masa pernikahanmu, lantas apakah kamu akan menyudahinya begitu saja?. Yang peru kita perbaiki adalah niat kita menikah. Niatkan untuk ibadah, karena menikah adalah menyempurnakan separuh agama dan karena menikah adalah ibadah seumur hidup. Maka dengan dasar dan landasan itu kita akan bertahan.

Menikah adalah ujian tahap selanjutnya. Mengutip dari ceramah seorang ustadz, banyak orang yang berdoa ingin menikah, ingin segera bertemu dengan jodohnya itu karena mereka berpikir hanya pada saat itu. Dikabulkannya sebuah doa adalah ujian tahap selanjutnya, yang berarti kamu akan sadar ketika mendapatkan apa yang kamu inginkan. Seraya berkata dalam hati, ohh, mungkin ini yang dimasud dengan ucapan ustadz itu, ohhh ini yang dimaksud orang banyak bilang kalau menikah ketahuan semua jeleknya, dan lain sebagainya.

Ketika kamu sudah menikah kamu akan tau bahwa menikah adalah ujian tahap selanjutnya. Karena kamu akan bersama dengan orang yang sama selama sisa usiamu dan kamu tidak bisa bergaul sebebas seperti saat sebelum kamu menikah, sebab pernikahan adalah adaptasi seumur hidup.

Menikah adalah adaptasi seumur hidup. Bagi kalian yang merasa sangat mengenal pasangan anda sebelum menikah, tunggu hingga kalian menikah dan berumah tangga. Keadaan ini bukan karena pasangan anda yang berubah, namun itulah sifat dan kebiasaan aslinya. Selama apapun kalian berumah tangga, pasti keadaan setiap hari berubah. Terkadang menjengkelkan, mengecewakan, putus asa, sedih, mengkhawatirkan, dan banyak kebahagiaan yang sering tertutupi karena masalah kecil dan sepele.

Semua sumber masalah dan kebahagiaan ada dari diri kita sendiri. Semua tercipta karena tindakan yang kita ambil dalam menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Jangan keras kepala, jangan gengsi, jangan merasa benar sendiri, dan jangan pernah mengeluarkan perkataan kasar hingga timbul penyesalan dan masalah baru pun datang. Semua masalah bisa diselesaikan dengan baik, jika komunikasi dan cara penyampaiannya pun baik.

Bagi kalian yang sedang berada dalam hubungan rumah tangga, jangan menyerah dan ingat kembali tujuan kalian menikah. Kalian pasti kuat, kalian hebat. Adaptasi ini memerlukan waktu seumur hidup, jangan karena hal sepele kalian menyerah. Buatlah kebahagiaan di dalam rumah tangga mu sendiri, ciptakan rasa nyaman, tundukan hati dan kepalamu agar keegoisan dalam diri meredup dan tak kembali.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Sorang budak jepang dan ibu rumah tangga