Coba tebak, hal di dunia ini yang tak bisa kau hentikan? Jangan jawab langkah pacar atau mantan yang menjauh. Yang aku maksud bukan itu. Tapi hal lain, yang setidaknya sangat bermanfaat untukmu, aku, dan orang-orang yang sempat membaca narasi ini.

Akan ku beri jawaban, ialah waktu yang terus saja tanpa disadari selalu bersamamu. Waktu senantiasa berjalan walau di saat itu kau memilih berhenti, memilih berdiam diri di tempat yang kau sebut 'zona nyaman'. Hingga pada akhirnya kau enggan lagi berjalan melanjutkan perjalanan.

Padahal kau baru saja melangkah, melebarkan kaki untuk berjalan, bahkan siap untuk berlari. Lihat ke depan! Aneh, kau sempat berteriak memberi aba-aba pada dirimu, tapi badanmu tak gerak sama sekali, masih duduk di zona nyaman. Padahal, jalan yang kau lalui belum seberapa, belum ada seperempat jalan kau tempuh. Aneh, kau malah memilih berhenti. Aku bergidik geli.

Coba lihat ke belakangmu. Menolehlah sedikit entah kanan atau kirimu, kau sudah melewati beberapa tempat yang menurutmu bahkan orang lain yang tak mungkin bisa kau tempuh. Namun, nyatanya kau bisa melewatinya! Naas, egomu yang super itu mengurungkan niat baikmu untuk kembali melangkah. Kau masih sama, duduk di zona nyaman.

Lihat ke depan! Semenit saja, tengoklah ke depan, jalan yang kau tempuh masih panjang. Keluarlah dari zona nyamanmu! Zona menenagkan tak selamanya membuatmu tenang. Kau harus keluar, mencari jalan untuk mencapai sebuah keberhasilan. Ingat waktumu sudah tak banyak lagi. Jika kau tak mampu berlari kencang, maka jangan paksakan dirimu untuk berlari. Hal itu hanya akan membuatmu merasa kelelahan lagi. Pun, kau tak perlu berjalan santai, karena godaan selalu saja datang dari mana saja, termasuk lewat jalan santaimu. Ah, itu masih lebih baik daripada kau memilih jalan di tempat atau bahkan enggan berjalan, tak keluar dari zona aman.

Advertisement


Karena yang kau hadapi adalah waktu. Ia tak bisa berputar kembali ke masa lalu. Sedetik yang lalu pun ia tak akan kembali.


Waktu akan terus berjalan, dari pagi berganti siang, lalu malam. Terus saja berputar hingga hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Hingga kau tak merasakan bahwa umurmu telah bertambah. Tentu bertambah tua dibandingkan setahun yang lalu.


Ibnu Umar berkata, “Jika engkau berada di sore hari, jangan menunggu datangnya pagi. Dan jika engkau berada pada waktu pagi hari, jangan engkau menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati."


Tak ada gunanya jika semakin bertambahnya umurmu, kau tak memanfaatkannya untuk hal-hal yang baik, bermanfaat bagimu dan sekitarmu. Dan anehnya, bertambah hari kau masih duduk di zona nyaman. Lihatlah ke depan lagi! Jalanmu masih panjang, kawan!

Aku memiliki perumpamaan absurd untukmu dan juga pengingat bagiku. Begini, coba bayangkan kalau kau sedang mengendarai sepeda atau kendaraan roda dua. Dalam keadaan di mana jam masuk sekolah atau kerja adalah jam tujuh pagi. Sebelumnya, kau sudah siap siaga dengan berangkat pagi pukul enam dari rumah. Namun, hal tak terduga terjadi, macet sudah melanda jalanan. Dan apa yang kau lakukan?

Sekuat tenaga mencari celah-celah untuk bisa keluar dari kemacetan tersebut dan setelah melewati kemacetan tersebut, kau akan berpikir, “Berapa menit yang ku habiskan untuk keluar dari kemacetan? Lalu sekarang jam berapa? Apa aku terlambat ke kantor atau sekolah?” Setelah memastikan jam, kau kembali fokus pada perjalananmu. Kau pasti tak akan memperdulikan pemandangan kanan dan kirimu, bahkan jajanan yang terjual di teras-teras rumah. Kau terus melaju, memacu kendaraanmu hingga sampai tujuan.

Begitu pun dengan waktu, waktu itu sangat berharga sekali. Sedetik kau meninggalkannya maka sedetik pula kesempatan itu hilang. Pun, pada menit juga demikian. Bahkan, orang Arab mengatakan di dalam sebuah pepatah, “Waktu diibaratkan pedang, jika engkau tidak memotongnya maka waktulah yang akan memotongmu. Dan jika engkau tidak menyibukkan dirimu dengan sesuatu yang halal, maka dia akan menyibukkanmu dengan sesuatu yang haram serta perbuatan-perbuatan dosa.”

Maka dengan sangat ketersengajaan aku menulis "Menit-Menit yang Berharga". Karena ku tahu, di antara kita banyak sekali yang menyepelekan waktu. Jangankan waktu, bagian dari waktu, menit pun kita saling acuh tak acuh.


“Tenang, masih 8.25, masih bisa untuk santai-santai dulu.”



Dalam riwayat Bukhari yang lain juga menerangkan, “Dua nikmat yang kebanyakan manusia rugi di dalamnya adalah kesehatan dan waktu luang."


Jadi, di antara kita masih terbelenggu pada zona nyaman, bukan? Jika iya, maka bergegaslah berdiri dan bangkit! Tengoklah ke belakang lalu lihatlah dirimu hari ini. Apakah kau sudah melakukan hal yang bermanfaat dan berharga sampai menit ini? Seandainya belum, maka lakukanlah hal-hal yang baik. Semoga waktumu bermanfaat bagi kemaslahatan umat.