Ketika cinta masa kecil itu bangkit dari mati suri, di situlah raga ini semakin terasa berat menahan rasa cinta itu. Aku berusaha untuk membunuhnya kembali dan segera menguburnya dalam-dalam, namun sayangnya kebangkitan cinta ini semakin kuat. Like I have no power to handle it. I am in lost control about this love. Tuhan, aku belum merdeka dari cinta masa lalu.

Masa sekolah dasar adalah masa di mana aku mulai mengenal arti dari sebuah cinta. Kali ini bukan tentang cinta kepada orang tua, or even to my siblings. But this is about love to someone that having no blood relationship with me. Cinta yang telah begitu sukses membuat darahku berhenti mengalir karena membeku setiap kali melihat wajahnya. Padahal itu adalah masa sekolah dasar, masa di mana wajah kami masih sama-sama polos.

Advertisement

Setelah dewasa aku baru mulai paham, bahwa cinta itu memang benar-benar tak mengenal orang. Bahwa cinta memang tak pernah tebang pilih. Termasuk pada saat usiaku masih berkisar pada delapan hingga sembilan tahun. Cinta tak pernah permisi or even say hello to me sebelum kemudian menempel dengan erat di lapisan hatiku yang paling dalam. Bahkan hingga mulai berkerak di lapisan jiwa yang paling dasar.

Pada saat itu aku memang belum paham arti dari the true love, namun saat itu aku sudah mulai merasakan suatu getaran cinta. Getaran yang akan selalu membuat kita berusaha untuk selalu cari muka di hadapannya. It was so crazy, wasn’t it?

Sekolah kami saat itu berbeda, namun masih dalam satu region. Mungkin sekitar 820 meter saja. Jaraknya memang dekat, namun jika sedang rindu kepadanya, trust me! The distance becomes so far from my position.

Advertisement

Ketika ada lomba antar sekolah, aku selalu berusaha belajar sebisa mungkin agar bisa menjadi duta dari sekolahku sendiri. Karena aku yakin, dia pun akan selalu menjadi duta untuk sekolahnya sendiri. Ini adalah salah satu trik untuk bisa bertemu dengannya. Trik sepintar ini malah sudah kupahami sejak mengenyam bangku sekolah dasar.

Ketika kami bertemu, aku selalu pura-pura tak kenal. Padahal, kami sebenarnya saling mengenal satu sama lain. Tetapi ya itulah ego, selalu ingin di sapa terlebih dahulu. Jadi saat itu aku benar-benar jual mahal kepadanya.

Aku sungguh benar-benar tak ingin mengobral diriku dengan cara menyapa atau bahkan bermain basa-basa dengannya. Begitu juga dengan dirinya. Ia tak pernah sama sekali menurunkan gengsi untuk sekadar say something to me, at least saying hello. Never! Yang akhirnya, ujung-ujungnya kami berdua seperti tak saling mengenal satu sama lain. Shit, exactly I did really want it.

Tak jarang, ketika pulang aku selalu merasa menyesal tak menyapanya. Padahal pengorbanan untuk sekadar bertemu dengannya begitu besar. But I was just wasting that chance like throwing paper to the rubbish box.

Namun pada saat itu aku selalu berusaha untuk menghibur diri sendiri. Tak masalah tanpa saling menyapa satu sama lain, karena bertemu dengannya saja rasanya sudah sangat bahagia. Karena bertemu dengannya tak bisa kulakukan setiap hari.

Jadi aku ibarat jemuran basah yang dijemur saat musim hujan yang sedang rindu berat dengan kehadiran sang mentari. Aku seperti bunga sedap malam yang butuh sinar mentari, namun sayangnya harum ku hanya tercium pada malam hari. Sesuatu yang memang benar-benar sulit. Sesulit cintaku kepadanya.

Dulu, sekolah kami pernah berkelahi. Teman-temanku yang bandel menantang sekolahnya untuk bermain olahraga. Sparing antar sekolah, namun sebenarnya tujuannya bukan untuk menjalin tali persahabatan antar sekolah. Melainkan sebagai ajang untuk saling membuktikan keunggulan sekolah masing-masing. Yang kalah tentunya akan merusak privilege sekolahnya sendiri. Karena sekolah kami perang, kami berdua pun tersulut semangat untuk saling mendukung sekolah kami masing-masing.

The bad thing is, pada saat itu kedua pihak sekolah sama-sama bermain dengan emosi yang memanas. Yang akhirnya berujung kepada perkelahian antar sekolah. Aku dan dia sama-sama menjadi supporter untuk sekolah masing-masing.

Karena tak terima sekolahku dijelekkan oleh sekolahnya, aku pun ikut membalas melawan mereka. Termasuk dia sendiri, orang yang saat itu kusukai. Namun emosi sesaat itu telah membuat hubungan kami menjadi renggang hingga saat ini. Aku masih ingat kejadian masa itu, di saat mata kami saling bertatapan dengan penuh rasa kebencian karena tak terima dengan ejekan ke sekolah kami masing-masing. Tatapan yang tak pernah ku rencanakan sebelumnya.

Kami sering bertemu di jalan. Dalam setahun, at least ada satu kali kami bertemu. Entah itu di kota kami saat sedang jogging, di mall ataupun tempat-tempat publik lainnya. Namun karena kejadian masa kecil itu, kami tak pernah saling menyapa satu sama lain.

Kami berdua seperti dua umat manusia yang terlahir kembali ke dunia, kemudian menganggap satu sama lain tidak pernah bertemu dan tak pernah saling kenal satu sama lain. Luar biasa sakitnya. Padahal, aku benar-benar ingin mengatakan how are you? How’s your school? What’s your job right now? Do you love me? Eh!

Namun sayang… Kami berdua tak pernah saling menyapa satu sama lain. Namun seperti biasa, hatiku selalu bergetar ketika sedang berpapasan dengan dirinya. Sumpah bukan main, semakin jarang berjumpa, serta semakin dewasa dirinya, semakin elok dan rupawan wajahnya. Membuatku selalu terbayang-bayang wajahnya secara terus-menerus. Sometimes, twenty-four hours I always remember that awesome face, that makes me so crazy. If I have a chance, I do really want to hug that body. But it is impossible.

Hingga akhirnya, dalam suatu tes yang harus kuikuti. Ia pun ternyata mengikuti tes yang sama dengan diriku. Wajahnya tak pernah kulihat secara langsung, dapat kulihat jelas pada hari itu. Ia benar-benar berevolusi menjadi ciptaan tuhan yang benar-benar menawan. Ia berbeda dengan yang dulu. Bedanya adalah dia semakin menawan.

Aku bahkan tak bisa berkata-kata lagi untuk menggambarkan rupa dan warnanya. Jika ia adalah objek lukisan, maka tanganku sudah tak aka mampu lagi untuk menggambarnya. Dia terlalu sempurna.

The problem is, when again and again I did the same thing as the previous one. I did nothing, dan hanya sekadar melihatnya. Ingin saat itu kubuang saja gengsi itu dan segera menyapanya. Tak peduli mau dia acuhkan atau tidak, I didn’t care about it.

Tetapi bodohnya diriku, gengsi itu kembali datang dan membuatku kembali menyesali semua yang telah terjadi. Setelah berpisah, wajahnya kembali menghantui hidupku. Orang yang pernah membuatku mengenal rasa cinta pada masa kecil, ternyata hingga kini tak mau ku dekati walau hanya sekadar mengatakan halo. Ini benar-benar seperti penjajahan perasaan.

Aku terlalu pengecut untuk melakukan itu semua. Dan hingga kini rasa cinta itu semakin memburuku hingga mengganggu tidur malamku. Otakku bahkan tak pernah henti-hentinya memikirkan dan mengimajinasikan wajahnya yang kini semakin matang dan rupawan itu. Aku memang masih menyimpan rasa kepadanya hingga ini, namun aku juga takut jika ternyata jatuh cinta ini ternyata hanya dirasakan olehku saja. Sedangkan ia tidak sama sekali.

Aku takut terluka oleh cinta. Jadi biarkan saja rasa cinta kepadanya ini menggilas rasa cinta dan rinduku kepadanya. Walau sakit dan perih, biarkan saja. I am still strong enough to face it.

Namun Tuhan, jika kau rasa diriku sudah tak mampu untuk mengemban ujian ini, mohon segeralah bebaskan hamba dari kenangan masa lalu tersebut. Terjajah oleh cinta itu sungguh menyakitkan. Sakit dan luka, bahkan hingga memar. Luka itu memang tak berdarah, namun justru sakitnya sepuluh kali lipat.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya