Mimpi: Bunga Tidur atau Representasi dari Sebuah Emosi? Bagaimana Perspektif Islam Mengenai Mimpi?

Psikologi

Hai sobat Hipwee! Pernah nggak sih sobat bermimpi sebuah kejadian yang sama persis dengan kejadian yang kita alami sebelum kita tidur? Atau sobat tidak memikirkan sesuatu sudah dari jauh-jauh hari atau dari lama, tetapi tiba-tiba sobat memimpikannya? Ternyata mimpi punya penjelasan ilmiah loh!

Advertisement



Mimpi dan Tahapan tidur

Mimpi adalah sebuah kondisi dimana seseorang menginterpretasikan suatu kejadian dalam kondisi tidak sadar atau diluar kendali seseorang. Sebelumnya, mimpi ini pertama kali di gagas oleh salah satu tokoh psikoanalisa yaitu Sigmund Freud. Freud mengungkapkan bahwa mimpi menggambarkan sesuatu yang tersembunyi dari sebuah individu (Asokawati, 2017: 48-49). Sebelum manusia bermimpi dalam tidurnya, mereka melewati beberapa tahapan tidur terlebih dahulu. Menurut (Kalat, 2020) tahapan pertama dalam tidur adalah rileks dan bangun, tahapan kedua adalah tidur tahap 1, tahapan ketiga adalah tidur tahap 2, tahapan keempat tidur gelombang lambat, dan yang terakhir adalah tidur REM (Rapid Eye Movement).

Mimpi sendiri biasanya terjadi ketika seseorang memasuki tidur tahap REM. Dibandingkan dengan tidur nonREM, mimpi REM memungkinkan adanya citra visual (nyata) serta plot yang rumit. REM (Rapid Eye Movement) ini merupakan tahapan dimana manusia sudah sampai pada tidur nyenyak. Menurut (Kalat, 1988) tahap REM ini berkaitan dengan kondisi dimana otot-otot postural tubuh menjadi lebih rileks.

Advertisement

Ketika tidur REM, terdapat sebuah gelombang cepat dengan voltase yang rendah pada EEG. Jika tidur REM dikatakan tidur yang nyenyak, lalu mengapa ya terkadang ketika seseorang sedang stress (bersedih atau marah), justru cerita dalam mimpi tersebut seperti merepresentasikan kejadian yang kita alami di dunia nyata? Sehingga menyebabkan munculnya kembali emosi tersebut.

Otak, Emosi, dan Mimpi

Advertisement

Perlu kita ketahui bahwa bagian otak yang bekerja dalam mengasilkan sebuah respon emosional adalah amigdala. Menurut Vandekerckhove & Wang (2018) ketika manusia tidur dan memasuki tahap REM, terdapat peningkatan aktivitas pada area subkortikal (amigdala, striatum, dan hippocampus), serta area kortikal (korteks prefrontal medial, mPFC) yang diparalelkan dengan perubahan neurokimia, dan noradrenalin yang menurun, yang berkaitan dengan berbagai macam pemrosesan emosi terkait gairah di dalam otak dan tubuh.

Emosi menyakitkan pada siang hari atau ketika tidur REM akan termodulasi karena adanya peran dari amigdala dan korteks cingulate, yang diatur juga oleh korteks prefrontal medial yang berfungsi sebagai pengaturan limbik dari atas ke bawah. Tidur REM ini adaptif dalam memproses pengalaman traumatis, kemudian menghadirkannya sebagai visual yang aneh atau episode tersebut terfragmentasi sehingga alur cerita dapat serupa.

Terdapat salah satu teori yang diungkapkan oleh Walker & Van der Helm dalam (Vandekerckhove & Wang, 2018) yang mengatakan bahwa “Manusia tidur untuk mengingat, dan manusia tidur untuk melupakan”. Yang artinya manusia tidur untuk melupakan nada emosional, tetapi mereka masih mengingat rangkaian cerita yang ada pada memori dan di representasikan melalui mimpi.

Berbicara tentang emosi dan representasinya dalam bentuk mimpi, aku pernah mempunyai pengalaman dengan dua hal tersebut lho! Ketika aku baru lulus SMA, aku punya konflik nih dengan salah satu teman ketika SMA. Konflik kami bisa dibilang cukup berat, sehingga membuatku stress dan terlalu larut dalam kesedihan. Untuk menghilangkan rasa sedih tersebut, aku memutuskan untuk melampiaskannya lewat tidur (berharap dapat melupakan sejenak hal yang menjadi keresahanku).

Namun ternyata ketika sedang tidur, mimpi yang muncul adalah rangkaian cerita tentang konflik yang terjadi antara aku dengan temanku. Sehingga yang awalnya tidur menjadi tujuan agar dapat lupa dengan masalah, ternyata malah semakin mengingat masalah tersebut dan perasaan menjadi sedih kembali. Ketika mimpi tersebut memunculkan perasaan yang berlebihan, biasanya penulis mencari di google mengenai sudut pandang islam mengenai mimpi. Ternyata begini sudut pandang islam mengenai mimpi :

3 Bentuk Mimpi dalam islam

1.) Kabar bahagia yang datang dari Allah

Mimpi yang datangnya dari Allah ini biasanya berbentuk sebuah kabar gembira atau sebuah petunjuk ketika kita sedang membingungkan sesuatu.

2.) Ucapan yang dilontarkan oleh diri sendiri

Mimpi yang berasal dari diri sendiri biasanya berasal dari hal-hal yang dipikirkan sebelum tidur, dan bisa juga dari pengalaman-pengalaman yang membuat seseorang tersebut trauma.

3.) Gangguan dari syaithan. 

Mimpi yang berasal dari syaithan yaitu mimpi yang membuat manusia merasa gelisah atau menyeramkan sehingga menimbulkan rasa takut.

Mimpi Dalam Islam

Mimpi ini sudah terjadi bahkan sejak zaman nabi, biasanya mimpi ini digunakan Allah untuk memberikan petunjuk dan wahyu kepada para nabi. Hal ini dibuktikan dalam Q.S. Yusuf [12:4] yang menceritakan bahwa Nabi Yusuf mengatakan kepada ayahnya jika ia bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya. Selain itu, menurut Assagaf, dkk. (2018) tidak ada satu orangpun (kecuali orang-orang pilihan Allah) yang dapat mengartikan atau menafsirkan sebuah mimpi.

Sejauh ini belum ada hukum yang pasti mengenai mimpi dalam islam. Namun, perlu kita ketahui bahwa mimpi tidak dapat dijadikan landasan dalam melakukan sesuatu. Tetapi, mimpi hanyalah sebatas sebuah perantara dari Allah untuk menyampaikan kabar gembira atau peringatan kepada umat manusia.

Kesimpulannya adalah mimpi terkadang hanya sebagai bunga tidur, namun jika kita merasakan emosi yang cukup mendalam mimpi itu dapat menjadi sebuah representasi dari emosi yang kita rasakan. Jadi, ketika kita bermimpi kita harus pastikan dulu nih kalau itu adalah emosi atau keinginan terpendam kita, atau sebuah petunjuk dari Tuhan, atau sebenarnya hanya sebagai bunga tidur.

Referensi :

Asokawati, F. (2017). Hubungan Antara Regulasi Emosi Dengan. 3(1), 48–60. https://lib.unnes.ac.id/29941/

Assagaf, M. Y., Galib, M., & Wahid, M. A. (2018). Sumber Mimpi Dalam Perspektif Hadis. Jurnal Diskursus Islam, 6(2), 343–360. https://doi.org/10.24252/jdi.v6i2.6788

Kalat, J. W. (2020). Biopsikologi (A. Suslia, D. Mandasari, & R. . H. D. Pertiwi (eds.). Terjemahan Fatmah Nurjanti; 13th ed.). Jakarta: Salemba Humanika.

Vandekerckhove, M., & Wang, Y. L. (2018). Emotion, emotion regulation and sleep: An intimate relationship. AIMS Neuroscience, 5(1), 1–17. https://doi.org/10.3934/Neuroscience.2018.1.1

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Menyukai Menulis, Membaca, dan Bermusik.

CLOSE