Pernah nggak sih mendengar kalimat “jangan memotong kuku dimalam hari” atau “kalau nyapu jangan sampai tidak bersih, nanti suaminya brewokan”. Kalimat-kalimat tersebut bisa populer hingga saat ini berkat the power of tutur tinular, penyampaian yang  tiada terputus. Usut punya usut, kalimat yang bersifat anjuran tersebut lahir dari kebudayaan masyarakat Jawa yang dikenal dengan istilah pamali. Pamali menjadi bagian dari mitos yang mengakar kuat di kalangan masyarakat Jawa, meski sifat kebenarannya tidak bisa dipastikan.

Hingga sekarang, masih ada orang yang percaya dengan mitos-mitos tersebut. Kebanyakan berasal dari kalangan pelosok. Sedangkan untuk penduduk perkotaan, mereka sudah mulai meninggalkan hal-hal yang bersifat takhayyul seperti mitos-mitos yang dipaparkan diatas. Yang percaya dianggap kuno atau konservatif.

Advertisement

Dari segi pola pikir, generasi yang hidup di Indonesia pada era kini yang sebagian besar adalah generasi milenial, lebih mempercayai hal-hal yang sifatnya realistis. Hal ini terjadi karena sebagian besar dari generasi milenial adalah kaum berpendidikan sehingga kebenaran dari setiap hipotesis akan ditelisik lebih lanjut. Kalau benar maka akan dipercayai, jika tidak ya akan ditinggalkan.

Kebanyakan dari generasi milenial, khususnya yang tinggal di perkotaan, menganggap bahwa mitos-mitos yang tumbuh di masyarakat akan menghambat kemajuan dari sebuah bangsa. Daripada menghabiskan waktunya untuk percaya mitos, lebih baik digunakan untuk memikirkan hal-hal yang akan melahirkan inovasi-inovasi. Tentunya, inovasi yang membawa kemajuan bangsa.

Meskipun banyak dari kalangan generasi milenial tidak mempercayai mitos, mereka masih menjadikan adanya mitos sebagai hal yang patut untuk dihormati. Pamali misalnya, mungkin dalam kehidupan nyata bisa dikatakan tidak masuk akal. Akan tetapi, di era sekarang pamali selalu dikaitkan dengan anjuran-anjuran yang membawa kebaikan sehingga bisa diterima secara rasional. Seperti halnya kalimat “jangan memotong kuku di malam hari” dimaknai ketika memotong kuku di waktu tersebut akan berpotensi luka karena pada zaman dahulu minim penerangan.

Advertisement

Sedangkan untuk hal-hal mitos yang membahas makhluk ghaib, seperti Nyi Roro Kidul, generasi milenial memaknainya sebagai sebuah pengingat agar selalu menghormati segala sesuatu ketika berada di suatu tempat. Mitos tersebut tidak sampai dilebih-lebihkan sehingga akan menjadikan seseorang menjadi takut. Setidaknya hal itu merepresentasikan dampak positif dari sebuah mitos.

Mitos adalah bagian dari budaya karena berasal dan berkembang dari lingkungan masyarakat. Terlalu percaya kepada mitos memang berakibat pada tidak majunya sebuah bangsa. Di sisi lain, hadirnya mitos sebagai bagian dari kebudayaan akan menjadi sebuah pengendali di lingkungan masyarakat. Terutama agar masyarakat selalu menjaga dan melindungi lingkungan sekitarnya. Alangkah lebih indahnya apabila generasi muda juga tidak melupakan mitologi milik bangsa. Hal ini menjadi penting karena mitologi Indonesia merupakan bagian kekayaan bangsa yang melekat dalam kehidupan masyarakat, yang harusnya dilestarikan sebagai bagian budaya.

Generasi milenial yang kita kenal adalah generasi yang sangat sarat akan teknologi. Teknologi demi teknologi menjadi bagian dari produksi yang masif yang terjadi di dunia ini. Perubahan terjadi secara besar-besaran menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan akibat penemuan teknologi baru. Nah, sebenarnya mitos memiliki peran sebagai rem apabila perubahan tersebut mulai mengarah ke arah kerusakan, bisa jadi hal yang tidak diinginkan. Namun, dalam hal ini mitos yang dianggap sebagai sesuatu yang menghambat kemanjuan harus diputar haluannya agar bisa diterima secara rasional dengan cara yang cukup sulit yaitu pandai menafsirkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya