Suatu anugerah yang indah untuk bisa mengenalmu, tapi mengapa kau hadir tak tepat waktu?

Disaat aku telah memiliki pendamping hidup, kau datang menerangi hatiku yang sebelumnya redup.

Seberapapun aku mengeluhkan nasib, Allah tidak akan merubah skenario perjalanan hidupku ini, ya kan?

Sekarang aku hanya dapat menjadi seperti sehelai daun yang mengambang terbawa arus sungai yang deras.

Jalan hidup yang sudah Allah tuliskan untukku tidak mungkin melulu aku sesali, tugasku sebagai ciptaan-Nya hanyalah menjalani semua ini, sampai aku mati dan tiba di akhirat nanti.

Advertisement

Sifatmu yang terbuka, cuek, dan tidak canggung denganku yang pemalu membuatku semakin nyaman menjalani hari bersamamu, perlahan sifat pemaluku berkurang dan dapat membuka diri dengan orang banyak, bukankah itu menjadi nilai positif yang terjadi padaku semenjakku mengenalmu?

Yah, itu adalah salah satu sebab kenapa sampai saat ini aku masih belum bisa lepas darimu, walau terus menerus kamu ingin meninggalkanku karena statusku.

Aku tahu kamu ingin meninggalkanku karena tidak ingin ada hati yang tersakiti, namun bukankah Allah mengizinkan seorang lelaki memiliki sampai empat orang istri?

Poligami memang bukan lagi sesuatu yang biasa pada zaman ini, tapi apakah salah jika hal itu kujalani?

Allah Ta’ala berfirman:

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً

Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. An Nisa (4): 3)

– See more at: http://www.faridnuman.com/2015/02/beginilah-taadud-atau-poligami-yang.html#sthash.3Y1gP9Fw.dpuf

Daripada ku berselingkuh dibelakang istri, pastinya lebih baik ku poligami, untuk terhindar dari hal yang Allah benci… seperti perceraian yang marak terjadi pada selebritis masa kini.

Yang sekarang sedang aku pikirkan adalah bagaimana caranya agar kau dan dia mengikhlaskan satu hatiku untuk ku bagi kepada kalian berdua. Karena sesungguhnya zaman sekarang sangat jarang ada wanita yang rela dimadu, level ketahanan bathin wanita sekarang tidaklah sekuat wanita pada zaman Rasul, dan itu adalah kendala yang sangat sulit untuk ku lewati.

Benar saja, semakin lama semakin peka' instinc istriku mencium kedekatanku denganmu, sehingga membuatnya murka, dan membuatku menderita. Hari demi hari kulalui dengan kebohongan terhadap istri agar dia tidak curiga bahwa ku sedang bermain hati. Saat ini memang hanyalah kata "Poligami" yang dapat menenangkan hati.

Berkali-kali sudah kunyatakan cintaku padamu, berkali-kali juga kamu menolaknya dengan nada candamu, membuatku tidak putus semangat untuk terus mengucapkannya, sampai ku tersentak saat kau melontarkan kalimat yang begitu perih ku dengar; "Apaan dah lu, kaya ngga laku aja gua ngambil laki orang!" . Sakit memang, karena kalimat tersebut hampir meruntuhkan anganku untuk menjadikanmu bagian dari hidupku dan dia. Dan kuanggap kalimat tersebut adalah penolakkan secara mentah-mentah untukku, mengartikan bahwa kamu tidak ingin menjadi yang ke dua dalam hidupku. Begitu pula istriku yang sangat menolak keras hubunganku denganmu.

Yasudahlah, kembali kepada pembahasan di awal paragraf kisah ku ini, aku hanya bisa pasrah menjalani hidupku ini seperti sehelai daun yang terbawa arus sungai yang deras dan melewati air terjun yang curam dan tenggelam di dasar air terjun tersebut untuk menentukan lolos tidaknya diriku menghadapi dilema seperti ini.

Apa yang akan terjadi selanjutnya dalam hidupku?

Nantikan pada artikel berikutnya 🙂