Hai! Helaw! Siapapun kalian, artikel ini hanya bermaksud untuk mengembalikan kesadaran bahwa negara tercinta ini bukan hanya digerakkan melalui aparatur negara. Mungkin kamu yang sedang baca, bisa menggerakkan dengan berbagi artikel ini.

Baru-baru ini eforia Calon Pegawai Negeri Sipil merebak. Saya ikut serta, sebagian karena keinginan mendapat pekerjaan dengan baik. Selebihnya adalah amanat orang tua dan narasi 'negara tidak pernah bangkrut'. Betul, tidak salah. Namun ketika data digabung dengan fakta rupanya tidak lulus seleksi. Saat belum lulus seleksi, apakah harus menanti sampai usia habis? Tidak! Hidup harus berjalan.

It's not the end of the world.


Andai aku dulu tidak pernah menonton Ada Apa Dengan Cinta (2001), Andai aku dulu lebih memuja aparat dan menjadikan mereka panutan Andai aku dulu lebih dulu mengenal aparat daripada Dimas Djayadiningrat, Rizal Mantovani, Andai aku dulu lebih dulu mengenal aparat daripada Yoris Sebastian


Itu sedikit penyesalan. Bagaimanapun kiprah mereka jauh lebih ikonik dan membuat millenial jaman now saat ini lebih senang bekerja sebagai salah satu (ampas) industri milenial daripada menjadi aparat. Karena Ada Apa Dengan Cinta, jadi lebih mencintai sastra bahkan sampai menjadi anak mading saat sekolah menengah. Lebih tahu Dimas Djayadiningrat dan Rizal Mantovani sebagai batas pagu yang harus dilampaui dalam memproduksi hasil visual ciamik. Selanjutnya kapasitas kreatif harus melampaui Yoris Sebastian. Tidak pernah terbersit dalam pikiran menjadi aparat apalagi mengenal mereka. Apaan sih dunia mereka itu terlalu hierarki, dikit-dikit siap perintah, penuh lika-liku (meskipun dunia kreatif juga penuh lika-liku tapi selalu ada insight serta stimulus menarik), kaku, dan sebagainya.

Sampai saat dewasa, ketika berhasil memenuhi cita-cita kedua orangtua. Bahkan berpengalaman meneliti aparat. Hal itu tidak membuat hati bergeming. Bahkan lebih kocaknya lagi, sampai sahabat, seorang aparat sudah berbicara soal nilai materi. Beliau-beliau menganggap seorang manusia biasa banget mampu menjadi seorang aparat secara fisik dan mental. Mereka tampak usang saat adu cermat menganalisa keadaan sambil membalas pesan dari mereka. Terlebih kedua orangtua, rupanya setelah cita-cita mereka dalam bidang akademik. Mereka berharap anak-anaknya menjadi sosok berambut cepak, berpantofel kinclong, dengan papan nama ebonit lalu berseragam. Tentu aku segera mengalihkan, karena naif dan tidak etis. Setiap pekerjaan ada materinya-ya meskipun dengan mental sisaan jajahan jaman now. Sayang, itulah persepsi yang impaired dengan data.

Bagaimana denganku?

Data menunjukkan bahwa aku sudah dua kali tidak lolos seleksi CPNS, dan tiga kali tidak lolos seleksi aparat keamanan. Sedih? Ya sedih aja, nggak sedih, apalagi sedih banget. Ah, bukan rezekiku. Tidak bagi ortuku atau sahabatku para aparat. Ortuku menilai aku tidak sungguh-sungguh. Sahabatku mempertanyakan bagaimana bisa panitia tidak meloloskanku. Ortuku sibuk membandingkan, kok orang lain bisa, aku tidak bisa. Sahabatku berharap semoga tetap datang keajaiban. Sementara aku mendengarkan dua lagu EDM,


Don't you worry, don't you worry child.. See heaven's got a plan for you

Don't you worry child – Swedish House Mafia



I have a good news for you The sun is shining and so are you,

Sun is Shining – Axwell and Ingrosso

Hal yang membuatku sungguh sedih saat ini lebih kepada, tabunganku masih jauh dari 22 Miliar untuk meminang satu SUV anti peluru pabrikan Britania Raya dan satu sedan super mewah simbol keadaan sejahtera dari..Britania Raya juga. Aku tidak mau sampai mereka sudah merilis edisi ketujuh dan ke-empat, aku belum mampu membelinya. Tidak..tidak..tidak..!


Data lain yang tidak pernah aku bagi, adalah data cetak-biru psikologi dan kepribadianku. Secara sederhana, wajar saja aku tidak lulus. Tidak peduli aku mengenakan kemeja putih rapi dan bawahan berwarna gelap. Kepribadianku dengan kecenderungan dinamis diduga akan tidak cocok dengan kepribadian dan kepribadian organisasi yang profilnya hierarkis. Secara praktis, tentu personalia aparatur negara tidak akan double check profilku. Cut off, done! Cara komunikasiku yang cenderung asertif diduga tidak cocok dengan profil komunikasi yang cenderung hierarkis dan sedikit romantis. Bye Felicia! *lha..*. Sebagai tambahan, aku lulus biasa aja dari lembaga pendidikan biasa aja. Wuah, itu sih sudah 'bye Felicia!' lainnya. Secara kognitifpun, aku biasa, sementara jadi aparat harus biasa di luar dan luar biasa. Coba silakan cek fakta diluaran sana, banyak cerita-cerita tentang aparat yang biasa di luar dan luar biasa. Bukan cerita aparat yang biasa-biasa saja.

Sebagai tambahan, aku bukan pesulap sekaliber Damien Aditya yang mampu membuat jaw dropping act.

Wuah, makin-makin 'bye Felicia!'-nya.

Data ini tentunya akan dicibir habis-habisan. Ya, biarlah, namanya data ada unsur principle of falsifiability-nya. Namun izinkan aku berargumen, ini temuanku.

Tentunya, mengutip Dodit Mulyanto yaitu seorang Indonesia yang berkepribadian Barat. Aku mempelajari aparat, perilaku, proses-mental, rentang hidup, sampai menjadikannya sebuah karya ilmiah yang biasa saja. Mempelajari mereka membuatku mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam.

Negara ini bukan hanya aparat saja.

Kita wajib berputus asa,


karena gagal seleksi aparat = anak durhaka versi enam derajat lintang utara, sebelas derajat lintang selatan, sembilan puluh lima derajat bujur timur seratus empat puluh satu derajat bujur timur jaman now dan sepanjang segala abad, amin.


Masa depan dijamin suram. Posisi tawar, ibarat saham harganya hanya satu digit rupiah. Sisi lain, perlahan depresi memeluk kita. Perlahan, lagu-lagu ini memeluk,


Just caused you can't see it, Doesn't mean it isn't there, they said, Who cares if one more lights goes out in the sky of million stars

One More Lights – Linkin Park



Hello darkness my old friend, It's great to have talk with you again,

Sound of Silence Simon and Garfunkel (1974) re-sing by Disturbed (2014)


Sisi lain, apakah negara meminta setiap WNI lahir untuk jadi aparat? Apakah negara ini bergerak karena aparat? Tidak juga. Negara ini bergerak dengan dinamis. Banyak profil yang memberikan kontribusi secara positif dan negatif. Jika tidak ada kuli di pelabuhan atau pasar, logistik terhambat. Jika tidak ada mama lambe, mungkin bahan pergunjingan yang termasuk kebutuhan dasar (secara tidak sadar) tidak terpenuhi. Sekiranya hal itu membuat siapapun idealnya bergeming. Untuk menyegarkan kembali pemahaman bahwa negara ini tidak terbatas hanya oleh aparat, izinkan saya meminjam judul lagu dari Coolio berjudul "Gangsta Paradise"-ups maaf, maaf, saya terlalu gandrung pada game balap jalanan berjudul "Ngebut" lansiran Electronic Arts. Mohon izin meminjam satu lirik dari salah satu korps alumni dengan jiwa korsa ciamik sebagai penutup.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya