#RemajaBicaraKespro-Yakin Pakaian Korban Jadi Alasan Maraknya Pelecehan?

Menyikapi maraknya pelecehan seksual


"Jangan salahkan pemerkosa dan pelaku pelecehan! Korbanlah yang mengundang syahwat!"

Advertisement

"Kalau nggak mau kena catcalling, ya jangan pakai pakaian yang mengundang nafsu!"

"Orang cuma dipegang aja nangis!"


SoHip pernah dengar kalimat itu? Atau justru SoHip sendiri yang melontarkan kalimat tersebut?

Advertisement

Pelecehan seksual dan pemerkosaan, rasanya hal ini terus memancing banyak orang untuk berbicara dan berpendapat. Berdasarkan cuitan di Twitter dan pengalaman pribadi, aku merasa banyak orang yang menganggap remeh pelecehan dan cenderung menyalahkan korban. Banyak orang yang selalu saja mencari pembenaran atas terjadinya pelecehan seksual.

Sedikit cerita pada pertengahan tahun 2018 ketika aku duduk di kelas sembilan SMP. Siang hari kira-kira pukul dua, aku bersepeda untuk kembali ke rumah setelah pergi memangkas rambut. Semuanya terjadi seperti biasanya. Jalanan sepi karena memang matahari sedang terik-teriknya.

Advertisement

Saat sudah hampir dekat rumah, tiba-tiba ada sebuah tangan dari belakang meremas payudaraku kemudian pergi begitu saja. Jujur aku kaget, nggak bisa ngomong apa-apa, bahkan untuk sekedar menghafal plat nomor pelaku aku nggak bisa. Aku masuk rumah dan nangis sejadi-jadinya.

Aku bercerita pada orang tuaku dan pada temanku. SoHip tahu bagaimana reaksi teman-temanku? "Mungkin baju kamu kebuka kali!" Ada juga yang justru menjadikannya lelucon. Sakit hati? Tentu! Saat menjadi korban pelecehan seksual, yang kita butuhkan adalah kata-kata penenang, bukannya dijadikan bahan tertawaan apalagi disudutkan.

Dalam hati aku berpikir apanya yang lucu? Apa iya aku yang salah? Kenapa semua kesalahan seolah-olah ada padaku? Banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku tentang hal itu.

Hal serupa juga dialami oleh seseorang yang bercerita melalui base di Twitter. Ia berkata ia sedang berjalan sendirian karena temannya telah lebih dulu menuntun motornya yang bocor. Kemudian ada segerombolan pria yang menggodanya dengan bersiul dan memegang tubuhnya. Mengalami pelecehan, ia menangis sejadi-jadinya. Namun, sepasang suami istri di belakangnya justru mencibir, "Makanya pakai baju jangan mengumbar aurat!" Padahal pakaian yang dikenakannya sangat tertutup dan dilengkapi kerudung rawis.

SoHip tahu kejadian yang terjadi baru-baru ini? Seorang perempuan dilecehkan saat sedang menjalankan ibadah salat. Dan hal yang membuat aku merasa miris adalah terdapat seseorang yang me-repost video tersebut dan menuliskan,


"Hmmm mungkin mukenanya itu terlalu ketat jadi mengundang syahwat laki-laki. Mukena zaman sekarang hanya dijadikan fashion aja sih. Mohon diingat juga buat para wanita kalau lagi salat di tempat umum sujudnya nggak usah terlalu nungging. Jelas aja laki-laki yang melihat jadi nggak tahan pengen megang. Lagipula wanita kan memang tidak dianjurkan salat di luar rumah. Kalo udah dilecehin, nangis. Padahal juga cuma dipegang doang. Ada-ada aja kelakuan wanita akhir zaman. Mohon maaf hanya sekedar mengingatkan aja. No debat no baper."


Rasanya sangat miris ketika korban selalu disalahkan. "Padahal juga cuma dipegang doang." Jujur saat membacanya aku merasa sangat sakit hati. Tidak ada perempuan yang ingin dilecehkan. Pandangan-pandangan masyarakat seringkali menganggap hal-hal yang sebenarnya merupakan pelecehan seksual sebagai hal biasa yang dapat dengan mudah diremehkan.

Hal-hal seperti inilah yang membuat korban cenderung memilih bungkam dan tidak berani menyuarakan suaranya. Anggapan remeh masyarakat, korban yang selalu disudutkan, masyarakat yang selalu menyalahkan pakaian dan mencari pembenaran atas pelecehan seksual, bukanlah hal yang mudah dilalui oleh korban. Sakit hati, menyalahkan diri sendiri, rasanya ingin bicara untuk meringankan beban pun percuma. Lagi-lagi korban akan disalahkan.

Seringkali aku berpikir kenapa laki-laki dan perempuan tidak saling belajar saja? Laki-laki belajar menghargai dan menghormati perempuan serta belajar menahan nafsunya. Sedangkan perempuan belajar untuk menjaga penampilan dan berani bersikap tegas.

Orang-orang terdekat korban pun juga harus belajar untuk menjadi obat penenang, bukan racun yang justru membuat korban semakin terpuruk dan menyalahkan diri sendiri.

Ceritaku ini hanya salah satu dari banyak kejadian pelecehan. Banyak korban yang mengalami hal serupa dan mungkin saja lebih parah. Mungkin dengan cerita ini SoHip akan lebih paham bagaimana perasaan korban dan apa yang harus SoHip lakukan ketika orang terdekat kalian menjadi korban.

Untuk korban-korban pelecehan seksual, jangan merasa sendiri, ya? Di sini kamu hanyalah korban. Pakaian adalah cara kamu berekspresi. Mau terbuka atau tertutup, pemilik nafsu bejat akan selalu seperti itu. Jaga diri baik-baik. Ingat kamu tidak bersalah!

Tetap tenang setelah kejadian. Foto plat nomor, wajah pelaku, atau apapun yang bisa digunakan untuk melaporkan kejadian. Yang terakhir, jika dirasa perlu, kamu bisa pergi ke tempat layanan kesehatan terdekat. Pelecehan bisa jadi memberikan luka dan trauma bagimu. Jangan lupa jaga dan rawat dirimu, ya? Ayo bangkit!

Akhir kata, jangan pernah menghakimi korban. Dengarkan dan jadilah penenang. Semoga dengan ini kalian dapat belajar memahami. Besar harapanku hal serupa tidak terjadi pada kalian.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Lahir dan besar di Surakarta, pada tahun ini Angel lulus SMA. Untuk mengisi waktu luangnya, Angel kerap kali menyibukkan diri dengan menulis, membaca, browsing, dan menghibur dirinya sendiri. Selain memiliki ketertarikan pada bidang kepenulisan, Angel juga tertarik dengan berbagai macam bidang, salah satunya seni peran. Pada masa sekolah menengah, Angel mengikuti ekstrakulikuler teater di sekolahnya. Tidak hanya menjadi anggota, Angel menjadi aktor dalam pentas produksi sekolahnya dan menjadi wakil ketua dalam ekstrakulikuler teater yang diikutinya.

CLOSE