Sekarang ini perkembangan meliputi berbagai hal. Termasuk perkembangan dalam mengutarakan pendapat.

Demokrasi sebagai azas yang berlaku di Indonesia adalah sebuah kebebasan mengutarakan pendapat oleh setiap warga negara bilamana mereka mempunyai sebuah aspirasi untuk disampaikan. Suasana negeri ini semakin sejuk dengan rasa toleransi antar sesama ditengah kemajemukan suku, agama dan budaya yang tanpa sadar telah menunjukkan kedewasaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Advertisement

Tapi rasa – rasanya itu hanyalah sekelumit gambaran yang diharapkan banyak orang agar demokrasi dalam menyampaikan sebuah pendapat selalu berada dalam porosnya dan perlu didasari rasa tanggung jawab untuk tidak menyalahgunakan “kebebasan” itu sendiri. Dewasa ini, udara kebebasan sudah tercampur polusi bualan yang tak menghiraukan nilai – nilai yang seharusnya menjadi patokan untuk tetap menjaga martabat negeri ini. Seperti udara di siang hari yang tak sesejuk saat embun pertama kali jatuh, sebelum fajar menyingsing. Dan sejak politik “ikut campur” dalam membatasi kebebasan berpendapat masyarakatnya sendiri.

Banyak hal yang membuat orang lupa diri dan merasa bahwa kebebasan berpendapat itu adalah hal yang wajar dalam negara demokrasi. Tanpa tersadar, anggapan wajar yang sudah teramini ini menjadi sebuah senjata penghancur demokrasi oleh pihak – pihak yang memang ingin menghancurkan nilai – nilai luhur negeri ini dari dalam, secara halus dan perlahan. Termasuk kelangsung nilai dan moral generasi penerus di masa mendatang. Berita palsu, plagiarisme, ujaran kebencian, dan sejumlah informasi – informasi dalam dunia literasi yang “sengaja dipelintir” sebagai sebuah pembenaran atas suatu kesalahan adalah bukti nyata demokrasi juga semakin terancam sekalipun hanya dalam bentuk tulisan.

Ya, hanya dalam bentuk sebuah tulisan. Karena sebuah karya tulis tidaklah "semurah" dan "segampang" membuat tulisan tentang kepalsuan, ujaran kebencian, plagiarisme, dan pembenaran atas suatu hal yang memang benar – benar salah secara nilai dan moral yang berlaku di masyarakat maupun negara. Maka ada waktu tersendiri untuk menakar pandangan soal “beda pendapat itu wajar”. Akan banyak perusak nilai dan moral generasi penerus di luar sana yang tersenyum puas jika asumsi kewajaran ini tidak dibarengi dengan kesadaran dan pemahaman yang benar. Pembiaran adalah alasan kekejaman mereka dalam dunia literasi terus berkembang. Teguran tidak akan berarti apa – apa bagi mereka, selama tidak ada kebenaran yang terus diusahakan oleh mereka yang masih mempunyai semangat dan tanggung jawab untuk menjaga martabat negeri ini.

Advertisement

Tapi pembiaran yang masih boleh dilakukan adalah dengan membiarkan masyarakat menilai suatu kebebasan berpendapat. Biarkan masyarakat menilai mana yang salah dan mana yang benar. Intuisi dan nalar adalah sebuah jalan terang, dan tidak ada jalan lain selain itu. Penggunaan demokrasi sudah terlanjur seperti ini, terlalu sulit untuk mengembalikannya seperti beningnya aliran air sungai yang belum terjamah. Siapapun bisa ikut hadir dalam pertemuan hitam dan putih, antara baik dan jahat. Dunia literasi pun sejujurnya miliki sisi hitam dan sisi putih hanya saja tak terlalu tampak seperti di kehidupan nyata. Tidak membedakan, tapi memang ini fakta yang harus diketahui. Tinggal kembali ke masing – masing pribadi untuk memilih aspirasi yang sekiranya tidak menjerumuskan.

Karena memang hidup adalah sebuah pilihan, ketika seseorang telah memilih jalurnya berarti ia sudah memilih di jalur yang demikian. Dan tergantung pada dirimu sendiri untuk benar – benar hitam dari luar dan dalam atau memilih untuk menyisakan bagian dalam dari dirimu untuk berwarna putih walaupun ada sisi luarmu menampakkan sisi hitamnya.

Tidak harus menghakimi satu sama lain dalam demokrasi, keragaman adalah warna yang indah. Atur pendirianmu, dan jangan sampai terlalu hanyut jika kamu merasa ada yang salah. Logika adalah salah satu cara bagimu untuk menyelamatkan diri dan moral bangsa yang besar ini. Setidaknya jika kamu tidak mengerti susahnya memperoleh kemerdekaan dari penjajah, jangan "jajah" bangsa yang sudah memberi kemerdekaan bagimu, generasi milennial.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya