Kartini merupakan sebuah tokoh yang terkenal dengan perjuangannya membela hak-hak wanita. Emansipasi wanita merupakan hal yang dikejar oleh Kartini dengan harapan bahwa wanita tidak lagi mengalami diskriminasi. Namun apakah hal yang diusahakan oleh Kartini telah berhasil untuk dicapai oleh wanita-wanita masa kini? Itu merupakan sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab.

Pada masa kini, peran wanita dalam pekerjaan sudah mulai mendapat pengakuan dan meningkat dibanding masa-masa sebelumnya, di mana wanita dianggap sebagai mahkluk domestik yang hanya berada di dalam rumah dan mengurus segala hal yang berbau rumah tangga, seperti mengurus anak, membersihkan rumah, memasak, mencuci baju, dan lain sebagainya. Pada masa kini wanita dapat memasuki dunia pekerjaan dengan lebih mudah. Namun angka partisipasi dari wanita hanyalah 54% dari angkatan kerja. Sebuah angka yang lebih rendah jika dibandingkan dengan partisipasi pria yaitu sebesar 84% dari angkatan kerja. Selain itu, upah dari pekerja wanita juga lebih rendah dari upah pekerja pria, yaitu sebesar 32% lebih rendah. Data di atas diucapkan oleh Sri Mulyani yang menjabat sebagai Menteri Keuangan. Maka dapat kita lihat bahwa terdapat perkembangan dibandingkan masa sebelumnya, namun masih terjadi ketidakadilan yang muncul dalam praktik secara konkrit di lapangan. Hal ini dapat disebabkan oleh pandangan masyarakat yang berjiwa patriarki, di mana segala hal yang menyangkut dengan nafkah dan kesejahteraan keluarga dibebankan kepada kaum pria, dan segala hal yang berbau rumah tangga diserahkan kepada wanita.

Advertisement

Namun sekarang muncul suatu golongan wanita baru yang bernama wanita karir. Hal ini mungkin dapat membuktikan bahwa dalam dunia pekerjaan, tanpa memedulikan gender, siapapun dapat berkontribusi dan layak mendapatkan upah yang sebanding dengan hasil dari pekerjaannya.

Pada bidang akademis, wanita juga terkadang mengalami beberapa hal yang tidak dialami oleh kaum pria. Betul, bahwa sekarang kesempatan untuk menempuh pendidikan lebih terbuka kepada kaum wanita dibanding waktu-waktu sebelumnya. Namun tahukah anda bahwa untuk menjalani suatu tugas belajar, seorang wanita harus memperoleh izin dari suaminya untuk dapat menempuh pendidikan tersebut? Hal ini tidak dialami oleh kaum pria yang hendak menjalankan surat tugas. Hal ini secara tidak langsung menggambarkan bahwa sang istri memiliki posisi di bawah sang suami, dan sang suami berhak untuk mengatur dan berkuasa atas kemauan istrinya. Padahal kedua belah pihak pada dasarnya berhak untuk mengatur dirinya sendiri dan menjalankan kemauannya, terutama di bidang keilmuan. Hal ini juga tidak lepas dari pandangan masyarakat yang memiliki paham di mana seorang wanita yang sudah menikah sebaiknya berada di dalam rumah saja dan mengurus hal yang bersangkutan dengan kerumah tanggaan.

Anggapan lain berupa bahwa ilmu yang didapat percuma karena nantinya sang istri juga akan mengurus anak. Namun sebenarnya kualitas dari anak yang memiliki asuhan dari ibu yang berpendidikan dan intelek akan lebih baik dibandingkan dengan anak yang memiliki orang tua yang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang cukup.

Advertisement

Kita sebagai generasi masa kini harus menyadari bahwa sebuah masyarakat akan semakin maju dengan adanya kesetaraan yang sejati antara pria dan wanita. Tidak mungkin seorang pria dapat berdiri sendiri tanpa adanya wanita. Sebaliknya, seorang wanita juga tidak dapat berdiri tanpa dukungan pria. Pola pikir masyarakat harus berubah dan melihat wanita bukan hanya sebatas mahkluk yang berada di dalam rumah, melainkan memandang wanita sebagai mahkluk mandiri yang berhak untuk bekerja, mendapat upah yang sesuai, dan dapat mengatur dirinya dan keinginannya sendiri tanpa harus terikat dengan ketidakadilan yang terjadi saat ini. Jika hal itu dapat terwujud, perkembangan Indonesia menjadi sebuah negara maju akan semakin mudah dicapai dan semakin cepat juga terealisasi menjadi sebuah bukti konkrit peran wanita yang besar dan dapat mendorong bangsa ini menuju kejayaan. 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya