Bagaimana mungkin aku dapat melupakan semuanya, di saat orang yang tulus sayang kepada kita namun kita memilih orang lain. Tapi di saat kita sudah mengerti, yang tinggal hanyalah sebuah penyesalan. Dia bukan orang yang baik dan romantis namun dia adalah pria yang selalu berhasil membuat diriku menjadi orang yang ceria dan benar-benar kesepian disaat sudah tidak bersama dengannya. Saat aku menulis ini, aku teringat akan semuanya, dan di dalam hati hanya bisa bilang jika aku  sangat menyesal. Dan apalah arti sebuah penyesalan jika semua sudah tidak bisa diulang dan diperbaiki lagi.

Semakin bertambahnya umur selalu berfikir kelak aku menikah dengan siapa. Selalu penasaran dengan sosok pria yang mungkin akan menjadi teman hidupku. Jujur aku sulit melupakannya, bayangannya selalu muncul dikepalaku. Kesalahan terbesarku adalah mengizinkan mu hadir di dalam hidupku saat ada pria yang sudah ada sebelumnya mengisi hatiku. Ini adalah hukuman untukku yang terlalu serakah. Tapi, aku juga nggak bisa berbuat apa-apa saat semuanya mengalir begitu aja, rasa sayang yang muncul secara natural yang tumbuh setiap harinya. Saat seperti ini aku hanya bisa menyalahkan diri sendiri, karena aku memilih orang yang salah.

Advertisement

Dari semua nya aku mengerti bahwa benar kata orang, mencintai itu tidak harus memiliki. Beberapa kali aku mencoba untuk menenangkan diri ku sendiri, berusaha untuk memaafkan diri sendiri dan mencoba tegar untuk melupakannya. Tapi semakin aku mencoba nya semakin rasa sayangu bertambah dan cuman bisa ditemani oleh kenangan yang dulu pernah ada.

Jika seandainya keajaiban datang, dia meminta ku kembali, akankah aku menerima nya dengan senang hati? Lantas merasa doaku telah dijawab? Mungkin jawabannya tidak. Karena aku menginginkannya untuk mendekati perempuan yang lain terlebih dahulu yang dapat dijadikan sebagai menjadi bahan pertimbangannya memilih pendamping hidupnya ke depan atau mengatakan padanya jika kamu sudah percaya padaku dan tidak mengingat serta mengungkit kesalahanku di masa lalu, pintu hatiku selalu terbuka untuknya.

 

Advertisement

Lalu? Bagaimana dengan pria yang saat ini sedang mengisi hari-hariku?

Aku bosan dan jenuh menghadapi sikapnya, aku terlalu lelah untuk selalu mengalah dan mencoba menjadi orang yang selalu memahaminya dengan semua kondisi. Bukannya aku mengkhianatinya, tapi aku mencoba untuk berpikir logis, lantas aku sampai kapan harus terus mengalah didalam segala keadaan.

 

Aku tidak ingin membandingkan mereka, di sini aku mencoba bercerita tentang penyesalan ku yang kata orang selalu datang terlambat. Dari sini aku belajar banyak untuk lebih selektif memilih pria yang ingin mengisi hati dan hari-hariku. Jika suatu saat aku dipertemukan dengan jodohku, mungkin aku akan menjaganya, dan melibatkan Tuhan di dalam hubungan ku dengannya.

Lantas apa yang harus aku lakukan sekarang?

Aku memperbaiki diri, belajar lebih dewasa lagi dan menerima keadaan. Tidak mungkin aku selalu berada terpenjara dengan penyesalanku. Kelak, jika jodohku sudah datang, aku sudah siap dan berusaha menjadi yang terbaik untuknya dan mencintainya dengan sepenuh hatiku.

Menyesal boleh tapi memperbaiki diri menjadi lebih baik itulah yang dibutuhkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya