Tidak bisa dipungkiri, setiap orang mempunyai sifat dan karakter masing-masing sebagaimana setiap orang juga mempunyai perbedaan bentuk fisik dengan satu lainnya. Dan ada kalanya bermacam karakter itu bisa membaur menjadi satu ketika seseorang berinteraksi dengan dunia luar dan bertemu berbagai macam tipe orang yang ditemuinya.

Bukan hanya dari tipe fisik, namun secara perilaku kadang seseorang juga sudah bisa mengira-ngira bagaimana sifat atau karakter yang dimiliki orang tersebut. Sayangnya, tidak sedikit juga orang yang pola pemikirannya terlalu klise ketika langsung menebak sifat dan karakter seseorang dari perilakunya yang terlihat sebagaimana sebuah pemikiran kakunya yaitu “Always look people by their cover”.

Sekelas seorang cenayang atau paranormal “yang katanya” punya indera ke-6 pun tidak selalu benar dalam menebak seseorang. Itulah mengapa kakunya pemikiran seperti ini seringkali membuat interaksi dengan individu atau suatu kelompok menjadi terkotak–kotak dalam penerawangan yang tidak selalu benar adanya.

Tampilan luar adalah tampilan yang paling sering menipu mata dan pesan pemahaman mengenai orang lain yang kamu lihat itu tidak sampai ke otak. Dan kamu mungkin sering kali terkecoh dengan aksi sulap dengan gaya close up atau jarak dekat yang menggunakan kecepatan tangan sehingga barang yang awalnya berada di genggaman telapak tangan kiri bisa berpindah ke genggaman tangan kanan atau malah mungkin berpindah ke tirai nomer dua saku celana.

Karena kelengahan mata sedikit saja saat seorang pesulap mengajakmu berkomunikasi, inilah kesempatan emasnya untuk membuatmu terkecoh dan menjadikanmu terkesima sehingga berpikiran bahwa ia adalah seorang pesulap yang benar–benar mempunyai ilmu magis.

Advertisement

Perlu dipahami, perbedaan karakter dan pembawaan seseorang adalah sebuah anugerah dariNya yang tidak ternilai. Itulah mengapa perbedaan suku, agama, dan ras yang ada di bumi dimaksudkan agar sesama manusia bisa saling mengenal dan memahami satu sama lain walau dengan segala perbedaannya. Dengan hanya mengandalkan penglihatan sebagai alat penilaian terhadap orang lain secara tidak langsung dan tanpa kamu sadari kamu tidak benar–benar bersyukur lahir dalam keadaan fisik yang sempurna sebagaimana sewajarnya seorang manusia.

Banyak orang yang tidak menikmati keistimewaan indera pendengar untuk mendengar untuk tidak mendengar dari “katanya” orang lain saja, melainkan mencoba sendiri untuk lebih mendengar orang yang bersangkutan agar ia dapat menilai sendiri bagaimana karakter seseorang yang ingin ia ketahui. Dan antara otak dan hati harusnya ada keseimbangan untuk mengendalikan sebuah pemikiran terhadap orang lain. Perlu ditekankan bukan menggunakan hati yang menyimpan empedu, tapi sebuah bagian di dalam tubuhmu yang bisa mengontrol perasaanmu.


Introvert sering dikaitkan dengan kepribadian seseorang yang pendiam, tertutup, dan pemalu. Kebanyakan introvert memang berperilaku seperti demikian, introvert cenderung sangat tertutup kepada dunia luar dan tidak biasa membaurkan dirinya dengan dunia luar. Mungkin lebih bisa dibilang jika introvert mempunyai sisi anti sosial dalam level yang berbeda – beda juga dibandingkan kedua kepribadian seseorang menurut psikologi.


Bagi introvert sepi dan kesendirian adalah 2 hal yang nyaman baginya dan sangat kecil bagi seorang introvert untuk lebih sering menatap dunia luar apalagi berkerumun diantara beberapa kelompok orang atau keramaian. Beberapa menit saja di keramaian sudah cukup membuat ia sangat merasa tidak nyaman dan ingin segera beranjak dari tempat itu. Dan apakah seorang introvert tidak mempunyai teman ? Tentu punya, namun tidak sebanyak mereka yang sering terlihat mempunyai kepribadian ambivert dan ekstrovert.

Hanya 1 atau 2 orang teman saja sudah cukup baginya. Bahkan sebagian introvert memilih untuk tidak mempunyai teman sama sekali saking tertutupnya kepribadian dirinya. Hal ini dikarenakan seorang introvert sangat hemat dalam berbicara, bahkan dalam suasana yang hangat dan cair sekalipun untuk bercanda dengan orang – orang di sekitarnya.

Sedangkan tipe ekstrovert adalah mereka yang seringkali terlihat periang, suka berinteraksi dengan banyak orang, dan juga terkadang “suka ceplas ceplos” dalam berkomunikasi dengan orang lain. Bahkan sebutan ekstrovert sendiri sering disamarkan oleh sebagian orang yang terlalu berambisi dan bangga dengan menyandang karakter ekstrovert dalam dirinya. Semisal seseorang yang sebenarnya hanya terlihat ekstrovert di lingkup pergaulan – pergaulan tertentu yang biasanya hanya dalam batas zona nyamannya untuk berinteraksi dengan beberapa individu lain dan malah sebaliknya ia sangat apatis bahkan mempunyai mempunyai kecenderungan untuk tidak membuka interaksi dengan orang – orang di tempat tinggal atau lingkungan terdekatnya.

Untuk tipe ambivert, tipe karakter pada diri seseorang ini bisa dibilang gabungan antara introvert dan ekstrovert. Dimana seseorang terlihat pendiam, namun di lain kesempatan ia juga sangat cakap dan tidak kaku ketika berinteraksi dengan orang lain dan ketika ia terlihat tertutup dan pemalu, di suatu kesempatan ia mempunyai kemampuan yang sama dengan seorang ekstrovert. Yaitu dengan santai berbaur dan menikmati keramaian dan tidak jarang ia juga bisa mengungkapkan perasaan atau sikap yang dimiliki dan terkesan lebih jujur dan apa adanya daripada menutup – nutupi kekurangan ataupun kelebihannya.


Jika diamati, ketiga tipe karakter pada diri masing – masing orang ini yang menjadi pembeda jelasnya adalah hanya pada masalah rentan waktu tiap karakter dalam mengekspresikannya.


Sayangnya banyak orang yang kurang paham dan hanya menelan sebuah informasi secara mentah tanpa mengolahya yang dibarengi dengan pengamatan yang lebih lanjut mengenai kepribadian atau karakter seseorang. Karakter ambivert seringkali disamakan dengan karakter introvert, dimana memang secara sekilas keduanya mempunyai kesamaan dalam hal agak pemalu dan terlihat pendiam. Namun bukan berarti seorang abivert tidak mempunyai teman sama sekali seperti halnya sebagian introvert, mereka juga bisa menyesuaikan keadaan dan membuka perkenalan dengan orang – orang baru asalkan ia paham dengan sikon dan merasa menjalin pertemanan dengan mereka.

Mungkin kamu tidak asing bagi kamu sebuah pepatah "Malu – malu kucing" dimana seseorang terlihat sangat pemalu, tertutup dan pendiam di awal pertemuan, namun sangat terbuka setelah beberapa waktu mereka bersama dengan orang – orang yang di sekelilingnya dan merasa sudah tepat waktunya ia mulai banyak berinteraksi dengan mereka.

Seorang introvert tidak bisa benar – benar menilai seorang ekstrovert adalah seorang ekstrovert maupun sebaliknya, dan intinya masing – masing karakter tidak bisa benar – benar menilai atau menebak karakter seseorang dengan hanya mengandalkan apa yang mereka lihat saja. Dengan begitu pepatah “don’t look the book by its cover” adalah sebuah pepatah yang seharusnya di pahami betul ketika ingin menilai seseorang. Dan tak jarang ketika seseorang ingin menilai orang lain secara menggebu – gebu ada alasan tersembunyi bahwa ia ingin mengambil kesempatan untuk menutupi kekurangan dalam dirinya.

Dan jalan pintas yang paling pengecut dari orang yang tidak pernah mengakui kesalahannya adalah dengan “just blame it to the others”. Lalu biasanya akan berlanjut dengan drama yang paling dikuasai tipe orang bermuka dua dalam konotasi negatif yang biasa disebut dengan “playing victim”. Karena biasanya orang dengan tipe seperti ini punya sisi ego dan gengsi yang kelewat tinggi.

Mungkin introspeksi pada diri sendiri adalah langkah yang lebih tepat dibandingkan dengan memberi label seseorang dengan penilaian instan yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Terkecuali, jika memang sudah mengenal orang tersebut secara lebih dekat itu adalah hal yang sah – sah saja untuk menilainya.


Karena sejatinya dengan penglihatan sebatas penglihatan mata, orang hanya bisa mengira – ngira apa yang mereka lihat, dan bukan apa yang mengerti dan pahami.