Tentang rindu, tidak pernah lunas untuk diperbincangkan, menuai rasa yang akan sukar untuk direngkuh. Selalu saja menukik dalam rasa, membuncah dalam imajinasi. Ia selalu menghujani setiap perjalanan. Rasa yang terbentuk menuntun kita agar lekas merayakan indahnya sebuah pertemuan.

Advertisement

Sejatinya percakapan rutin lewat aplikasi berbalas pesan sebenarnya hanya untuk membasmi rindu yang makin akut. Rindu ini tidak akan pernah surut, tak lekang oleh ruang dan waktu, meski jarak telah memisahkan kita begitu jauh. Akan tetapi, rindu akan terus-terusan hadir seiring dengan rindu yang belum berujung temu.

Di dalam perjalanan waktu, salah satu doa yang saya daraskan pada malam yang beranjak di antaranya tentang kamu, sosok yang selalu muncul dalam lamunan yang selalu  hadir untuk mendongkrak indahnya hari-hari yang akan dilalui. Namamu selalu terbawa setiap waktu, mengguncang haru dan merasuk kalbu, tentang suatu etape untuk berdua dan bersatu, hingga maut memisahkan kita untuk selamanya.

Advertisement

Saat malam tiba, bertutur polos di bawah malam sering dijadikan pilihan untuk membunuh rasa rindu. Jangan pernah malu untuk bersahut-sahutan pada malam. Sampaikan sejujur mungkin bahwa rindu ini masih tertanam di dalam hati, berkembang dari waktu ke waktu hingga kelak waktunya akan berbuah.

Rindu ini tidak akan ada habis-habisnya. Ketika ia telah menggunung, ia akan meletus hingga memaksakan rasa dan raga untuk mengungsi pada ruang temu. Hingga kita tiba pada sebuah ruang dan waktu untuk merayu kisah. Dengan demikian kita telah memiliki hak untuk membantah segala kerisauan yang telah lama mengakar.

Sekarang dan di dalam perjalanan hari-hari yang sedang diarungi, sudah tidak terhitung lagi malam yang beranjak dengan label yang masih sama; rindu kian menggila. Semuanya belum berubah sama sekali, sementara rambut kian beruban. Pilihan untuk membungkamnya cukup menikmati malam temaram dengan harapan demi harapan kian berlalu, biar rasa rindu ini segera dirayakan berdua dan bisa bersua di bawah langit senja.

Saat ini dengan berbagai pergulatan baik dan buruk di tanah rantau, akan selalu muncul harapan pamungkas agar pundakmu sebagai pelabuhan terakhir. Aminku adalah namamu yang mengakhiri petualangan panjangku. Doaku adalah kamu sebagai pendampingku untuk selamanya. Tidak ada lagi doa yang lain saat malam kian beranjak pergi. Hanya untuk kamu seseorang.

Sebagai pecinta kopi, engkau termasuk kopi yang akan terus-menerus diseruput dari waktu ke waktu. Engkau merupakan cangkir terakhirku dalam petualangan panjang ini. Saya selalu berharap agar kelak di suatu waktu, kamu yang menyeduhkan kopi untukku di pagi dan di sore hari. Ya, begitulah seluruh impian senja yang sering aku panjatkan sebelum senja kembali ke peraduan.

Langit malam juga sering saya jadikan sebagai medium pelampiasan rindu. Ketika menatap langit malam selalu aku jadikan medium untuk ditatap, padanya selalu ada rindu yang dititip.

Setiap cakrawala beranjak gelap, ketika angkasa sudah mulai menguning senyap, dan hari akan lenyap, rasa rindu untuk ingin melihat senyummu membuncah dalam lamunan. Rasa rindu selalu mencundangi logika, ia hanya sanggup mengamini. Sepertinya, agak terlalu sukar jikalau rasa berusaha untuk terpaksa menerima logika. Biasanya rasa selalu bentrok dengan logika. Rindu terlampau gagal untuk dipahami logika.

Seperti catatan Fiersa Besari dalam novel Konspirasi Alam Semesta, seorang anak muda yang komplet, adalah seorang petualang, musisi dan penyair, ia menguatkan kekasihnya dengan lidah yang memanjatkan dalih yang membidik rasa. “Kamu dan Indonesia adalah sejuta pesona yang disampul oleh rasa sakit. Bedanya, kamu sudah sembuh dari sakitmu, negeri ini belum”, tutur Juang pada Ana, kekasih abadinya.

Juang benar, bahwa segala sesuatunya butuh diperjuangkan. Tak ada hasil tanpa perjuangan panjang. Seluruh jejak kehidupan di muka bumi ini membutuhkan perjuangan yang tak kecil untuk meraihnya. Aral melintang akan tiba bersamaan ketika kita berjuang menuju titik puncak. Rindu juga demikian. Ia lahir tidak utuh, akan tetapi membutuhkan nyali yang besar untuk merengkuhnya hingga tampil menawan pada sebuah ruang temu.

Asalkan seluruh ampas-ampas kenangan yang masih tertahan di dalam ruang kenangan dibuang jauh-jauh. Sebab membiarkannya bertumbuh dan berkembang justru akan kian pelik untuk kita melangkah menuju rindu yang lain, apalagi hendak membangun suatu harapan serta merayakan rindu yang tertahan. Sungguh teramat sukar untuk bisa mewujudkannya. Percuma juga kamu merajut langkah jika masih sesalkan fakta, engkau pun akan merasakan sesak untuk memompa rasa yang hendak kita tata.

Karena itu, jangan simpan ampas-ampas kenangan jika kita hendak merawat masa depan secara bersama-sama. Di sini aku selalu mengharapkan agar kita dapat merayakan rindu pada sebuah masa tanpa ada bayang-bayang masa lalu. Toh, kita melangkah ke masa depan bukan untuk kembali ke masa lalu, apalagi untuk mengungkitnya kembali. Jangan sampai itu terjadi.

Pada akhirnya, saya percaya kita akan merayakan rindu ini dengan utuh. Tanpa ada pihak yang menginterupsi kebahagiaan yang sedang kita rayakan. Dengan begitu rindu ini akan terbayar tuntas, rasa yang tertahan juga tak akan lekas.

Kini dan di sini, seluruh rasa rindu yang aku miliki ditampung dalam bejana yang sudah mulai dirangkai. Saat melihat senyum manismu pada foto yang kamu kirim, tampak senyumanmu meruntai dalam bibir yang menggoda. Aku rindu. Teramat rindu.

Nona, tetaplah melangkah. Saya di sini terus-terusan merawat mimpi-mimpiku, mimpi-mimpimu juga. Begitu juga dengan kamu, teruslah merawat mimpi-mimpimu, mimpi-mimpi kita kelak. Percayalah, rindu kita akan  terbayar lunas pada suatu waktu kelask. Asalkan kamu setia menunggu saya pulang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya