Perjalanan waktu sangat cepat berlalu if you know that, sekian cepat berlalunya kenangan yang pernah tertoreh di ingatan masa lalu ini. "Ia benar!". Ketika itu masih berada dibangku kelas 7 SMP (sifat kekanak-kanakan pun masih dimiliki). Setiap jam istirahat pertama berbunyi kau selalu berada di depan kelasku, tak ada angin tak ada hujan entah mengapa kita seperti seseorang yang memang telah ditakdirkan bersama dan dengan sengaja atau tanpa sadar kita menjadi begitu dekat dan sangat akrab.

Canda tawa pun hadir di dunia kami, ketika itu memang aku memulai menggodanya dengan mengejeknya bahwa ia menyukai seseorang dari anak kelas sampingku ia 7 B (aku berada dikelas 7 C dulu). Boleh dikata anak itu memang cantik, layaknya bidadari tanpa sayap yang sangat berkilau dengan rambut hitam panjang nan lebat dan indah (ia pindahan dari daerah Juwana sepertinya) semua mata akan terpanah jika melihat gadis ini, samai-sampai para guru juga ikut menyukainya.

Advertisement

Kalau boleh jujur memang dia enak sekali pas dilihat, basicnya sih gue suka nonton cewek-cewek cantik (bukannya lesbian yah, gue normal tau). Gue suka lihat cewek-cewek yang rasanya di hati gue kalau pas ngelihat serasa adem kayak punya inner beauty gituh. Eits, balik ke topik ya, mungkin kalau dibanding sama gue, emang gue enggak ada apa-apanya sih dibanding tuh cewek.

Hari pun berganti, setelah beberapa lamanya suka bercanda bareng si dia. Hari di mana gue belum tepat rasanya untuk memulai membuka sebuah lembaran hati, alasannya sih simple gara-gara gue belum cukup umur dan masih polos-polosnya ketika itu. Jadwal piket membersihkan lapangan pun hadir, gue bersama temen-temen gue pun pada bersihin tuh.

Dan dia lagi duduk di depan kelas gue, saat itu gue bagiin permen ke temen-temen gue. Dia seolah-olah ngasih kode buat minta permen itu juga, dan gue enggak ngerespon. Nah ini awal rasanya kami memiliki pertempuran dalam hati namun tak pernah terungkap apa yang dimaksud (jangan-jangan yang ngerasain gue sendiri nih). Kenaikan kelas pun datang, aku masuk kedalam kelas paling akhir (eits jangan salah yah, kelas terakhir itu bukan berdasarkan nilai di sekolahan gue dulu, kelas ini tuh oplosan dari yang terpintar sampai yang kurang pintar yah jangan salah).

Advertisement

Di level kedua ini kita enggak pernah ngomong sama sekali sih, tapi dia sering kok lewat depan kelas gue (apa gue yang ke GRan, huh), tapi kalau dipikir-pikir kelasnya dia sama gue jauh kok. Huh, Ya sudahlah.

Level ketiga pun datang, tantangan di mana genting-gentingnya mengahadapi ujian nasional. Ketika lo tahu bahwa dia pacaran sama temen sekelas gue ketika masih dikelas 7 C yang sering gue curhatin tentang dia, malah dia sekarang pacaran sama temen gue itu.

Setelah beberapa bulan liburan sekolah muali masa baru yaitu masa di mana gue memasuki dunia baru yaitu masa SMA, niatnya mau membuka lembaran baru. Ternyata pas sore-sore lagi liat-liat SMA, ketemu sama dia dan nanya "kamu juga daftar di sini?" Dan apa jawaban bodoh saya "ya" (dengan judes dan buru-buru menghindar) huh.

Sampai lulus SMA udah enggak pernah ngomong sepatah mau pun sepenggal ataupun dupatah kata sama sekali. Pernah inget malam-malam pas mau fotocopy kayak ada yang manggil sepertinya sih tuh orang tapi entahlah. Mungkin dia pergi tuk megnhilang.

Tapi apa kabar ya, sekarang udah pada gede? Kuliah atau kerja aja enggak tahu gue?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya