Hai, apa kabar hatimu? Sudah hilang sesaknya?

Berapa bulan yang lalu kamu rutin menghampiriku dengan sebungkus cerita yang tengah mencompang- campingkan hatimu. Kau bilang kekasihmu meninggalkanmu tanpa pikir seberapa banyak perjuangan yang sudah kalian lakoni.

Advertisement

Perihal kamu, mungkin aku tak sepaham kekasihmu itu. Kekasihmu mungkn jauh lebih memahami segala yang melekat pada dirimu. Tapi entah kenapa hatiku memaki tanpa henti kepada ia yang telah membuatmu kecewa. Betapa begonya ia yang telah mengecewakan kamu dan sosok seperti apa sebenarnya yang ia cari sampai sebegitu teganya ia menghempaskanmu hanya karena orang ketiga? Maaf aku kasar. Tapi sungguh aku ingin tahu, dimanakah ia meletakkan hatinya, dimanakah ia memposisikan otaknya sehingga ia dengan sadarnya meninggalkan kamu yang telah bertahun-tahun memperjuangkan segalanya. Butakah ia dengan ketulusan yang kau suguhkan? Sungguh aku tak habis pikir.

Maaf aku terlampau emosi. Tak sepantasnya aku berkata seperti itu karena siapa aku bagimu saja aku tak tahu. Bagiku, kau terlalu sayang untuk menerima perlakuan macam itu. Tak akan ku buat kau merasakan yang demikian untuk kedua kalinya jika aku bersamamu.

Aku tahu rasanya ditinggalkan begitu saja dengan rentetan peristiwa bertahun-tahun dibelakangnya. Jika ada kata yang lebih tragis dari remuk, seperti itulah hatiku waktu itu. Bayangkan saja, kau telah bertahun-tahun bersama hingga sama-sama hafal bagaimana harus memperlakukan satu sama lain pada situasi yang berbeda-beda, saling tahu segala kebaikan yang melekat pada masing-masing kami dan tetap mencintai meski saling tahu ada hal-hal yang tidak disukai yang melekat pada masing-masing kami.

Advertisement

Kami pernah berbagi tentang mimpi kami masing-masing. Aku mendukung segala sesuatu yang menjadi mimpinya dan ia pun percaya atas mimpi-mimpiku. Kami bertekad untuk saling berdampinngan meski jalan kami meraih mimpi memang tak sama. Ia yang selalu meyakinkanku bahwa hanya bersama akulah ia akan mewujudkan mimpinya. Aku percaya.

Bodoh!

Aku bodoh karena telah begitu saja mempercayai setiap kata-katanya. Begitu jahat semesta membalikan kenyataan. Aku diposisikan sebagai princess di negeri dongeng kemudian tanpa aba-aba dibantingkannya aku pada pahitnya kenyataan. Aku tak berbentuk. Aku menyesal telah meyakini secara utuh tiap tutur katanya. Omong kosong jika ia pernah berkata bahwa hanya bersama aku lah ia akan mewujudkan mimpinya. Yang ia lakukan justru berpaling pada orang lain disaat mimpinya mulai menyata. Ini memang sakit buatku.

Tapi yang membuatku menjadi hancur lebur tak berbentuk ialah caranya meninggalkanku. Aku tahu benar siapa dia. Ia tengah lelah dengan ratusan kilometer diantara kami. Ia mulai lelah dengan mimpnya dan ia butuh orang yang nyata untuk selalu ada didekatanya, sementara aku, ada mimpiku dan ratusan kilo meter di depan yang membuat aku tak bisa secara nyata ada untuknya.

Dan pada kondisi kami yang demikian, masuklah orang lain yang nyata ada didekatnya. Aku sudah membaca kedekatan mereka dan sempat aku bicara dengan orang baru itu. Aku memohon padanya untuk tidak mengusik kami, aku ceritakan kepadanya bagaimana kami bersama-sama hingga sampai pada detik itu. Aku ceritakan betapa tidak mudahnya kami untuk sampai pada titik itu. Tolong jangan rusak kesakralan ini.

Tapi semua percuma. Aku ditinggalkan dan kalian telah menodai apa yang sudah ku angggap sakral selama bertahun-tahun.

Sebuah helaian napas panjang…………….

Kamu…..

Karena aku tahu rasanya dikecewakan, sungguh aku berusaha untuk tidak mengecewakan orang yang telah menaruh harap padaku. Dan sekali lagi, sungguh kamu terlalu sayang untuk dikecawakan lagi.

Untuk menutup tulisan ini, izinkan aku menyanyikan sepenggal lagu dari sheila on 7 – pemuja rahasia

Mungkin kau takkan pernah tahu betapa mudahnya kau untuk dikagumi mungkin kau takkan pernah sadar betapa mudahnya kau tuk dicintai

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya