Jangan Pergi

Seandainya mampu berucap untuk jangan pergi.

Advertisement

Menyisakan sedikit rasa yang tertinggal untuk menggenapi.

Menyisakan sedikit waktu untuk saling berbagi.

Aku beranjak untuk menepi ke bibir pantai,

Advertisement

Bercerita dengan lantangnya kepada ombak yang bergemuruh.

Tiada pun yang memahami, seandainya engkau membuka sedikit celah hati yang bersembunyi.

Namun hanya semilir angin yang menemaniku, menghempas tubuh ini, membawaku serasa jauh terbang mengikuti ruas bayang-bayang yang menghampiri.

Deru ombak nan tenangnya menyelimuti diri.

Mampukah ku untuk berlari mengejar bintang,

Sedangkan bintang hanya mampu menyapa dan tersenyum di angkasa.

Mampukah ku menggapai bintang nan jauhnya di langit yang gemerlap.

Begitu indah nan teduhnya bersahaja.

Lantas, aku pun bersuara dan bersahabat dengan bayangmu.

Aku bersahabat dengan yang disebut titian takdir.

Kedamaian yang mengecup nurani iman didalam diri telah menyapaku dengan hangat.

Pada ufuk senja aku selalu mengingatmu.

Yang tak pernah lepas dari bias kasih. Sebuah kisah yang menghiasi langitnya.

Saat dirimu nanti kembali..

Tetaplah di sini untuk melengkapi dan berbagi kisah dalam perjalanan di sepanjang kisah yang merajut setia.

Andai aku mampu dan sanggup untuk berkata dan meminta, Tolong jangan pergi.

Kepastian

Saat hadirmu tak lagi ada,

Aku bersyukur kepada semesta dengan yang masih tersisa dan segenap rasa yang tertinggal.

Saat hadirmu tak lagi ada,

Aku berterima kasih kepada semesta karna darimu aku belajar ketegaran.

Saat hadirmu tak lagi ada, keyakinan ini kepada semesta semakin mengangkasa.

Karena, Semesta sedang menunjukkan sesuatu yang sangat berarti arti ketulusan.

Saat hadirmu tak lagi ada, do'aku kepada semesta begitu menggema luas dengan hebatnya.

Saat hadirmu tak lagi ada, diriku pun tersenyum menghadapi semuanya.

Dan aku masih dengan setianya menjaga segaris Susi hati yang selalu mengarungi.

Saat dunia tak bermentari, Lentera hati ini selalu memancari sinarnya yang benderang.

Menemani piluku, saat mendera mengelabui seluruh insani.

Kepastian yang pernah engkau patrikan,

Kemana ia berlari?

Adakah kepastian, ketulusan tanpa syarat yang abadi?

Ataukah itu hanya ada dalam lamunku,

Merenungi diri, menghinggapi diri, membasahi kelopak mata.

Arti kata perpisahan yang belum engkau tuntaskan.

Arti kata yang hanya tercatat pada selembar kertas putih.

Kepastian yang belum engkau tuntaskan,

Kepastian yang belum engkau utarakan.

Haruskah berpasrah kepada sang waktu,

Menunggu waktu yang bercerita menjawab semua tanya.

Hingga tiada lagi tanya yang menghiasinya, hingga tiada lagi membekas goresan lara yang masih tersisa.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya