Jatuh

Gundah ….. 

tak ingin mengucap salam berpisah.

Ragamu kepunyaan orang lain. Namun dalam kenangku tak ada yang lain. 

Kita memang pernah satu, sebelum akhirnya dipisah sang waktu. Kau jatuh dalam peluknya, di ikat oleh ijab dan buat mata ini sembab.

Berjam mengenangmu, takan membuat kau jatuh di pelukku

Kau adalah lamunan. Hayalan semu dan takan pernah berujung temu. 

Kau buatku jatuh hati dan patah berulang kali


Advertisement

Malang, 21 April 2019

Arif Mulyono


Petrichor

Advertisement

Sebentar lagi Ramadhan akan tiba. Namun, tak lagi bisa ku lihat wajahmu kembali di antara keluarga. Sudah lebih dari sewindu, kita tak lagi berkumpul bersama. Tapi masih saja, rasa rindu ini sesakan dada.

Ayah, apa kabar dirimu disana? Apakah nyaman di pangkuan Sang Pencipta? Dulu, kita memang sering bertengkar. Ternyata setiap rasa kesalku padamu, kini menjadi sesal. Ingin sekali lagi rasanya ku teriakan “Aku pulang!”, dan ingin sekali lagi aku dengar suaramu mengucap “Selamat Datang”.

Masih saja aku ingat masa itu. Waktu dimana rumah tak lagi lengkap, bagai bangunan tanpa atap. Kau berada dalam sakitmu. Terbaring selama setahun seperti seorang yang sedang pensiun. Aku tahu benar, bukan seperti itu cara beristirahat yang kau inginkan dari lelahnya bertahun mengabdi untuk Bangsa dan Negara. Tetapi Tuhan nyatanya punya cara yang berbeda.

Hembusan nafas yang hilang adalah penawar yang di berikan Tuhan. Jawaban untuk setiap perkataan “lelah” yang tak berkesudah. Lelah dari setiap juang melawan sakit yang panjang dan lelah karna tak lagi kau miliki semangat juang.

Bukan itu, penawar yang kuinginkan. Penawar yang buat diri ini gemetar. Penawar yang buat diri ini tak tegar, melihat sekujur badanmu kaku, tertutup kain putih dan bukan gamis kali ini.

Di setiap sujudku pada malam – malam bisu. Rasanya ingin ku putar kembali waktu, berharap kembali ke pangkuanmu. Saat dirimu belum berpulang, saat senyum di wajahmu lebar.

Dan Ibu,

Bercucuran air matamu, saat jasadnya di kebumikan. Perlahan jasadnya mulai tertutup tanah bagai mengucap salam berpisah.

Hari itu kau mulai sering melamun dan wajahmu tak lagi ada senyum. Kehilangan separuh jiwa hampir membuatmu mati rasa. Dialog pagi yang biasa terjadi, kini berubah monolog. Kau berbicara pada dirimu sendiri, kemudian menangis lagi.

Namun, takdir Tuhan terus berjalan dan waktupun mulai kau taklukan. Kau mulai bangkit, dari rasa sakit. Pulih dari kehilangan orang yang dicinta, pulih dari setiap mati rasa. Perlahan kau mulai berbesar hati untuk melepas, perlahan kau mulai ikhlas. Senyum yang pudar kini mulai melebar, bagai kuncup yang layu, kau mulai mekar.

Ibu, akhirnya ayah telah berpulang. Mengistirahatkan lelahnya saat berjuang, mengistirahatkan lelahmu saat ikhtiar.


Malang, 21 April 2019

Arif Mulyono

 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya