Dear Mr. Dumper,

Aku kira aku mengenalmu, tapi ternyata punya cerita di masa lalu bukanlah sebuah jaminan untuk tahu karakter seseorang. Memang benar kamu sudah “mengejar”ku sejak masa sekolah, tapi sepertinya yang kamu taksir waktu itu hanyalah ide tentang diriku, bukan aku yang sebenarnya. Bahkan, kamu berani menawarkan mimpi masa depan di saat kamu sendiri belum begitu yakin akan kata-kata yang kamu ucapkan. Bodohnya lagi, aku terbuai.

Advertisement

Kisah kita dimulai pada sekitar tahun 2007, saat kita masih sama-sama baru mencoba memahami apa itu ketertarikan dan perasaan. Kamu mendekati ku dengan berbagai cara, ku bahkan masih mengingat kumpulan puisi yang kau buat untukku. Hingga akhirnya kamu menyatakan perasaanmu dan aku menolak.

Kamu mencoba lagi saat kita sedikit lebih dewasa, beberapa kali lebih tepat nya, dan ku tetap menolak. Jujur waktu itu akupun tak yakin kenapa ku menolakmu, karena kamu terlihat seperti pria baik namun hatiku tak pernah bisa berkata iya untuk ajakanmu.

After saying no to you for multiple times during those years, I finally think this might actually work. Pada saat itu, Juni tahun 2018, ku begitu ingin hal ini berhasil. Ku mulai melihat mungkin yang selama ini kamu tawarkan benar bisa jadi kenyataan. Kamu memberikan banyak argumen untuk meyakinkanku, dan most of them actually make sense to me. Aku bahkan mengindahkan beberapa kesalahanmu di masa lalu.

Advertisement

Dan mulailah aku merasa attached kemudian berasumsi kalau kita benar berada di pemikiran yang sama tentang hubungan ini. Bahkan, kamu berani berjanji untuk memperjuangkan hubungan kita, mulai dari menentukan rute ke kantor yang sudah kamu pikirkan hingga rencana pengembangan karir jika kita benar bersama nanti. Then, you suddenly changed, ignored me, and told me not to expect much from you. What a twist! I should've seen this coming.

Weeks went by, and I didn't hear a word from you. Tapi ku mendapat kabar dari temanmu yang juga temanku. Did you forget that we have mutual friend? Or this is part of your game to let me know about  this from someone else. What a coward move!

Ku tak habis pikir, kamu mengatakan pada mereka bahwa kejadian ini adala karena kesalahanku. Apa kamu lupa bagaimana ku membantumu saat kamu sedang kesulitan, bagaimana ku berusaha menyesuaikan agar hubungan ini berjalan dengan ritme yang kamu inginkan?

Dan kemudian ku tahu, bahwa sebenarnya kamu sudah berhubungan lagi dengan mantanmu saat kita masih bersama. Why don't you just tell me instead of blaming me?

Kini ku mulai sadar, bahwa hampir semua yang pernah kamu ucapkan pada ku adalah kebohongan. And you are very good at it. Jangakan rasa peduli, kamu bahkan tidak menghargai aku sebagai seseorang yang punya perasaan. Kamu pernah bilang bahwa kamu begitu sakit hati saat ku menolakmu dulu, jadi ini bentuk pembalasan darimu?

Ini membuktikan dua hal bagiku: you are not a good guy that I thought you were; and you are definitely not a trustworthy person. I should've hold into what my heart said initially, to keep rejecting you.

Tapi sudahlah, kini ku hanya ingin melanjutkan hidup tanpamu. At least, you have showed me that I'm capable of love and care, and I won't find my true happiness with a guy like you. Since you've move on or should I say getting back with someone now, semoga kamu sekarang lebih bisa menghargai perasaan wanita, lebih bisa bertanggung jawab atas tindakan dan keputusan yang kamu ambil, because honestly you still owe me some explanation.

Saat ini ku masih berusaha untuk bisa memaafkan mu. Saat ini ku masih berusaha menyembuhkan perasaanku dari kekecewaan atas berbagai harapan yang dulu kamu ciptakan dan lambungkan. Ku harap kini kamu bisa lebih mempertimbangkan ucapanmu agar tidak menjadi harapan palsu untuk wanita yang bersama mu kini dan kelak. You know you can still contact me directly, if you have the gut to do it. I'll be more than happy to hear your explanation, but I know I can't expect much from you.

Not-so-sincerely,

Me

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya