Dua tahun lalu, hari ini, 23 Februari.

Saya bertolak dari Yogyakarta menuju negara impian, yang selalu saya idamkan sejak SMP.

Advertisement

Inggris, United Kingdom.

Saya suka nama itu, United Kingdom, Kerajaan yang Bersatu, cantik sekali.


Udara Inggris waktu itu cukup dingin, tapi tidak sampai bersalju. Saat melangkah keluar dari Heathrow Airport rasanya seperti ingin menangis, maklum saya terbiasa dengan udara Jogja yang hangat dan tropis. Sudah siap dengan winter coat pilihan Mama, saya dan tim dari kampus bertolak menuju Central London menggunakan underground dengan Oyster, kartu transportasi super keren, bisa dipakai untuk naik underground dan bus yang kami beli di salah satu minimarket yang ada di dalam bandara.

Advertisement

Saya juga membeli kartu SIM untuk mempermudah komunikasi dengan orang rumah. Sebelum menaiki underground, saya bertanya-tanya dulu ke penjaga minimarket, kemudian ke officer yang kebetulan bertugas di sana, “Sir, we’re going to Central London, is it right that we get on the next train?” “Yes, just tap the card on the machine and you’re free to go, have a pleasant day!” Kurang lebih seperti itu isi percakapan kami. Akhirnya, perjalanan saya sebagai orang dewasa di negara asing, Inggris negara impian, secara resmi akan dimulai!

Dulu, saya tinggal di sebuah hostel yang ramah bagi mahasiswa (baik dari harganya maupun akses yang strategis, jadi dana tidak banyak terbuang untuk transportasi) di daerah Hyde Park, tepatnya di jalan Queen’s Gate, jaraknya hanya 5 menit jalan kaki dari Imperial College London (alasan utama mengapa saya berada di Inggris saat itu). Sebenarnya hostel kami ini gampang untuk ditemukan, tapi bukan hal itu yang terjadi. We spent roughly 1 hour (or more) to find this beautiful place to stay.

Internet di ponsel saya tidak bekerja dan kami harus menjelajahi neighbourhood sekitar stasiun Gloucester Road. Saat mencari hostel waktu itu lelah sih, tapi kalau diingat-ingat jadi lucu juga, kapan lagi bisa hilang di London, ya? Hihihi. Hostel yang saya tempati merupakan sebuah old, historical building jadi di dalamnya tidak ada elevator. Kamar saya berada di lantai 4, koper saya sangat besar, harus naik tangga, tapi pengelola hostel adalah seorang yang baik hati dan ramah sekali, beliau bersedia mengangkut koper saya padahal dari bentuk luar saja sudah pasti berat, jelas waktu itu saya overpack.


Keramahan pengelola hostel membuat kesan pertama saya tentang orang Inggris jadi sangat baik sekali, ah, UK, belum apa-apa sudah dibuat jatuh hati.


Setelah membereskan barang bawaan di kamar, saya dan teman-teman beristirahat sejenak. Kemudian mapping lokasi untuk event besok hari. Ternyata, tempat tinggal kami tidak jauh dari Natural History Museum, memang rezeki tidak akan kemana. London benar-benar cantik, saya tidak mengerti lagi bagaimana bisa sebuah kota menjadi begitu cantiknya tanpa perlu bersusah payah.

Sepanjang perjalanan malam itu, rasanya saya ingin memotret semua sudut kota idola ini. Pohon-pohon di sepanjang jalan, lampu-lampu rumah, lampu sen kendaraan, mobil-mobil yang parkir di depan bangunan-bangunan indah yang entah rumah atau kantor, semua indah. Seperti puisi saja kota ini. Membuat takjub, penuh pesona, bikin rindu.

Malam itu kami berjalan kaki dari Queen’s Gate, menemukan red telephone box pertama kami, kemudian berlanjut ke Cromwell Road. Di Cromwell Road ini anda akan melihat bangunan Natural History Museum yang berdiri dengan gagahnya, saya tidak mengerti arsitektur tapi bangunan ini pasti punya nilai arsitektur tinggi, dibeberapa sisi bangunan diberi pencahayaan, membuatnya terlihat semakin mempesona.

Malam itu juga saya sepakat dengan diri sendiri, besok harus main kedalam bangunan ini, tidak mau tahu. Setelah mengambil beberapa foto di depan Natural History Museum, kami belok ke Exhibition Road. Exhibition Road ini terdapat pintu depan Imperial College London, juga ada science museum, malam itu masih banyak orang yang berlalu lalang, masing-masing sibuk dengan kegiatannya sendiri tapi tetap harmonis. Mungkin ini rasanya hidup dalam puisi. After a few “Aaah"s and “Oooh”s saya dan rombongan beralih arah ke kiri, di Prince Consort road. Ada surprise rupanya di jalan Prince Consort, ternyata, disana adalah letak Royal Albert Hall. Saya sudah hampir seperti orang gila, senangnya bukan kepayang.


Royal Albert Hall adalah sebuah concert hall, di dalam bangunan ini sudah banyak musikus dunia yang menggelar konser, dan banyak penampilan musikal lainnya. Coldplay, band favorit saya di seantero jagad raya pernah menggelar penampilan disini.


Rasanya sudah seperti bertemu Chris Martin dan kawan-kawan saja, padahal nyatanya hanya menjumpai bangunan yang syarat akan sejarah ini. Royal Albert Hall gagah sekali. Entah sudah berapa kali saya berucap kata cantik dan gagah bukan kepada manusia malam ini. Tapi Inggris memang cantik sekali. Dan saya bahkan belum melihat bangunan-bangunan yang terkenal lainnya. Dan ini baru hari pertama. Apa kabar Big Ben? Mohon maaf, saya memang selalu penuh energi setiap kali mengingat Inggris.

Malam ditutup dengan makan malam yang sederhana tapi khidmat. Semua orang masih tidak bisa berhenti tersenyum, antara masih tidak percaya kalau berhasil sampai ke Inggris atau memang sedang jatuh cinta. Saya tidak bisa membedakannya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya