Ramadhan,

Sudah lewat beberapa hari lalu, tapi hangatnya masih terasa. Perbedaannya masih terasa. Entah karena memang suasana Ramadhan sungguh sulit hilang atau hati ini yang belum rela berpisah dengan bulan penuh berkah dan cinta ini.

Ramadhan,

Tahun ini sungguh aku merasakan ramadhan yang berbeda. Tahun ini, aku merasakan betapa berharganya waktu Ramadhan yang dihabiskan bersama keluarga karena aku tidak bisa merasakannya. Tidak mendengar sahutan riang ibuku membangunkanku di waktu sahur, panggilan lembut ayahku yang membangunkanku kalau sahutan ibuku tak kunjung membuatku bergerak dari kasur, atau bahkan wajah wajah cemberut adik-adikku yang masih ngantuk saat sahur.

Semua hal-hal kecil itulah yang membuatku tersenyum sekaligus menitikkan air mata karena sadar betapa rindunya aku dengan mereka.

Advertisement

Ramadhan,

Tahun ini sungguh membuatku takut. Di negeri nun jauh dari rumahku, negeri yang islamnya minoritas ini, sempat membuatku takut. Takut tidak merasakan hangatnya Ramadhan, takut terlalu sedih tidak lagi mendengar adzan berkumandang dengan indahnya seperti di negeriku, takut kehilangan semangat, dan takut tidak lagi melihat orang-orang berbondong bondong menuju masjid untuk sholat tarawih. Takut aku terlalu rindu dengan keluarga di saat waktu sahur dan berbuka tiba.

Ramadhan,

Tapi aku ternyata salah. Karena di belahan dunia manapun itu, hangat Ramadhan selalu terasa. Tidak perlu adzan berkumandang dari masjid, cukup dari handphone kami pun tetap terasa indahnya. Tidak perlu melihat orang-orang berbondong-bondong ke masjid untuk solat tarawih. Cukup melihat teman-temanku menyempatkan waktu sepulang dari lab dengan semangat menuju ruangan kecil yang kami jadikan mushola untuk solat tarawih.

Tidak perlu takut akan rindu karena setiap sahur dan berbuka, ada keluarga baru yang siap menemani saling mendukung dan menghibur agar kami tidak merasa sendirian melewati Ramadhan ini.

Keterbatasan kami di negeri ini, yang membuat kami jauh lebih bersyukur dari sebelumnya. Keterbasan justru membuat kami berlomba-lomba menciptakan kehangatan Ramadhan agar seperti di negeri kami sendiri.

Ramadhan,

Di hari kemenanganmu tahun ini, aku tersadar akan satu hal. Sungguh aku merindukanmu, bahkan sebelum kau beranjak pergi. Ramadhan, akankah tahun depan kau menghampiri kami lagi dengan membawa sejuta berkah dan kehangatanmu? Karena aku hanya bisa berdoa. Semoga kedua orangtuaku, aku, adik-adikku, keluarga besarku, dan keluarga baruku di sini dipertemukan lagi denganmu tahun depan. Amin.

Ramadhan,

Aku mohon tolong temui kami lagi tahun depan. Sungguh kami selalu menunggumu datang mengunjungi kami dengan sejuta berkah, ampunan, kehangatan, dan kebahagiaan.