Reduksi Stunting melalui Praktek Paradiplomasi

Bagaimana stunting dapat mereduksi melalui praktek paradiplomasi?

Paradiplomasi sendiri merupakan bentuk baru dari praktek diplomasi yang menekankan peran aktor sub negara dalam melakukan kerjasama luar negeri secara bebas selama tidak bersinggungan dengan kepentingan pemerintah pusat. Pemberian hak otonom bagi daerah menjadi peluang bagi setiap pemerintah provinsi dan kabupaten atau kota untuk melakukan optimalisasi potensi daerah. Indonesia menjadi salah satu negara dengan banyak kegiatan paradiplomasi di dalamnya.

Advertisement

Beberapa bulan yang lalu, ketika saya baru kembali ke kampung halaman di Bondowoso, Jawa Timur, saya menyadari bahwa masih banyak anak-anak yang mengalami stunting dan gizi buruk. Hal ini membuat saya prihatin karena ternyata permasalahan malnutrisi masih menghantui daerah saya  di Bondowoso, Jawa Timur. Padahal akses kesehatan mudah dijumpai dan dimanfaatkan oleh masyarakat, seperti puskesmas dan posyandu. Perlu diketahui bahwa stunting sendiri merupakan salah satu permasalahan gizi di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia dimana balita yang memiliki kondisi tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur balita lainnya.

Hal ini penting untuk ditangani karena sangat berpengaruh terhadap kualitas generasi penerus bangsa ke depannya.  Upaya pencegahan dan penurunan angka stunting tidak dapat dilakukan hanya oleh lembaga di sektor kesehatan, tetapi dengan melibatkan sinergitas semua sector terkait agar lebih maksimal. Identifikasi dan pencegahan stunting pada masa anak-anak adalah indikator terbaik untuk mengukur kesejahteraan anak-anak dan merefleksikan secara akurat dari situasi kesenjangan sosial yang ada agar dapat menanggulanginya sedini mungkin agar dapat mencetak generasi penerus bangsa yang sehat dan kompetitif.

Berdasarkan hal tersebut, terbesit di pikiran saya mengenai kemudahan akses informasi dan globalisasi dalam hubungan internasional yang bisa digunakan oleh pemerintah Bondowoso dalam menekan angka stunting di sini, baik dengan melakukan kerjasama dengan organisasi non profit, atau dalam bentuk intervensi lainnya. Surprisingly, hal tersebut bertepatan dengan pemberian tugas mata kuliah mengenai paradiplomasi. Sehingga saya berkesempatan untuk meneliti dan mengulas fenomena ini melalui kajian hubungan internasional.

Advertisement

Kembali ke topik. Berdasarkan data dari Bappeda Jawa Timur tahun 2017 menyatakan Bondowoso merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang memiliki prevalensi stunting yang cukup tinggi yaitu sebesar 34,6 % pada tahun 2017. Namun angka tersebut menunjukan penurunan daripada 5 tahun terakhir. Berdasarkan pantauan hasil Riskesdas tentang stunting, fenomena tersebut membutuhkan perhatian khusus karena  memiliki dampak serius mengenai malnutrisi yang sangat berbahaya karena menyebabkan petumbuhan anak terhambat yang membuat fisiknya menjadi pendek (stunted).

Selain itu, dampak jangka panjang dari stunting untuk masa depan anak adalah melemahnya kemampuan kognitif dan terhambatnya tumbuh kembang si kecil. Hal tersebut karena balita rentan sekali terhadap masalah kesehatan dan gizi sehingga dapat anak-anak sulit dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan terhambatnya  penguasan kemampuan akademik maupun non akademik. Selain itu, apabila hal tersebut tidak dicegah dapat mengakibatkan anak-anak rentan terpapar penyakit degenerative yang berujung pada menyebabkan turunnya kualitas sumber daya manusia (SDM). Lalu apa dampaknya bagi negara ini? Menurunnya kualitass SDM akan berdampak pada kualitas bangsa itu sendiri yang tidak dapat bersaing dengan arus globalisasi yang tiada henti sehingga dapat menjadi bangsa yang terbelakang dan tidak dapat bersaing dalam arus globalisasi.

Advertisement

Maka dari itu, pemerintah mulai getol dalam meningkatkan upaya untuk menekan prevalensi stunting di Indonesia. Pemerintah Kabupaten Bondowoso menjadi salah satu yang mengupayakan hal tersebut melalui Dinas Kesehatan Bondowoso yang terus berupaya untuk menyehatkan masyarakat agar mencapai cita-cita Bondowoso yang melesat unggul. Salah satu bentuk upaya yang dilakukan untuk mewujudkan impian tersebut adalah dengan menjalin kerjasama Paradiplomasi antara Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Dinas Kesehatan Bondowoso dengan  The Global Alliance for Improved (GAIN) dari Swiss.

Fyi bahwa The Global Alliance for Improved (GAIN) sendiri merupakan Aliansi Global untuk Peningkatan Gizi adalah organisasi internasional yang diluncurkan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2002, berkantor pusat di Jenewa. GAIN juga memiliki kantor di Bangladesh, Denmark, Ethiopia, India, Indonesia, Kenya, Mozambik, Belanda, Nigeria, Pakistan, Tanzania, Inggris Raya, dan Amerika Serikat. Mereka berpatisipasi dalam usaha untuk membentuk dan mengarahkan masyarakat internasional untuk mendanai dan bertindak untuk meningkatkan pangan sistem di seluruh dunia

Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan Bondowoso, Kerjasama Paradiplomasi dengan Global Alliance Improved For Nutrition (GAIN) ini mulai disepakati pada Bulan Mei, 2018. Kerjasama tersebut di inisiasi atas rekomendasi dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur yang memilih Bondowoso ke dalam daftar seleksi intervensi bantuan stunting. Rekomendasi tersebut juga meliputi daftar 13 kecamatan yang didampingi oleh GAIN terkait program dan literasi gizi masyarakat (Times Indonesia, 2019). Bentuk kerjasama paradiplomasi tersebut adalah pemberian bantuan dana langsung sebesar 3 Miliar Rupiah Global Alliance Improved For Nutrition (GAIN) kepada Pemerintah Kabupaten Bondowoso untuk kerjasama selama tiga tahun ke depan yaitu hingga tahun 2021.

Ternyata intervensi GAIN ini memiliki dampak yang bagus lho! hal ini dikarenakan mereka berperan dalam merrestorasi perilaku masyarakat terhadap pemberian makanan bayi dan anak dengan indikatornya adalah variasi makanan sehat yang mungkin dulunya sering diabaikan oleh masyarakat di Bondowoso. Selain itu, terdapat program Emo Demo (Emotional  Demonstration) yang merupakan bentuk pendampingan yang diberikan oleh GAIN dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan anak yang dikemas dalam bentu kegiatan interaktif dan partisipatif.  Program tersebut dibuat dengan p dan menyenangkan agar masyarakat mudah memahami materi yang disampaikan. Seluruh kegiatan tersebut diharapkan dapat menekan angka stunting di Bondowoso kedepannya.

Akhir kata, desentralisasi kewenangan yang memberikan ruang bagi pemerintah daerah dalam menjalin kerjasama luar negeri ternyata punya dampak yang signifikan dalam meningkatkan potensi daerah yang tidak tercover oleh pemerintah pusat. Diharapkan kedepannya lebih banyak lagi daerah-daerah di Indonesia untuk melakukan kerjasama paradiplomasi guna memajukan daerah di era modern saat ini.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Mahasiswa Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang

CLOSE