#RemajaBicaraKespro-Yakin Edukasi Seks Formal Saja Sudah Cukup? Yuk Belajar dari Pengalamanku!

Belajar nggak cuma dari buku paket aja

Bicara tentang seks merupakan hal yang sangat tabu bagi masyarakat Indonesia bahkan hingga saat ini. Demikian pula hal yang terjadi pada keluargaku. Saat aku masih kecil, tidak ada seorang pun yang menjelaskan apa yang terjadi saat film yang kutonton di televisi tiba-tiba diganti atau mataku ditutup kala itu.

Advertisement

Hingga akhirnya saat liburan, aku menonton tanpa pengawasan dari orang dewasa yang pada akhirnya membuatku tahu adegan apa yang terjadi di televisi. Yap! Benar sekali, tokoh di film tersebut berciuman. Melihatnya saja bisa membuat pipiku memerah seketika. 

Puncaknya pada kelas 6 SD terdapat materi reproduksi pada kelas Ilmu Pengetahuan Alam. Aku tidak berani menengok ke kanan-kiri untuk melihat reaksi teman-temanku selama materi tersebut. Satu hal yang kutahu pasti, mereka semua pasti merasa malu sama sepertiku.

Melalui pelajaran tersebut aku mengetahui bahwa herpes yang notabene merupakan penyakit menular seksual ditularkan melalui air liur. Seketika itu juga aku menyimpulkan bahwa berciuman merupakan kegiatan seksual yang dapat membuatmu hamil. 

Advertisement

Pemahamanku yang keliru mengenai kegiatan seksual mencemari salah satu memori masa kecilku. Karya wisata seharusnya menjadi momen yang menyenangkan bagi anak SD, bukan? Namun pengalaman karya wisataku pada kelas 6 SD tidak demikian. Sehari sebelum karya wisata, aku tidak bisa tertidur karena euforia akan pergi study tour ke daerah Jawa Barat.

Esok harinya, seluruh kegiatan karya wisata berjalan dengan lancar. Hingga tiba saatnya makan siang, kala itu aku tidak sengaja menggunakan sendok bekas pakai salah satu teman lawan jenis. Fakta bahwa sendok yang kupakai bekas teman lawan jenis membuat benakku resah.

Advertisement

Sepulangnya dari karya wisata, aku lelah dan ingin beristirahat. Namun siang dan malam aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Kali ini bukan karena euforia melainkan paranoia. Memikirkan bagaimana nasibku kelak menjadi seorang ibu muda. Aku bingung bagaimana harus menjelaskannya pada orang tuaku jikalau aku hamil. Perasaanku kalut bercampur takut, gundah dan resah menantikan kapan tiba saatnya aku bicara.

Hari-hari kulalui dengan pertanyaan, "Apakah ada janin di dalam rahimku?" Akupun terus menantikan saat-saat aku akan menstruasi karena aku ingat guruku pernah berkata bahwa apabila dinding rahim luruh (menstruasi) artinya tidak ada sel telur yang dibuahi.  

Kejadian study tour tersebut bukanlah akhir dari ketersesatanku. Selama setahun lebih aku memegang persepsi tersebut. Puncaknya saat kelas 7 SMP, salah satu guruku menyetel film berjudul I'm Not Stupid Too pada jam belajar. Salah satu tokoh dalam film tersebut yang bernama Jerry tidak sengaja berciuman dengan anak perempuan bernama Xiaoxi.

Sontak Jerry panik karena ia pernah tidak sengaja melihat film yang sedang ditonton kakak dan teman-temannya yang menampilkan adegan berciuman kemudian tokoh perempuannya hamil. Ia menyuruh Xiaoxi untuk memakan nanas sebanyak mungkin hingga perut anak perempuan tersebut sakit hingga dilarikan ke klinik. Tibanya di klinik Jerry pun menjelaskan apa yang terjadi kepada dokter. Dari film tersebut satu hal yang dapat kusimpulkan yaitu Xiaoxi tidak akan hamil hanya karena berciuman. 

Setelah menonton film tersebut, aku menjadi sadar bahwa berciuman bukanlah kegiatan seksual yang akan menyebabkan seseorang hamil. Aku pun merutuki kebodohanku selama ini karena tampaknya anak-anak di kelasku mengetahui kebenarannya. Hal ini membuatku bingung mengapa aku bisa lulus di ujian terkait reproduksi, padahal pengetahuanku sangat minim bahkan cenderung sesat. 

Pembelajaran yang bisa diambil dari cerita tersebut adalah pentingnya edukasi 'the birds and the bees' untuk anak-anak. Melalui edukasi tersebut, anak-anak akan diberikan edukasi seks secara langsung oleh orang tua atau walinya. Tentu saja edukasi seks tersebut tidak eksplisit karena harus disesuaikan dengan usia anak. Misalnya bagaimana proses terbentuknya seorang bayi yang kelak akan disebut adik nantinya.

Seyogyanya para orang tua tidak lagi memandang pendidikan seks sebagai suatu hal yang sangat tabu untuk dibicarakan dengan anaknya. Apabila sang anak tidak mengetahui tentang pendidikan seks maka bisa timbul permasalahan jikalau sang anak melakukan kegiatan seksual tanpa tahu konsekuensinya kelak. Selain itu, akan lebih baik bukan jika orang tua atau wali yang memberikan edukasi seksual kepada anak anak, ketimbang anak-anak mencari tahu sendiri? 

Akhir kata, pesanku untuk para orang tua, jangan lagi menganggap edukasi seks sebagai suatu hal yang tabu untuk diajarkan pada anak-anak. Selain itu, sebagai anak-anak juga jangan malu untuk bertanya kepada orang dewasa terkait edukasi seks karena hal tersebut berguna untukmu kelak.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE