Aku memiliki seorang sahabat sekaligus saudara sebut saja Dina. Kisah kami berawal ketika kami satu kelas di bangku SMK, awalnya kelas 1 kami belum saling kenal bahkan untuk saling sapa pun kami masih canggung. Waktu kelas 2 pertengahan kami sudah kenal tapi belum akrab, kami mulai akrab ketika kami masuk satu geng yang beranggotakan 7 orang awalnya.

Tetapi geng kami akhirnya bertahan 6 orang. Dan geng kami akhirnya bubar pada saat lulus kelas. Dina bagiku orangnya baik, ramah, dan humoris. Dia bertubuh gemuk pernah aku memanggilnya dengan sebutan Gendut. Dulu kelas 3 sering aku bully, tapi dia tak pernah marah kepadaku. Dia takut denganku, ya karena katanya aku menyeramkan jika aku sedang marah. Kami di kelas tidak sebangku, dia duduk sendiri.

Advertisement

Ketika waktu istirahat aku menghampirinya. Banyak teman-teman bahkan guru mengatakan kalau aku dan Dina bareng pasti rame banget, ya begitulah. Saat pertama kali aku bertemu ibunya dia berkata, "Kalau saja aku punya anak laki-laki, kamu akan jadi menantuku," begitulah kata ibunya.

Saat saya main ke rumahnya, aku berkenalan dengan ibu, ayah, & kakak perempuannya. Akupun mulai dekat dengan keluarganya, keluarganya sudah seperti keluargaku sendiri. By the way, rumahnya ada dilingkungan perkotaan sedangkan rumahku ada dilingkungan pedesaan. Jarak rumah kami cukup jauh, membutuhkan waktu 15-20 menit.

Waktu terus berlalu aku merasa dekat dengan keluarganya, aku juga pernah menginap di rumahnya satu malam. Ketika aku tidur dilantai bersama Dina dan ibunya dengan beralaskan tikar, aku awalnya tidak bisa tidur hingga waktu menunjukkan pukul 23.30 WIB. Kalian tahu mengapa aku tidak bisa tidur? Ya itu karena suara kipas yang membuat bising di telingaku haha :D.

Advertisement

Saat aku mulai memejamkan mata, aku tak bisa tidur. Aku melihat Dina dan ibunya tidur, dengan jahilnya aku menganggu Dina yang sedang tidur hingga dia terbangun. Momen-momen itulah yang masih ada di kepalaku. Aku mulai menyayangi Dina sebagai saudara kandungku sendiri, dia bahkan memanggilku dengan sebutan Kakak. Aku juga menyayangi ibunya, bapaknya, & kakak perempuannya.

Bahkan ketika aku ke rumahnya, pasti kakak perempuannya memelukku aku merasakan ingin sekali rasanya memiliki seorang kakak apalagi perempuan. Ya karena aku anak pertama dan memiliki adik laki-laki. Ibunya setiap hari menanyakan kabar dariku, aku merasakan dia bagai ibuku sendiri. Sedihh rasanyaaaa 🙁 Ketika kelulusan tiba, alhamdulillah semua angkatan kelas 3 di sekolahku lulus 100%.

Pada saat kelulusan yang mengambilkan adalah ibuku, dan dina juga yang mengambilkan ibunya. Ketika pengambilan kelulusan, aku bersalaman dengan ibunya Dina & memeluk erat tubuhnya. Ibuku juga akhirnya berkenalan. Aku rasanya ingin menangis, merasakan ini langkah paseduluran kami. Ya kami bukan hanya sahabat tapi sudah seperti saudara.

Pada saat wisuda, aku ditemani oleh ayahku dan ayahku bertemu dengan ibunya Dina aku sangat senang sekali. Aku sedih ketika aku & dina mulai berpisah. Aku melanjutkan pendidikanku di Perguruan Tinggi Swasta, sedangkan Dina bekerja. Dia amat menyayangi aku, pernah aku bilang via chat kepadanya kalau habis lebaran aku ikut merantau bersama kedua orang tua sembari menunggu masuk kuliah, tetapi dia menangis.

Aku mulai berpikir, aku terharu sekali dia tidak ingin aku merantau. Dia tidak ingin aku pergi jauh darinya. Bahkan ketika aku pulang setiap main dari rumahnya kulihat dia sedih sekali. Setiap kami bertemu entah itu sekolah semasa dulu maupun di rumahnya yaitu aku memeluknya. Waktu terus berjalan Aku bahkan takut sekali ketika waktu sudah di depan mata,ya waktu ketika kita sibuk sendiri hingga tk prnh meluangkan wktunya memberi kabar padaku.

Sekedar chatingan entahlah akhirnya lupa. Tapi dia meyakinku dia akan meluangkan waktu buat kasih kabar ke aku. Aku akan selalu mengingat kisah klasik kenangan yang pernah aku ukir bersama sahabatku dina tersayang. "Ku akan selalu mengingat kakak sebagai sahabatku yang paling baik,dan menemani aku bukan hanya senang saja tapi susah pun kakak selalu menemaniku," katanya.

Itu yg membuat aku sedih sekali rasanya.Aku sangat menyayanginya, semoga kita sukses dan membuktikan pada semua orang bahwa kami bersahabat hingga maut memisahkan. Don't forget me, thank you atas kesempatan yang kamu berikan kepadaku mulai dari kita gak kenal sama sekali padahal kita satu kelas mau nyapa canggung banget, terus kita agak kenal, sampai kenal banget dan kita bukan hanya sahabat tetapi udah kayak saudara sendiri.

Sukses ya dear, sampai kapanpun persahabatan kita tak akan pernah berhenti. Aku mohon, ingatlah selalu bahwa masa persahabatan kita di dunia ini hanya akan habis ketika maut hadir di depan mata!!! Saat kamu jatuh aku ketawain kamu. Tapi kalo kamu sedih aku buat kamu tidak sempat menangis tapi tertawa bersama. Konco kenthel koyo umbel ~ LUCIDINA, bestfriend forever ~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya