Di era digital seperti ini di mana penggunaan media sosial sangat besar yang menyebabkan banyaknya informasi yang mengalir, informasi tersebut tidak dapat ditahan dan disaring beragam jenis informasi yang diinginkan maupun tidak diinginkan, baik atau buruk  yang tersampaikan kepada masyarakat khususnya anak muda dan remaja.

Advertisement

Tidak hanya informasi, namun perilaku pengguna media sosial juga berubah, terdapat pengguna yang baik dan adanya juga yang buruk.  Hal tersebut menyebabkan banyaknya contoh-contoh yang tidak baik khususnya untuk anak muda dan remaja yang sedang dalam masa pencarian jati diri dan pengembangan karakter.

Banyaknya role model, panutan, dan inspirasi yang ada di dalam media sosial biasa disebut influencer, tentunya mempengaruhi kehidupan anak muda dan remaja dalam bagaimana mereka mengembangkan nilai moral, agama, dan juga nilai etika mereka.

Advertisement

Masyarakat dengan umur 15-20 (anak muda dan remaja) merupakan range umur yang cukup terpengaruhi dengan adanya influencer.

Hal itu membuktikan bahwa media sosial merupakan salah satu hal yang mendominasi kehidupan anak muda dan remaja jaman sekarang. Para influencer mempengaruhi paling besar dalam bidang fashion dan lifestyle bagi masyarakat khususnya anak muda dan remaja. Influencer  yang tidak memberikan contoh yang baik dapat menghambat proses dari pencarian jati diri dan pengembangan karakter bagi anak muda dan remaja dan dapat pula menjadi masalah sosial yang di lakukan oleh anak muda dan remaja seperti pergaulan bebas, kekerasan antar remaja, pelarian memakai obat-obatan terlarang, dan lainnya.

Dilansir dari data Kementerian Kesehatan RI 2017, terdapat 3,8 persen pelajar dan mahasiswa yang menyatakan pernah menyalahgunakan narkotika dan obat berbahaya. Kebutuhan akan figur teladan karna anak muda dan remaja akan jauh lebih mudah terkesan dari contoh daripada hanya sekedar nasihat-nasihat bagus.  Dan dikarenakan juga adanya kecemasan dan kurangnya harga diri yang membuat anak muda dan remaja mempunyai kualitas yang buruk sehingga banyak kaum muda yang mencoba mengatasinya dalam bentuk pelarian (memburu kenikmatan lewat minuman keras, obat penenang, seks dan lainnya).

Hasil dari proses pencarian jati diri adalah anak muda dan remaja memiliki kualitas karakter yang positif yang tentunya berujung menjadi kedewasaan. Apakah kedewasaan merupakan suatu proses atau suatu pemahaman dalam pikiran? Seorang remaja dikatakan memiliki kedewasaan pada saat menjalani proses atau saat akhir anak muda dan remaja sudah mengetahui, mencintai dan menerima diri mereka sendiri? Tentunya akan ditemukan dalam proses pencarian jati diri dan pengembangan karakter anak muda dan remaja dalam diri mereka masing-masing yang membutuhkan bimbingan seperti edukasi, inspirasi, dan motivasi.

Jati diri seperti apa yang sebenarnya dapat dilihat hasilnya dari proses tumbuh dan explore diri sendiri? Perubahan-perubahan tersebut dapat dilihat dari hal pertama yang terlihat ketika bertemu dengan seseorang seperti appearances atau penampilan, preseverence atau kekuatan, cara seseorang mengahadapi masalah, intergritas dan nilai moral orang tersebut.

Hal tersebut bisa dilatih dan diubah dari faktor-faktor eksternal diatas seperti melalui keluarga, dosen, teman, tren, dan bisa juga keadaan yang memang memaksa.  Tidak hanya faktor eksternal, ada juga keinginan pribadi seperti keinginan untuk tampil lebih baik, ingin menyenangkan diri sendiri ataupun menyenangkan orang lain, menginginkan validasi dari orang lain terhadap diri kita. 

Jadi apakah menurut kalian mengetahui jati diri, mencintai diri sendiri dan menerima diri sendiri masih merupakan hal yang tidak penting?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya