Hai karang. ombak merindukanmu, apa kabar kamu di sana? Telah lama aku kau usir, telah lama aku tak mendengar suaramu, aku rindu makianmu, aku rindu nyanyianmu, meski senyummu dalam potret yg kunikmati, duhai karang, tak diizinkan kah ombak menyentuhmu. Jika tidak? Bagaimana ombak bisa memecahkan kerasnya karangmu. Sebenarnya ombak tidak menyerah, hanya saja ombak tau diri. ombak menepi, tapi selalu mencoba kembali untuk menyentuhmu karang, tapi kau begitu sombong.

Bukankah di lautan, karang dan ombak bersahabat lalu mengapa karang, kau begitu keras, egois, dan sombong, tak butuh kah? Aku di sini masih menunggu, masih berharap suatu saat nanti ketika tuhan mempertemukan kita. Aku hanya ingin memelukmu sebetar saja, sebagai pesan terakhir, sebelum senja hilang, menenggelamkan indahnya deru ombak. Jika hukumannya aku tak bisa lagi melihatmu, sedari awal pun aku tak boleh mencintaimu. Aku berharap rasa ini segera mati, aku menunggu. Di mana senja dan pantai yg katanya di sana kau letakan semua perasaanmu, yang telah kau matikan perasaanmu.

Advertisement

Inginku mengenalmu melebihi waktu singkat itu, lebih dari mendengar alunan lagumu, suara gitar dan cetusnya ucapanmu. Mungkin kau tak sejahat itu, hanya saja aku selalu menyalahkanmu, menggapmu begitu jahat, dengan mengabaikan perasaanku. Mungkin bagimu cinta sudah tak berarti apa-apa, setelah pantai dan senja masa lalumu, mungkin begitu pikirku.

"Hanya tentangmu yg terukir."

Aku menyedihkan, aku harusnya sadar, siapa kamu, kita tak pernah bertemu, tapi rasa inginku terhadapmu ini nyata, aku mencoba membuangnya setiap hari, tapi ketika aku menulis, hanya tentangmu yg terukir, meskipun ketika kau mendengar suaraku, makimu selalu ada. Terkadang itu membuat keran di mataku terbuka, aku tak pernah berhenti mengingatmu, siapa kamu sebenarnya, aku seharusnya tak mengenalmu. Bahkan tak seharusnya jatuh hati padamu, mungkin aku memang bodoh. Tapi aku tak peduli, terlebih lagi kau yang tak peduli akan perasaan ku.

Advertisement

"Impianku ingin bertemu denganmu, aku ingin kau menyukaiku walau hanya barangkali satu jam saja."

Cintaku bertepuk sebelah tangan, tapi biarkanlah saja aku mencintaimu dalam diam, sampai nanti Tuhan mendengar do'aku, yg selalu menyebut namamu di setiap sujud malamku. Impianku ingin bertemu denganmu, melihat warna matamu. melihat langkahmu berjalan mendekatiku, hanya itu impianku saat itu, tapi sebelum semuanya terjadi kau sudah mengusirku, seperti seekor domba yang masuk kedalam halaman rumah yang takut aku memakan tanamanmu.

Tapi terkadang aku menikmati perasaan ini, menikmati rasa sakitnya, walau sebenarnya sakit, menyedihkan, entahlah, sampai kapan rasa ini ada. Aku berharap rasa ini segera pergi bersama dengan senja dan pantai katamu, aku juga ingin menaruh hatiku di sana, agar aku tak lagi mencintai, terima kasih karang, darimu aku tahu rasanya terabaikan, terbuang dan tak diinginkan.

Salam ombak pecinta karang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya