Kau takkan pernah bisa memahami, aku pun tak menginginkannya. Kau menyebutnya kebencian dan biarlah tetap seperti itu. Wanita seperti apakah aku ini? Dan, apa yang sebenarnya aku inginkan? Aku yang membiarkanmu kembali, namun aku juga yang memaksamu untuk pergi.

Jika memungkinkan, maafkanlah aku yang mempersilahkanmu kembali, kerinduanku tak bisa menahan keinginanku untuk membukakan pintu yang kau ketuk. Dan jika memungkinkan, maafkanlah pula aku yang memaksamu untuk pergi. Karena, semakin lama engkau menetap, semakin sulit untukku melepaskanmu.

Advertisement

Andaikan hanya tentang kebahagiaanku saja, takkan pernah ragu untukku membukakan pintu yang kau ketuk dan membiarkanmu tinggal di sisi untuk selamanya. Karena bersamamulah kebahagiaan terbesarku. Hanya saja kebahagiaanku bukanlah kebahagiaanmu.

Kebencian yang kau sebutkan itu adalah pengorbanan terbesarku. Kebencian yang kau sebutkan itu adalah caraku membebaskanmu dari kebahagiaanku yang bukanlah kebahagiaanmu. Semua yang ku lakukan adalah untuk kehidupan baru yang kau pilih, tanpa aku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya