P

P

Advertisement

P

P

Hai, anak mana?


Advertisement

~

Ya, jadi kalo tiba-tiba kalian dapat chat seperti yang di atas, fix, kalian sedang di-chat sama anak sekolahan, minimal seumuran. Karena orang dewasa tidak akan mengerti soal p, p, p, dan p lagi. Orang dewasa biasanya memulai percakapan dengan cara yang lebih mudah dipahami secara umum seperti “Hai” atau “Halo”.

Orang dewasa tentu lebih tahu sapaan atau bahasa perkenalan yang jauh lebih sopan. “Anak mana?” itu mengandung ketengilan.

Entah siapa pencipta p, p, p dan p lagi itu. Saya tidak harus mencari tahu dan tidak ingin mempelajarinya lebih jauh. Saya lebih tertarik untuk belajar bahasa biawak ketimbang bahasa ppp.

Tapi sejujurnya, dapat chat ppp itu masih sepele, karena saya pernah dapat chat yang jauh lebih buruk, seperti


"Hai, kamu kapan ada waktu untuk temani saya lagi?"

Horor.


Apalagi seminggu sebelum saya dapat chat itu, saya habis ketemuan dengan bapak-bapak yang tidak lain adalah calon atasan saya di “calon kantor”. Bapak-bapak beristri dan beranak dua, yang anak-anaknya seumuran dengan saya.

Sudah kelihatan horornya?

Oke baiklah, akan saya perjelas. Sebut saja dia Bapak Anu, bukan Bapak Mukidi, karena Mukidi yang sering saya ceritakan bukanlah sosok bapak-bapak.

Sebelum saya bekerja di kantor yang sekarang, saya sempat melamar ke salah satu perusahaan BUMN dan kebetulan Bapak Anu adalah petinggi di perusahaan tersebut, sekaligus salah satu teman orangtua saya. Jadi, ketika beliau tahu saya melamar ke perusahaan itu, segalanya terasa dipermudah.

Saya melamar sebagai admin, tapi karena posisi sebagai admin sudah ada yang mengisi jadi saya dialihkan menjadi sekretaris pribadi GM yang berarti adalah menjadi sekretaris Bapak Anu.

Dari segala proses yang dipermudah, saya sih menanggapinya cuma sekedar kebaikan semata. Tapi lama-lama mulai mencurigakan. Bagai udang di balik bakwannya Bu Ratna, tukang nasi uduk di seberang rumah, yang kalo nasinya pedas, dikasih karetnya bukan dua tapi lima.

Hari Sabtu, Bapak Anu meminta saya untuk datang ke kantor, beliau bilang mau membahas soal kerjaan, oke saya ikuti. Pakaian sudah rapi, muka sudah cakep, parfum sudah tercium dari radius puluhan meter. Yang saya pikirkan waktu itu adalah interview lanjutan, tapi ternyata saya cuma menemani beliau di kantor.

Pak Anu tampil casual dengan celana jeans, kaos Polo dan sneakers merk kenamaan, lengkap dengan tatapan mesumnya. Saya yang saat itu belum pakai kerudung, cuma pakai rok selutut dan blouse lengan pendek.

Kemudian saya diantar pulang, berbagai penolakan sudah saya kerahkan, tapi beliau terus memaksa. Yasudahlah, hitung-hitung ngirit ongkos. Sialnya, arah jalan pulang bukannya ke rumah tapi malah belok ke Mall.


“Pak, kok ke mall?”

“Iya, mampir dulu sebentar gak papa, kan? Saya ada janji ketemu di restoran di dalam mall.“


Mau nggak mau ya saya iyakan. Sampai di dalam Mall saya malah diajak nonton dengan alasan biar nggak bete nungguin. Saya nggak bisa nolak lagi, karena sebelum diajak nonton, Pak Anu sudah menyodorkan tiket mahalnya lebih dulu. Ingin rasanya saya pura-pura kesurupan saja biar cepat-cepat dibawa pulang ke rumah.

Pertemuan kedua, lagi-lagi di hari sabtu dan dengan alasan yang sama. Bukannya bahas soal pekerjaan, saya malah diajak makan. Di perjalanan pulang, Pak Anu memberitahu maksud dari kejadian yang kemarin-kemarin. Beliau meminta saya untuk jadi pacarnya, teman jalannya, teman sharingnya dan teman anuannya.

Penawarannya luar biasa. Saya ditawari apartemen mewah, mobil mewah dan fasilitas mewah lainnya demi menjamin keberadaan saya dari istri dan anak-anaknya. Bahkan saat itu saya langsung diajak ke salah satu rumah beliau, menunjukan mobil apa yang nanti akan saya pakai.

Sesampainya di rumah, Pak Anu memberikan saya sebuah bungkusan yang katanya di luar dari permintaan yang sebelumnya. Atas dasar berbagi, katanya.


(((KATANYA)))


Isinya jam tangan mewah. Karena saya adalah makhluk yang tidak mudah percaya dengan makhluk lain, akhirnya saya cek sendiri harga jam tangan itu ke watch center dan ingin tau juga seserius apasih omongan Pak Anu yang kemarin?

Harganya luar biasa, kalo saya beli sendiri mungkin harus jual ginjal dulu.

Tapi akan saya kembalikan, biarpun Pak Anu kekeuh bilang untuk jangan dikembalikan, saya nggak mau suatu saat akan jadi bahan yang bisa diungkit-ungkit. Lamaran juga saya cabut karena konsekuensi yang terlalu riskan. Nanti bukan cuma saya yang rusak, tapi juga hubungan antar keluarga.

Jam tangan itu saya kembalikan langsung ke kantor Pak Anu dan menolak penawaran untuk jadi simpanannya dengan sangat hati-hati dan sesopan mungkin karena biar bagaimana pun saya harus tetap menghormati beliau.

Berminggu-minggu sesudahnya, Pak Anu masih terus mengontak saya, bahkan pernah mengirimkan saya buket bunga dengan ukuran hampir mirip dengan baskom hajatan. Beliau juga sering mengirimkan sms dengan isi yang sama.

"Kita kapan jalan bareng lagi?"

Kita? Bapak aja sama nasi tutug oncom.

~

Saya cuma sekedar berbagi pengalaman saja, siapa tahu bisa jadi pencerahan untuk mamang cuanki yang bingung memutuskan mau pakai gerobak dorong atau terus dipikul.

Juga pencerahan untuk para pejantan dan betina-betina di luar sana bahwa kasus pelakoran bukan sepenuhnya salah perempuan, siapa tahu emang laki-lakinya aja yang genit sampe ke tulang. Sudah ditolak baik-baik malah melunjak. Dikasih hati malah minta selangkangan.

Sebenarnya saya itu welcome sama siapa saja, sama om-om kek, sama duda beranak kek, tapi kalo sama suami orang mah, saya tetap tahu batasan. Selain takut dosa dan karma, saya juga takut viral :(

Apakah saya pelakor? Oh bukan. Saya nggak berbakat untuk jadi pelakor. Biarpun tawaran menjadi pelakor seringkali terucap oleh om-om tajir nan menggiurkan di social media, saya tetap menolaknya secara elegan dan tidak berbelit belit :


Dear Om,

Maaf om, saya masih pitik, masa depan masih panjang.

Belum cocok untuk jadi pelakor.

Tolong om jangan ganggu masa pertumbuhanku.

Atas pengertiannya saya ucapkan terima kasih.

TTD

Dedek gemas.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya