Pernah merasa dikucilkan dan diremehkan oleh teman-temanmu? Pernah merasa nggak dianggap teman sekelasmu? Pernah dilempar dan ditertawai oleh teman sekelasmu? Semua pertanyaan itu aku jawab, YA!

Itu semua terjadi di kehidupanku ketika aku duduk di bangku SMA. Padahal kalau kita dengar yang namanya SMA, pasti di benak kita akan mengatakan bahwa itu adalah masa-masa terindah kita, masa di mana kalau kita akan mempunyai kenangan yang indah dengan teman-teman satu sekolah, dan banyak lagi. Intinya kalau disimpulkan, bahwa masa SMA itu masa yang disukai oleh beberapa siswa (menurut aku). Tapi yang aku rasakan pada saat itu sangat terbalik dengan kalimat yang tadi. Aku merasa nggak nyaman, merasa punya beban pikiran yang begitu berat, merasa aneh pasa suasana itu, merasa ingin lari dari sana, dan banyak sekali yang aku rasakan pada saat itu.

Advertisement


Eh ada psikolog…

Ha? Emangnya abang itu mau sama dia?

Rambut keriting gitu pun…


Advertisement

Dan asalkan kalian tahu, bahwa ejekkan yang kalian lakukan padaku saat itu membuat aku menjadi depresi, membuat aku menjadi orang yang tidak percaya diri, sulit untuk mempercayai orang lain, nilaiku menjadi sangat turun, mempunyai tingkat kekhawatiran yang tinggi dan aku menjadi orang yang tidak mengenal diri aku sendiri. Kenapa kalian melakukan itu padaku? Padahal aku tidak mencemooh atau mengejek atau melakukan hal-hal lain yang negatif pada kalian. Atau karena aku berteman dengan dia? Kenapa dengan dia? Sampai saat ini kalau aku mengingat itu semua, masih banyak tanda tanya yang berada di otakku saat itu.


*Lempar kertas bentuk bola ke arah kipas angin* Siapa yang kena, berarti dia jodohnya sama bang Nathan (Nathan adalah senior aku yang gendut)

*Kertas itu mengenai kepalaku berkali-kali*


Kalian nggak tahu, bagaimana posisi aku pada saat itu yang sedang menahan diri untuk tidak melakukan hal yang membuat kalian bertambah senang dan tertawa, atas apa yang telah kalian lakukan padaku. Bercanda? Kalian bilang bercanda dan menikmati candaan kalian tanpa melihat bagaimana posisi aku pada saat itu? Kalian tertawa bahagia tanpa melihat salah satu teman kalian yang kalian jadikan objek candaan kalian. Perlu kalian ketahui, bahwa apa yang kalian lakukan itu adalah salah dan sungguh keterlaluan.

Terkadang aku berpikir dan berbicara pada diri sendiri. Kenapa masih ada saja orang yang memperlakukan temannya sendiri dengan tidak baik? Padahal kalau aku pikir-pikir dan berada di antara mereka pada saat itu, aku tidak mau melakukan hal yang sangat berdampak merugikan dan menyakitkan orang tersebut. Kenapa? Karena kita tidak akan pernah tahu, seperti apa orang yang kita sakiti di kemudian hari. Dan kita tidak bisa mempungkiri bahwa mereka yang kita sakiti akan mempunyai rezeki lebih baik dibandingkan kalian yang pernah nyakiti dia.

Bagaimana misalnya, suatu saat ketika kalian melamar pekerjaan yang dimana kalian tidak tahu bahwa orang yang pernah kalian bully adalah pewawancara kalian? Apa yang pertama kali dia pikirkan ketika dia ketemu kalian? Apakah yang baik atau yang buruk? Biarlah kalian yang menjawab itu sendiri.

Karena bagiku sekarang, itu tidak masalah. Mau kalian tidak merasa bersalah dengan yang apa kalian lakukan padaku, tidak masalah juga bagiku. Itu semua aku jadikan pelajaran untuk hidupku. And see? Buat kalian masa laluku, kini hidupku sudah jauh lebih baik dari yang kemarin, aku sudah memiliki kepribadian yang kuat dan tidak merasa rendah lagi. Aku sudah melewati banyak rintangan hidup dan membuatnya itu menjadi indah. Aku sekarang sudah berani tampil di depan umum, membuat beberapa karya, dan tidak memandang semua orang itu jahat; walaupun itu butuh waktu yang tidak sebentar untukku.

Aku mempunyai titipan pesan untuk kalian, bahwa aku tidak ingin ada lagi hal yang aku alami terjadi pada orang lain. Karena aku sudah merasakan, bahwa itu sangat menyakitkan. Dan untuk melupakan lalu bangkit dari masalah yang pernah terjadi bukan perkara yang mudah. Terlepas dari apapun alasan yang ingin kalian bilang, tetap saja itu tidak baik untuk kalian lakukan. Karena tanpa kalian sadari, kalian bisa menghancurkan mental seseorang.

Dan ingat juga, bahwa kita punya otak untuk berpikir mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang buruk untuk tidak dilakukan. Karena sakit hati jauh lebih sulit disembuhkan dibandingkan sakit fisik. Maafkan aku, kalau kata-kataku agak kasar dan kurang ajar, tapi hanya itu saja yang ingin aku sampaikan dari dulu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya