Menulis tidak hanya mereka suatu adegan kejadian lengkap dengan latar tempat serta waktunya. Ada pun bagi sebagian orang, menulis adalah fase di mana hati dan otak dapat bekerja secara protagonis saling membangun dan mengisi. Tak cukup rasanya sampai di situ. Ekspresi yang mengalir lewat aksara laksana polikromatik yang harus mengkritik lingkungan sekitar bahkan sampai tatanan sosial dan pemerintahan pun turut memberi warna berbeda. Seperti mengulum permen nano-nano bukan, ketika kita mampu berenang dan menyelam dalam dunia literasi ini. Membaca dan menulis.

Paradigma mengenai menulis dan kaitannya terhadap kehidupan dapat dilegalkan tentunya. Asalkan pesan yang kita lemparkan melalui stigma yang tersurat serta tersirat dapat dibaca dengan baik oleh si subjek, pembaca. Proses menulis harus terus disubsitusi dengan nutrisi agar pembaca dapat mengambil inti sari dari sekumpulan paragraf yang kita bingkai dengan jiwa.

Advertisement

Mengapa jiwa dapat tercipta dalam sebuah tulisan? Atau begini saja. Saya akan mencoba analogikan pertanyaan tersebut dalam gubahan pertanyaan yang lain tetapi masih memiliki korelasi yang relevan. Buku dari penulis siapa yang paling anda sukai? Saya tak akan mencoba menyebutkan salah satu nama penulis andal yang sudah familiar. Rasanya akan mendiskreditkan pihak lain dan saya pun tak ingin mengintervensi pembaca untuk menyukai tulisan orang lain. Pertanyaan ini hanya menstimulus anda untuk berpikir lebih jauh ke depan.

Tentu saja kita semua punya penulis kesukaan yang dibintangi dan layak untuk masuk daftar bacaan tetap. Itu disebabkan karena kita sudah jatuh cinta pada gaya bahasa yang penulis olah dan kembangkan. Gaya bahasa ini tidak dapat diimitasi. Mengutip dari kata Rampan (2009) dalam bukunya yang berjudul Apresiasi Cerpen Indonesia Mutakhir bahwa gaya bahasa itu menampilkan diksi serta rima yang tak boleh kita kebiri begitu saja. Kemudian, gaya bahasa ini juga jelmaan dari perilaku si penulis. Bahkan, Jakob Sumardjo juga idem atas pernyataan Rampan tersebut yang menyatakan bahwa hasil karya sastra itu potret sang penulis.

Sekarang muncul kembali pertanyaan bukan? Mendistribusi jiwa kita dengan ciamik lewat tulisan, How to? Kembali lagi saya harus menstimulus neurotransmitter pada otak agar mengalir deras sehingga memiliki endurance yang cukup untuk mengingat kembali rutinitas kita, di bagian manakah yang dapat kita jadikan cara untuk menemukan bagaimana mengoptimalkan tulisan yang diperkaya dengan jiwa.

Advertisement

Menurut Anoviyanti (2008), seni merupakan terapi yang menyehatkan jiwa. Tidak lain karena ia merupakan materi yang tersublimasi lewat perasaan ataupun memori dari seseorang tatkala kita melakukan kegiatan berkarya seni. Saya rasa karya tulis juga termasuk dalam sebuah karya seni yakni karya seni sastra, bukan? Berarti ada bagian yang terkontemplasi lewat tulisan yang kita hasilkan.

Namun, jika kita merasa masih kurang greget atas karya sastra yang telah berhasil kita gubah, tampaknya mencoba seni yang lain sebagai pemicu untuk memantikkan semangat agar dapat memaksimalkan refleksi diri kita pada sebuah tulisan yang kita ciptakan menjadi pilihan yang menarik.

Perlu diingat bahwa setiap manusia punya karakter yang berbeda. Ini akan tampak pada hasil tulisan atau karya sastranya. Seni entah itu melukis, menyanyi dan mendengarkan musik, menonton film dan lain sebagainya hanyalah mencoba untuk menemukan sisi terbaik dari diri anda sehingga hal potensial yang terkubur dapat bangkit dari mati surinya. Seni bukan memaksa untuk mengejawantah jiwa anda sehingga menjadi sosok yang baru.

Jadi, tak ada salahnya bukan untuk berkesenian demi mengeksplor potensi diri serta mendistribusi penuh jiwa pada sebuah karya sastra yang akan kita produksi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya