Kembali senja di kotamu, tidak banyak yang berubah, hanya genggam tanganmu saja yang terlepas dari jari-jemariku. Menyisakan ruang kosong di hati yang tidak pernah bisa terganti oleh siapa pun. Kota ini masih seperti dulu, masih menyimpan sejuta kenangan, masih terlihat jelas mimpi yang pernah kita tuliskan bersama, walau perlahan semakin samar tersapu oleh kejamnya waktu. Setiap sudut disana masih menggambarkan jelas, ribuan rindu yang aku bawa dari jauh untuk akhirnya bisa kembali bertemu denganmu, untuk akhirnya kembali lagi bisa menata setiap bagian kepingan-kepingan hatiku yang sungguh amat sangat merindukanmu. 

Masih aku ingat jelas senyumanmu, bahkan tawamu, sungguh suara yang sangat aku kenali, yang jujur saja masih sangat aku rindukan sampai detik ini. Kota ini jadi saksi bisu dari cinta dua anak manusia yang tidak pernah bisa bersatu karena takdir yang tak pernah mengizinkan. Kota yang akan tetap terlihat sama, namun selalu hangat untuk dirasakan jauh di dalam hati kita. Kota yang akan selalu menyimpan sejuta kenangan setiap kali aku menginjakkan kakiku disana, walau tidak ada lagi kamu yang justru sebenarnya yang paling aku rindukan. 

Advertisement

Senja ini melabuhkan seluruh rasa di hatiku, membuat jantungku lagi-lagi berdegup keras. Semua masih tentangmu, tentang pribadi yang paling aku cintai, namun mungkin tidak sama besarnya seperti cinta yang kamu miliki untukku. Senja yang melarutkan semua angan dan mimpi, yang selalu membuatku ingin memutar waktu jika aku bisa. Menggenggam tanganmu lebih erat, menatapmu lebih dalam, dan mengatakan sejujur dan sesungguhnya dari hati yang terdalam bahwa aku mencintaimu; sebelum semuanya terlambat seperti saat saat ini.

Senja di kotamu membawa kembali sejuta rindu, yang menyayat dalam relung hatiku, meremukkan pikiranku, membuat segalanya lagi-lagi kembali berfokus hanya tentangmu. Senja yang kunikmati walau rasanya menyakitkan, memejamkan mataku dan dengan jelas bisa kembali melihat senyuman yang paling aku suka itu, merasakan hangatnya genggaman jemarimu dan seolah aku tidak ingin melewatkan senja ini.

Mengulang kembali ribuan mil dari cerita yang sudah lama berlalu itu, cerita yang tidak akan pernah punya akhir bahagia seperti dalam kisah dongeng, karena kita sudah memutuskan untuk tidak lagi melangkah dalam iringan langkah yang sama. Tapi aku tetap saja tidak juga ingin membuka pejaman mataku entah hingga kapanpun.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya