Kembali aku mempermasalahkan waktu. Waktu yang tidak pernah tepat. Waktu yang tidak bisa berjalan mundur. Dan waktu yang akhirnya membuatmu hidup dalam ingatan.

Puluhan ribu detik yang lalu, mata kita saling beradu. Bertatapan tidak lebih dari sepenggal nafas kemudian beralih. Puluhan ribu detik yang lalu, kepalaku menoleh setelah aroma selegit apel pie tanpa sengaja terhirup ketika sosokmu beralih. Kau tersenyum. Senyum yang kekal dalam ingatan.

Advertisement

Puluhan ribu detik yang lalu, tanganmu menjabat tanganku. Hangat… Getaran itu terhantar ke hatiku. Memenuhi setiap relung kosong yang tiba-tiba penuh.

Puluhan ribu detik yang lalu, aku berjalan ke arahmu. Puluhan ribu detik yang lalu, cahaya neon menyoroti kita yang berhadapan penuh binar. Puluhan ribu detik yang lalu, kau menjadi milikku.

Puluhan ribu detik yang lalu. Ya, lalu… Waktu yang sudah terlewati. Tidak akan kembali.

Advertisement

Kau. Yang hidup dalam ingatan. Akan selalu hidup dalam ingatan tanpa pernah kuusir.

Bukan aku masih mengharapkanmu. Tapi aku tidak ingin menjadikanmu kenangan yang sewaktu-waktu hilang.

Aku ingin menjagamu tetap hidup. Meski hanya dalam ingatan yang ribuan detik lalu pernah menghantuiku dalam kemurungan.Kau yang hidup dalam ingatanku. Rasa manis yang kuecap saat memandangmu tidak berubah. Bahagia yang menyeruak ke dalam hatiku ketika suaramu mengalun tidak berganti. Bukan, aku tidak mengharapkanmu kembali. Aku hanya ingin memeliharamu tetap hidup.

Aku menghormatimu sebagai orang yang dulu mengisi relung hatiku. Naifku begitu ambigu antara aku tidak bisa lepas darimu atau tidak ingin melepaskanmu. Kembali ku katakan, aku ingin kau hidup dalam ingatanku. Hanya itu.

Waktu yang kita lalui begitu manis. Kau mengucuri kasih dengan caramu yang membuatku jatuh padamu lagi dan lagi. Tidak ada yang kau tutupi. Tidak ada usahamu merubahku menjadi apa yang kau mau. Dan tidak ada alasan yang kau buatuntuk sesekali menghindariku yang selalu haus rindu.

Kau mengajariku arti kesabaran. Kau pula yang memberitahuku apa itu arti menunggu dari siratan air mukamu dan lakumu yang tersurat. Kau, tidak pernah merubahku menjadi sosok yang kau mau, tapi kau berhasil mengubahku menjadi sosok yang kuinginkan. Kau… Mata di balik kaca minus itu. Binarnya tidak akan kulupa.

Berada sangat jauh darimu tidak seburuk dugaanku. Termasuk dalam situasi hati kita tidak saling tertaut lagi. Semua karenamu yang memposisikanku lebih seperti sahabatmu.

Tidak ada lagi kita. Sekarang adalah aku dan kau. Tidak buruk, hatiku tidak menjerit. Sebaliknya, aku merasa lebih baik karena kau juga merasakan hal yang sama. Kini kau berada di seberang sana. Mengejar impian yang setengah mati ingin kau jadikan kenyataan. Aku bersorak untukmu. Dari pinggir pesisir sini aku menanti kabar baik atas keberhasilanmu.

Aku mengingatnya. Ketika kita berjanji untuk bertemu kembali setelah impian yang kita perjuangkan terwujud. Aku menanti hari itu tiba. Kita berjalan menuju neon yang sama dari arah berlawanan. Di tanganku ada hangat yang kugenggam. Dandi lenganmu, ada tangan yang melingkar. Kita berhadapan dengan tersenyum kemudian aku menjabat tangan lembut sosok di sampingmu.

Aku bahagia dengan membiarkanmu hidup dalam ingatanku seperti ini. Tawa bahagia, senyum malu, pedih, semua terkadang kurasakan dalam satu waktu. Kau membuat perasaanku meletup. Pekaku muncul karena penuh yang kau isi kala itu.

Terima kasih…

Perpisahan tidak harus diikuti dengan permusuhan. Tidak seharusnya disusul dengan perpecahan.

Aku dan kau melakukannya. Penjajakan dalam puluhan ribu detik yang kita lakukan pada waktu lampau tidak berjalan sesuai asa yang diam-diam kita pendam.

Aku dan kau saling mundur karena memang saatnya mundur. Kala itu aku menyayangimu, kau juga mengasihiku, tapi ada hal lain yang lebih membutuhkan sayang dan kasih kita.

Berbahagialah kau yang hidup dalam ingatan. Sepenggal kisah dalam bait kalimat kutorehkan karena aku mengingatmu. Aku tidak berharap kau mengingatku sebesar aku mengingatmu. Namun aku tahu, ada sudut kecil yang sengaja kau pagari untuk menjadi tempatku.

Berbahagialah dalam perjuangan yang masih kau lakukan. Berserulah jika kau merasa lelah. Mengeluhlah jika kau memang tidak sanggup memendamnya lebih lama.

Hidupku jadi berarti karenamu. Kehilangan bukan hal yang menakutkan karena kau mengajariku. Dan banyak pelajaran luar biasa lain yang kau balut dengan caramu.

Kau, sekali lagi terima kasih telah menjadi orang yang pernah kucurahi kasih. Terima kasih karena menyayangiku sebesar yang kau mampu. Kini aku berjalan di porosku dan kau meniti di lajurmu. Aku mengingatmu. Karena kau memang hidup di sana. Dalam ingatanku yang tak lekang oleh waktu.

Kelak, kini aku berbicara tentang waktu yang nyata. Yang belum terjadi namun pasti dihadapi. Aku ingin kita selalu baik-baik saja. Masih erat menyambung silahturahmi dan masih baik tanpa menyimpan benci.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya