Sepucuk surat baru kuterima pagi ini, bahagia rasanya setelah sekian lama aku tak pernah memperoleh kabar darimu. Melalui tulisan-tulisanmu kamu selalu bisa membahagiakanku dengan puisi-puisimu, cerita kekonyolan tentang dirimu, dan juga semua rayuan yang kau kirim kepadaku. Aku merasa seperti menjadi orang yang paling bahagia sekaligus beruntung di dunia ini karena hadirmu di kehidupanku seolah memberi warna baru. Setiap malam aku selalu membayangkan wajahmu menjelang tidur dan tak jarang pula aku bermimpi tentangmu setelahnya.

Harus aku akui aku jatuh hati padamu, bahkan lebih dari itu aku akan takut jika aku kehilangan dirimu. Namun apadaya diriku selalu menahan semua perasaan yang ada. Aku khawatir akan ikatan yang telah kita bangun selama ini hancur karena keegoisan salah satu dari kita untuk ingin memiliki seutuhnya, pun sebenarnya dengan hubungan yang aku jalani saat ini bersamamu aku sudah cukup merasa nyaman tanpa harus merasakan cinta darimu. Ya! Sebuah pertemanan yang tak perlu dipertanyakan kembali.

Advertisement

Namun, berbeda kali ini saat aku membaca isi surat darimu tak kuasa rasanya hati ini kau meminta untuk mengakhiri semua atas apa yang kita mulai selama ini. Khawatir bila kedekatan ini menjadi cinta karena aku tak siap untuk disakiti dan juga menyakitimu, biarlah kita tidak bisa menyatu namun kumohon janganlah engkau menjauh karena aku sudah terlanjur nyaman bersenda gurau dan berbagi kebahagiaan bersamamu

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya