Bilakah dia tahu..

Apa yang telah terjadi..

Advertisement

Semenjak hari itu..

Hati ini miliknya..

Hai cinta pertama, apa kabarmu? Empatbelas tahun rasanya terlalu cepat untuk melupakanmu. Seseorang yang tak pernah ku miliki raganya namun terasa dekat di jiwa ini.

Advertisement

Siang itu, tak pernah ku lupa bagaimana kharismanya mencuri hatiku. Di tengah panas terik kegiatan Masa Orientasi Siswa baru untuk jenjang SMA di mana aku bersekolah, hati ini merasa ada sesuatu yang berbeda. Entah apa itu. Sesuatu yang tak pernah kurasakan dan kuketahui sebelumnya ketika aku melihatnya..

Lonceng tanda pulang sekolah pun berbunyi. Dan itu sangat menyebalkan bagiku. Karena aku harus mengikuti ekstrakurikuler mata pelajaran yang sangat tidak kusukai, akuntansi misalnya.

Lebih baik berikan padaku sebaris panjang aljabar biar ku selesaikan daripada sebaris panjang akun harta, hutang, modal, dan kawan-kawannya. Fiuhhh…

Teman-temanku saat itu pun heran karena mereka menganggap aku juara kelas tapi tidak bisa menyelesaikan persoalan akuntansi yang mudah.

Tak lama kemudian, guru akuntasiku pun masuk ke kelas dan seperti biasa memberikan penjelasan dan tugas yang membuatku ingin hilang seketika dari bumi ini. Kami pun diberi waktu 1 jam untuk menyelesaikannya. Keringat dingin mulai keluar dari keningku. Mencoba mengutak atik kolom akun yang terdapat di kertas folio panjang itu.

Sampai pada akhirnya, tanpa kusadari seseorang duduk di sebelahku dan mulai menyapa ,”Mana yang nggak bisa?” Terdengar riuh teman2ku menyoraki kami. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah bagiku. Aku lebih merasa ada yang aneh dengan hati ini. Hatiku berdegup kencang. Kakak kelasku. Ya, dia. Sebutlah namanya Andi.

Dia duduk di sebelahku dengan baju yang basah karena keringatnya bermain voli. Lapangan voli dan kelasku hanya berbatas pagar kecil. Dan dengan terbata-bata sambil tak lepas pandanganku darinya, aku menunjuk pada satu kolom akun dan dia mulai menjelaskan panjang dan lebar. Lalu dia mengambil pena ku dan mulai mengerjakannya.

Sepanjang dia mengerjakan soal itu, mataku tak lepas dari pandangan terhadapnya.

Dan lamunanku itu buyar ketika dia bergegas meninggalkan kelasku karena guruku datang. Sambil menepuk lembut bahuku dan senyumannya yang menawan itu, dia berkata, “Itu udah aku kerjain, kamu tinggal lengkapin aja ya.”

“Jangankan duduk dekatnya, melihatnya saja sudah mampu membuat jantung ini berdegup kencang..”

Empatbelas tahun sudah berlalu peristiwa itu. Tapi bayangannya masih erat dalam pikiranku. Dia yang membuatku, seorang introvert ini, menemukan jati diriku untuk berorganisasi. Dia membuatku keluar dari zona nyaman sebagai orang yang suka menyendiri ini sampai pada akhirnya aku diangkat menjadi Ketua OSIS pada angkatanku.

Dia lelaki pertama yang kuberikan first cake di hari ulang tahunku yang ke 17. Dia lelaki pertama yang datang ke rumahku bersama dengan teman-temanku dan membawa kue tart untukku. Sebuah moment yang sederhana tapi sangat membekas dalam ingatanku.

Dan sepucuk surat ini, kupersembahkan untuk kakak kelasku, cinta pertamaku. Walau kini aku tak tahu tentangmu, tetapi setidaknya aku tahu di 14 tahun yang lalu, kamu yang pertama kali mengenalkanku pada cinta. Cinta pertama yang memang tidak berakhir indah, tapi selalu layak untuk dikenang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya