Jarak Medan dan Padang itu tidak menghabiskan ribuan purnama, pun demikian dengan menunggumu 9 tahun lamanya, 28 Maret 2010 kisah itu dimulai, " Zira, kamu tujuanku kembali nanti, rimbun tumbuhan yang kutemui saat keberangkatanku, melambaikan namamu sepanjang jalan, pun tiupan angin di beberapa lembah itu mengazamkan hatiku untuk kembali menjemputmu untuk hidup bersama ku di ranah minang ini. Zira aku tak bisa tanpamu, jangan menangis Zira, percayalah batinku selalu di sisimu". 

Waktu berlalu begitu saja Zaqi, setelah jatuh bangun hubungan ini, dimulai dari menunggumu wisuda hingga engkau mendapatkan pekerjaan. Kubersamai dirimu, ragaku memang tak di sana, namun bukan kah "bersama" bukan tentang raga yang saling bersua namun tentang tentang jiwa yang saling mengingat. Aku suka Boy Chandra, namun aku hafal Novel Negeri Lima Menara juga Ranah Tiga Warna nya, karena engkau pernah menyukai nya, aku tak ingin menjadi asing walau jauh darimu, aku suka tulisan Buya Hamka, namun aku update tulisan Anis Mata karena kau mengidolakan tulisannya walau katamu kala itu engkau jauh lebih suka aku. 

Advertisement

Malam itu riuh Zaqi, saat kau menelponku memulai kisah pilu ini, " Zira, ada yang ingin abang sampaikan" 


"Katakanlah bang"



"Zira, ibuku ternyata tak menyetujuimu menjadi menantunya, maafkan aku Zira. Kita sudah dewasa, kurasa hubungan ini sampai di sini saja. Zira kau harus paham bahwa aku tidak berkhianat yang kupilih adalah keberkahan hidupku.

Advertisement

Zira aku ingin beribadah.  Zira kuharap kau sabar dan ikhlas, dan ya Zira aku telah melamar seseorang dengan proposal taarufku, ibuku menyukai nya, nenekku juga, walau jiwaku kosong, yah aku juga ikut ke rumahnya melamarnya. Maafkan aku Zira."



"Abang, selamat ya sudah menyempurnakan separuh agamamu, walau bukan denganku yang telah menemanimu berjuang 9 tahun. Aku tak menyangka ibumu menolakku padahalku rasa hubungan kami cukup baik. Yah sudahlah, abang, jika niatmu ibadah, mengapa tak denganku yang telah kau ukir ribuan janji hidup bersama? Terlalu hinakah aku sehingga tak disetujui mendampingimu, abang?

Aku pernah berjanji aku akan menunggumu tanpa peduli engkau datang atau tidak. Aku akan menunggumu sampai engkau tak bisa di tunggu dan hari ini aku sudah membuktikannya. Pun dengan janjimu yang akan tetap datang tanpa peduli aku menunggu atau tidak pun engkau telah membuktikannya.

Sembilan tahun abang aku menunggu lamaranmu, ternyata engkau melamar wanita yang baru pertama kau jumpa dan kau kenal lewat proposal taarufmu, abang. Apa salahku? Apa aku yang tak peka dengan nasehatmu yang sudah tak menginginkanku? Apa aku yang tak peka dengan ketidakpedulianmu yang kupikir hanya karena kesibukan?  Abang apa aku sehina itu? Sehingga tak layak di jadikan partner ibadahmu?


Kumatikan telpon tanpa salam tanpa menunggu jawaban apapun untuk yang terakhir kalinya setelah sembilan tahun aku menunggu janjinya.

Beberapa hari kemudian kudapati email darimu yang isinya "Apakah karena aku tidak berjuang lantas kau bilang aku penghianat? Aku tak pernah berpikir yang buruk padamu walau dalam hatiku, aku memuliakanmu. Pandanganku dan pandanganmu memang berbeda tentang pernikahan. Bagiku pernikahan itu ibadah, namun bagimu pernikahanku di latar belakangi penghianatan cintamu. Pahamilah rasa cinta dan benci itu antara itu ada satu titik yang kelak akan kau pahami. Jelas sekali kau menyindirku, dengan doamu dan satu lagi jangan pernah singgung keluargaku. Aku lebih tahu mereka dari siapapun.

Email itu kubalas dengan air mata juga dengan kata-kata…


"Ya Tuhan lelaki inikah yang kucintai 9 tahun lamanya? Lelaki inikah yang kudoakan kebaikannya, kesehatannya, rezekinya, karirnya, semua ke maslahatan untuk hidupnya.

Zaqi aku sudah tidak punya ruang untuk memahami rasa untuk suami orang baik itu cinta atau benci. Zaqi jika pernikahan itu untuk ibadah ya sudah beribadahlah dengan baik mengapa harus susah payah memikirkan penilaian pengkhianatan yang kusematkan padamu? Bukan kah aku hina Zaqi? Jadi tak perlu takut dengan doaku, memuliakanku katamu?

Aku tidak punya kata untuk menjawab ini karena tidak bisanya aku memahami makna memuliakan yang kau maksud. Dan masalah keluargamu, jika kau lebih tau mereka dari siapapun. Harusnya kau tahu ibu tidak menerimaku sebelum engkau berjanji padaku.

Mengapa kau terus melukaiku? Apa kau ingin mendengar jawaban-jawaban kemurkaanku? jeritan piluku? Teriakan marahku? Agar kau merasa benar meninggalkanku, agar kau merasa tidak berdosa mengingkari janjimu, agar kau merasa benar-benar suci dengan menikah bukan denganku?


Aku sudah kalah. Sudahlah, kenapa jadi aku yang salah? Baiklah salahkanlah. Aku layak ditinggalkan. Langkahkan lah.

Penjelasanmu tidak mengubah apapun.

Pun kesakitanku yang kau tak bolehkan ada karena seolah penghalang bahagiamu, kenapa hidupmu sehebat itu?

Aku benar-benar patah. Aku benar-benar jatuh, memar di mana mana. Semua yang indah jadi titik yang menyakitkan. Aku jadi menangis saat aku membaca post tentang taaruf. Aku menjadi hina saat aku melihat post akhwat yang suci saat menulis tentang jodoh. Aku sakit, aku benar-benar sakit. Aku tidak pernah merasakan kehilangan kepercayaan diri dengan begitu hancurnya. Kau yang kucinta ternyata teganya tingkat dunia akhirat.

Aku merasa bukan seperti manusia yang layak mendapatkan cinta, hangus terbakar, dengan pengkhianatan yang beralaskan pembenaran keridhaan orang tua. Jadi halalkah menyakitiku seolah aku manusia tanpa rasa?

Kejadian itu membuat aku benar benar patah. Setiap melihat post tentang akad atau pernikahan hati ku tersayat, langsung terbayang dirimu yang menerima nikah dari seorang gadis lain yang mana dulu sering kau ceritakan gadis itu adalah aku. 

Penghianatanmu membuat aku membenci. Iya membenci aktivitas yang mengalaskan kesucian pernikahan, karena aku merasa akulah korban dari pembenaranmu itu. Sebenarnya pernikahan itu suci, namun karena perbuatanmu aku tersakiti setiap mendengarnya. 

Aku mau tidak mau harus memulihkan hatiku karena dalam nya luka darimu. Mendengar kata "ikhwan" dengan jenggot tipis-tipis hatiku perih, entah apa yang kuperihkan, namun karena itu stylemu aku juga jadi turut membencinya.


Aku selalu bertanya pada Tuhan, mengapa Tuhan mengirimkan manusia sekejam dirimu untuk mengujiku….


Wajah yang teduh, penampilan yang rapi, nasehat yang menyejukkan ternyata menjadi pembenaran dari kesalahan yang sungguh menjatuhkan dan mematahkan diriku sepatah-patahnya.

Kita memang tidak bisa menilai seseorang dari yang terlihat dari yang terasa dari yang terdengar. Hanya Allah yang memang benar-benar tahu hati seseorang. Kejadian ini mengajarkanku untuk pasrah dan menerima takdir Tuhan. Karena dari semua kriteria lelaki baik ada padamu namun tiada disangka di akhir perjuangan engkau melemparku ke jurang gelap tanpa lembah.

Kejadian ini mengajarkan untuk tidak memuji makhluk karena sesungguhnya hanya sang Kuasa yang Maha Mengetahui Segalanya.

 

 

 

 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya