Indonesia terkenal dengan sumberdaya batubara yang sangat besar. Batubara ini digunakan sebagai sumber pembangkit listrik tenaga uap atau yang lebih kita tau sebagai PLTU. Batubara adalah sisa-sisa fosil makhluk hidup yang mengendap selama ratusan tahun atau bahkan ribuan tahun lamanya. Memang Indonesia patut berbangga dengan jumlah batubara yang kita miliki. Namun, apakah kita pernah berfikir? Jika batubara habis, lalu bagaimana? Apa yang akan terjadi dengan negeri kita? Batubara memang suatu hal berharga bagi negeri kita, suatu hal yang penting bagi sumber listrik di Indonesia. Namun, dampak panjang yang akan ditimbulkan dengan adanya pengerukan batubara di tanah Indonesia itulah permasalahan yang harus kita cari jalan keluar dan diselesaikan.


Film Dokumenter yang berjudul Sexy Killers ini merupakan gambaran bagaimana kondisi rakyat. Apa yang mereka rasakan dan bagimana kondisi mereka.


Advertisement

Pengerukan batubara di Indonesia dilakukan oleh beberapa perusahaan swasta maupun perusahaan dalam negeri. Perizinan penambangan batubara ini dilakukan oleh pemerintah, entah itu pemerintah daerah penambangan atau bahkan izin dari pusat langsung. Penambangan-penambangan yang ada disekitar pemukiman warga mengakitbakan banyak kerugian yang dirasakan oleh para warga sekitar. Pengerukan yang dilakukan secara terus menerus mengakibatkan banyaknya lubang-lubang air sisa pengerukan yang sudah memakan banyak korban jiwa yang kebanyakan adalah anak-anak dibawah umur. Hal ini terjadi karena kurangnya penjagaan atau pertanggung jawaban dari pihak perusahaan, dimana lubang-lubang tersebut harusnya di timbun kembali dengan tanah. Tak terhitung korban jiwa yang meninggal di dalam lubang-lubang tersebut. Banyak lahan sawah para warga hancur dan hanya bersisa bekas-bekas galian batubara. Hal ini menunjukkan bahwa adanya penyimpangan nilai-nilai pancasila sila kedua yang berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradab. Korban yang meninggal, sawah yang hilang dan pertanggung jawaban atas lubang-lubang bekas penambangan yang memkan korban tersebut tak adil rasanya, demi listrik di Indonesia perlu mengorbankan nyawa-nyawa tak berdosa. Lahan yang dulu menjadi bentangan hijau yang asri sekarang hanya menjadi lubang-lubang pemakan anak-anak tak bersalah.

Dampak lain yang diakibatkan oleh para perusahaan ini adalah pada saat pengiriman menggunakan kapal yang melewati laut laut Indonesia yang secara tidak langsung merusak ekosistem perairan laut. Tongkak-tongkak dan kapal yang melewati lautan serta membawa berton-ton batubara telah merusak perairan dan merugikan para nelayan. Mulai dari kapal pembawa batubara yang berhenti seenaknya di kawasan konservasi bahkan sampai runtuhan batubara yang jatuh kedalam perairan.

Rakyat menolak semua perusahaan batubara dan juga pembangunan PLTU dikarenakan bagi mereka semua kegiatan tersebut sangat merugikan bagi mereka. Mulai dari pengerukan batubara yang menghabiskan semua lahan sawah mereka,  berdampak pada kesuburan tanah sawahnya, merusak bangunan rumah warga karena penambangan mengubah tingkat kemiringan dataran mereka, hingga bekas galian tambang perusahaan yang merenggut nyawa anak-anak mereka, penolakan warga yang berujung bui. Kejadian ini merupakan penyimpangan nilai-nilai pancasila sila kelima yang berbunyi keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Ada dimanakah letak keadilan bagi warga yang langsung merasakan dampak dari tambang-tambang tersebut? Menggali, mengambil keuntungan namun tak diperbaiki. Pemerintah yang mengizinkan  namun tak bertanggung jawab akan dampaknya. Warga yang hanya ingin mempertahankan lahan untuk hidup pun harus merasakan bui karena dianggap bersalah.

Advertisement

PLTU yang juga berada dekat pemukiman warga serta laut kita pun memberikan dampak yang sangat besar. Mulai dari berkurangnya ikan yang ada sehingga menyulitkan para petani, debu-debu hasil pembakaran batubara yang menjadi polusi. Warga hidup dari laut namun lautnya dikotori oleh berbagai, lalu bagaimana mereka mencari nafkah untuk keluarganya. Debu-debu yang bertebaran dan masuk ke dalam paru-paru warga tidak hanya menyebabkan batuk-batuk biasa, namun lebih dari itu. Tak terhitung berapa banyak warga yang meninggal karena penyakit pernapasan semenjak dibangunnya PLTU.

Listrik yang nikmati oleh jutaan rakyat Indonesia berasal dari penderitaan ratusan warga yang tinggal didaerah penambangan batubara dan PLTU. Rasanya tidak adil ketika kita dapat merasakan nikmatnya cahaya, nikmatnya menonton tv sedangkan saudara bangsa kita sedang berkabung karena kehilangan lahan sawah, lahan kebun, anak, istri, suami, ayah dan ibu mereka. Indonesia perlu energi alternatif untuk sumber listrik kita, Indonesia perlu energi yang lebih ramah lingkungan, Indonesia perlu orang-orang yang tak egois untuk mengisi rekeningnya dengan milyaran atau bahkan triliyunan uang. Berdasarkan kejadian ini bisa kita lihat bahwa terjadi penyimpangan nilai-nilai pancasila sila ketiga yang berbunyi persatuan Indonesia. Batubara dapat memecah persatuan Indonesia karena adanya rasa iri antar rakyat. Iri yang terbentuk dari tidak adilnya pemerintah untuk mereka.

Kebijakan yang dilakukan pemerintah pun dirasa kurang tegas. Kebijakan dalam perizinan penambangan, perizinan dalam pembangunan PLTU yang mana berada disekitar pemukiman warga. Suara rakyat patut didengarkan. Mereka adalah pembangun negeri ini, jangan lah hanya orang besar yang didengar, yang kecil pun perlu didengar. Hal ini merupakan penyimpangan nilai-nilai pancasila sila keempat yang berbunyi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Pemerintah harusnya merangkul warga sekitar untuk andil dalam perizinan dan juga kebijakan.

Melalui film ini, seluruh generasi bangsa mampu melihat, bagaimana keadaan negeri ini, "sekaratnya" negeri tercinta ini. Film ini adalah harapan baru agar suara rakyat didengar. Rakyat Indonesia yang dulu bahagia, tentram, aman, saling mendukung, kini tinggal tangisan. Kini hanya tinggal kesedihan. Tegakan keadilan bagi rakyat, kembalikan Indonesia yang damai. Salam cinta, Negeriku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya