Dari kutipan Pablo De Sarasate di atas, saya menemukan banyak hal yang Dia tidak perlu untuk mencari pembenaran atas apa yang ia lakukan selama umur hidupnya. Selama 37 tujuh tahun, ia berlatih dengan biolanya dan tidak selama berpuluh-puluh tahun belum ada penghargaan untuknya, namun ia tetap berlatih dan berjuang hingga akhirnya ketekunan selama bertahun-tahun itu menghasilkan kata "genius". Padahal baginya genius itu tidak ada, yang ada ia sibuk mempelajari apa yang harus ia pelajari hingga benar-benar menjadi berbeda.

Aku membayangkan bagaimana jika Pablo De Sarasate berhenti berlatih ketika sepuluh tahun pertama, akankah kata genius juga melekat pada dirinya? tentu tidak. Dan yang aku kenal lainnya adalah Dee Lestari, yang dengan 15 tahunnya baru merampungkan Supernovanya. Bagaimana jika Supernova hanya dibuat dalam hitungan 5 tahun, akankah juga meledak sedemikian apiknnya? Baik Pablo atau pun Dee, mereka tidak mengenal kata genius atau pandai, yang mereka tahu adalah melakukan hal yang mereka inginkan dan tidak mengenal lelah.

Advertisement

Bagaimna denganmu? akankah kau menjadi seorang penulis pemula yang berhenti sebab karyamu ditolak? atau engkau menjadi penulis yang menyerah di awal karena tulisanmu tidak pernah dibaca orang? mengapa menyerah, engkau belum berusaha dan tekun seperti Pablo? Atau Ahmad Tohari penulis Ronggeng Dukuh Paruk? Sudahkah kau pernah bertemu dengan Kang Ahmad Tohari? Ia hanya manusia biasa yang hidup di desa, ia hanya tekun dan rajin menulis karya saja, sehingga ia dikenal.

Tidak ada jalan yang instan di dunia ini. Menulislah jika itu keinginanmu. Membacalah jika itu menjadi kebutuhanmu. Kelak, jika engkau tidak kenal kata henti maka semua akan berbuah baik. Sebab orang tak pernah mau mengenal proses, orang hanya tahu siapa engkau berpuluh-puluh tahun esok. Jadi sekarang nikmati saja prosesmu yang sedang terjalani hingga membuahkan hasil.

………

Advertisement

Beberapa waktu, saya diundang, tepatnya diajak diskusi di Asrama Bengkulu, membahas mengenai sastra dan bedah buku saya yang berjudul Anak Kolong Langit. Di dalam diskusi tersebut seseorang menanyakan bagaimana saya bisa menciptakan karya setebal buku itu, bukankah tidak mudah? apakah penulis harus pintar? dan saya hanya menjawab bahwa perbedaan saya dengan kebanyakan anda yang di sini adalah sebab saya menulis setiap hari. Apa saja yang ingin ditulis maka tulislah. Bayangkan saja, setiap hari anda menulis, maka dalam satu tahun anda sudah dapat ribuan lembar dan itu mudah saja dijadikan buku.

Menulis bukan permasalahan pintar atau tidak, apa pun halnya adalah permasalahan mau menekuni atau tidak. Letaknya di sana. Saya mengungkapkan bahwa saya hanyalah perempuan bodohh, namun saya mau mulai belajar menulis sehingga menghasilkan beberapa karya sekarang. Bisa jadi sekarang di ruangan ini saya masih lebih bodoh dari banyak peserta di sini, bedanya saya menulis dan menjadikannya karya, sedangkan yang lain membiarkan kepintarannya hilang ditelan waktu.

Pun, semalam saya diajak ngopi oleh seorang teman lama. Kami membicarakan sastra, dan ia mengetahui aku telah menulis sebuah buku, dia pun mengatakan aku habat. Di dalam hati aku bencci orang yang memuji, sebab mereka tak pernah tahu bagaimana berjuang sebelumnya. Ya, tapi begitulah manusia, mereka melihat siapa kita sekarang, bukan siapa kita di ddalam proses sebelumnya.

Sekarang, banyak sekali orang bercita-cita, namun pada akhirnya mereka menyerah pada citanya sebab dibilang sulit. Ya, tidak cita-cita namanya kalau mudah diraih. Lagippula, mengapa harus terburu-buru mewujudkan cita-cita? kalau sudah terwujud cepat hidup ini tidak seru lagi, tidak ada yang harus diperjuangkan kan? Seperti Pablo De Sarasate, ia butuh 37 tahun untuk berproses sehingga musiknya khas dan sangat orisinil. Tidak ada yang menaffikan hal itu. Musiknya unik. Ia menemukan musiknya sendiri dengan berlatih empat belas jam dalam sehari. Adakah kini yang demikian? Aku pun tidak bisa. Aku hanya menyisihkan waktu membaca satu jam, dan menulis apa saja setiap hari agar otakku dan jemariku terbiasa menulis. Termasuk tulisan yang sedang engkau baca ini, tulisan yang tidak jelas, namun daripada aku tidak menulis sama sekali, lebih baik aku menuliskan ini. Tulisan ini adalah obrolan pagiku bersama layar onlineku.

Hidup adalah seni. Begitu katanya. Kata siapa? Banyak yang menyebutkan demikian. Salah satunya Rod JUdkins dengan karya bukunya The Art Of Thinking. Aku merekomendasikan buku itu untukmu yang ingin berpikir berbeda. Setidaknya ketika di dalam pemikiran sudah terbentuk suatu perbedaan, maka kita akan bisa melihat banyak hal dari sudut pandang yang berbeda. Aku menyarankan betul agar engkau membaca buku itu. Buku itu mengajarkan untuk bagaimana berseni di dalam proses kehidupan agar tidak menjenuhkan.

Aku ingat satu kalimat yang Rod Tulis, begini " Orang-orang dengan cita rasa yang buruk dan ide-ide yang biasa adang menjadi sukses luarbiasa sebab mereka tidak tahu kapan harus berhenti." dan juga aku suka salah satu kalimatnya yang ini, " Kadang orang sibuk menghasilkan karya untuk dipuji, daripada menghasilkan karya yang benar-benar dinikmati,"

Done -.-

Writer: PT

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya