Dari kami penikmat laman biru tua..

Saya pinjam kutipan dari mas Haris Firmasnyah dalam blognya “ Kalau pemerintah blokir Tumblr ku curhat di mana lagi ? “

Advertisement

Saya nggak akan ngebahas alasan dibalik pemblokiran Tumblr. Tulisan ini pure dari sudut saya sebagai salah satu pengguna Tumblr saya sangat kecewa dengan kebijakan yang disampaikan Kemkominfo di laman Twitter resmi miliknya pada 05 maret 2018 yang lalu. Ya waktu itu saya tidak mengetahui kalau media sosial yang telah banyak menyimpan keluh kesah dan memberi banyak ilmu pada saya ini sudah diblokir.

Waktu itu saya kira jaringan provider saya yang bermasalah karena berkali-kali saya upload tulisan selalu gagal. Sampai akhirnya menemukan kicauan teman-teman. Mereka yang pada berahli berkicau di Twitter atau ‘menyampah’ di instastory, sesuatu yang jarang saya temukan, karena sebagian mereka lebih sering terlihat memenuhi halaman Tumblr dengan keluh resah yang normal bahkan upnormal

Dari kicauan mereka di Twitter-lah saya baru mengetahui ternyata microbbloling tersebut telah dibekukan oleh pemerintah. Sungguh sayang sekali. Padahal minggu-minggu tersebut banyak sekali cerita yang ingin saya sharing di akun blog saya. Mau curhat dimana saya kalo Tumblr nggak bisa di akses sampai hari ini?

Advertisement

Mau berbagai di Twitter? Nanti yang ada dinyinyir lagian Twitter punya batas karakternya bukan? Instagram? duh duh duh nanti yang ada olshop lagi pada memenuhi kolom komentar, Facebook? duh gimana yaaaa , masyarakatnya terlalu banyak mengenal kami nggak ada privasi yang ada habis di bully teman-teman seangkatan.

***

Mengutip tulisan mbak Tami S dalam petisinya di halaman Change.org “ Bapak harus tahu, saat sedih, saya menggunakan Tumblr. Saat senang, risau, bahagia, bahkan patah hati atau depresi, Tumblr adalah media untuk berkekspresi. Dengan Tumblr, ada orang-orang yang tidak bebas menyalurkan pendapat pada dunia nyata, menjadi luwes dan apa adanya di dunia maya. Dengan Tumblr, banyak kalangan menemukan telinga untuk mendengar ketika bahkan ia tidak mampu “berbicara”. “

Saya sangat setuju dengan tulisan beliau, karena begitulah adanya saya. Ada cerita atau masalah yang kadang enggan untuk saya bagikan dengan sahabat-sahabat saya, lewat Tumblr saya bercerita. Menumpah resah dan gelisah melalui kata.

***

Dear Pak Mentri.. Pernah ngerasain pedihnya kehilangan koleksi tulisan?

Banyak dari teman-teman yang menyimpan tulisan mereka di Tumblr. Bahkan ada draft Tumblr yang menyimpan tulisan mentah yang belum ter-backup sama sekali. Dan perihnya lagi, nggak ada backup untuk tulisan-tulisan yang telah di publish. Duh rasanya itu nyesek banget pak. Mau marah tapi apalah daya kami hanya mampu ‘membrontak’ lewat petisi online. Yah semoga saja ada peninjauan ulang akan kebijakan ini. Biar kami para penulis tak kehilangan wadah untuk mengeksploitasi kreatifitas kami.

#SalamLiterasi

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya